Istanbul (ANTARA) - Perdana Menteri Greenland Jens-Frederik Nielsen tidak akan menghadiri pembukaan konsulat baru Amerika Serikat di Nuuk, ibu kota negara itu, di tengah ketegangan hubungan dengan Washington.
Kepada surat kabar Sermitsiaq, Kamis (21/5), Nielsen mengatakan telah memutuskan untuk tidak menghadiri upacara peresmian gedung baru konsulat di Nuuk.
"Kami belum membuat keputusan secara prinsip, tetapi saya tidak akan berpartisipasi," kata Nielsen.
Dia tidak dapat memastikan apakah anggota lain pemerintahannya akan hadir.
Baca juga: Trump ingin hak veto atas investasi Rusia dan China di Greenland
Konsulat AS telah mengundang para pejabat dan tamu untuk menghadiri resepsi yang menandai pembukaan konsulat baru tersebut. Namun, menurut Sermitsiaq, banyak undangan menolak hadir karena iklim politik di negara itu saat ini.
Ketegangan antara Greenland dan Washington masih tinggi setelah Presiden AS Donald Trump berulang kali menyatakan minatnya untuk mendapatkan kepemilikan atau kendali atas Greenland, wilayah semi-otonom Denmark yang kaya akan sumber daya alam dan berlokasi strategis di Arktik.
Pada Senin (18/5), anggota parlemen Greenland, Naaja H. Nathanielsen, juga mengumumkan menolak undangan untuk menghadiri acara-acara dari konsulat AS.
"Saya telah menjelaskannya, dengan mengatakan bahwa situasi antara negara kami saat ini sulit," kata Nathanielsen di platform media sosial Facebook.
Sumber: Anadolu
Baca juga: Pertemuan Greenland-AS konstruktif, tapi tanpa terobosan
Baca juga: PM Greenland khawatir jadi target AS berikutnya setelah Venezuela
Kepada surat kabar Sermitsiaq, Kamis (21/5), Nielsen mengatakan telah memutuskan untuk tidak menghadiri upacara peresmian gedung baru konsulat di Nuuk.
"Kami belum membuat keputusan secara prinsip, tetapi saya tidak akan berpartisipasi," kata Nielsen.
Dia tidak dapat memastikan apakah anggota lain pemerintahannya akan hadir.
Baca juga: Trump ingin hak veto atas investasi Rusia dan China di Greenland
Konsulat AS telah mengundang para pejabat dan tamu untuk menghadiri resepsi yang menandai pembukaan konsulat baru tersebut. Namun, menurut Sermitsiaq, banyak undangan menolak hadir karena iklim politik di negara itu saat ini.
Ketegangan antara Greenland dan Washington masih tinggi setelah Presiden AS Donald Trump berulang kali menyatakan minatnya untuk mendapatkan kepemilikan atau kendali atas Greenland, wilayah semi-otonom Denmark yang kaya akan sumber daya alam dan berlokasi strategis di Arktik.
Pada Senin (18/5), anggota parlemen Greenland, Naaja H. Nathanielsen, juga mengumumkan menolak undangan untuk menghadiri acara-acara dari konsulat AS.
"Saya telah menjelaskannya, dengan mengatakan bahwa situasi antara negara kami saat ini sulit," kata Nathanielsen di platform media sosial Facebook.
Sumber: Anadolu
Baca juga: Pertemuan Greenland-AS konstruktif, tapi tanpa terobosan
Baca juga: PM Greenland khawatir jadi target AS berikutnya setelah Venezuela





