JAKARTA, DISWAY.ID - Kegiatan diskusi memperingati 28 tahun Reformasi 1998 yang rencananya digelar di salah satu gedung University Training Center (UTC) Universitas Negeri Jakarta atau Hotel Naraya, Rawamangun, Jakarta Timur, mendadak dibatalkan secara sepihak pada Kamis 21 Mei 2026.
Pembatalan acara tersebut dikonfirmasi langsung oleh Akademisi Sosiologi Politik UNJ, Ubedilah Badrun. Ia menyebut panitia menerima surat pembatalan dari pihak manajemen hotel beberapa jam sebelum kegiatan berlangsung.
“Iya benar, kami mendapatkan surat pembatalan sepihak dari General Manager Naraya,” ujar Ubedilah saat dikonfirmasi, Kamis 21 Mei 2026.
Diskusi bertema refleksi Reformasi 1998 itu sejatinya dihadiri sejumlah akademisi, aktivis, dan tokoh nasional.
Beberapa nama yang dijadwalkan hadir antara lain Abraham Samad, Prof Sukidi, Prof Otib Satibi, Prof Anthony Budiawan, Dipo Sayria Ramli, Kusfisrdi, AW Kamal, hingga para pimpinan organisasi mahasiswa.
BACA JUGA:Jimly Asshiddiqie: Prabowo Subianto Minta Reformasi Menyeluruh Lembaga Penegak Hukum, Tak Hanya Polri
Selain itu, Ketua BEM UNJ Ardiansyah, Ketua BEM Universitas Brawijaya Azhar Zidan, Koordinator Pusat BEM SI Muzammil, aktivis mahasiswa dari Bandung dan Jakarta, serta ratusan mahasiswa juga disebut akan menghadiri kegiatan tersebut.
Menurut Ubedilah, surat pembatalan yang diterima panitia tidak menjelaskan alasan spesifik terkait keputusan tersebut. Dalam surat hanya tertulis pembatalan dilakukan karena “alasan satu dan lain hal”.
Namun, sebelum surat resmi diterbitkan, pihak hotel disebut sempat menyampaikan informasi melalui sambungan telepon bahwa terdapat pihak lain yang menghubungi atau memanggil pimpinan Naraya agar acara tersebut dibatalkan.
“Pihak Naraya menyampaikan bahwa ada pihak lain yang menghubungi dan atau memanggil pimpinan Naraya agar membatalkan acara tersebut tanpa menyebutkan siapa pihak lain yang dimaksud,” kata Ubedilah.
Panitia acara pun mempertanyakan adanya intervensi terhadap pelaksanaan diskusi peringatan Reformasi tersebut. Mereka menilai pembatalan mendadak itu menjadi tanda kemunduran demokrasi di Indonesia.
BACA JUGA:Guru Besar Jayabaya Dorong Reformasi Hukum Kepailitan, Utamakan Perdamaian Demi Stabilitas Ekonomi
“Kami menyesalkan peristiwa ini terjadi dan kami mempertanyakan siapa pihak yang meminta Naraya membatalkan acara Peringatan 28 Tahun Reformasi tersebut?” ujar panitia kegiatan di lokasi acara.
Panitia yang juga merupakan Aktivis 98 Jakarta menegaskan bahwa peristiwa tersebut dapat dimaknai sebagai bentuk pembungkaman ruang diskusi publik.
“Tentu ini tanda pembungkaman dan semakin merusak demokrasi di Indonesia,” tegas panitia.
- 1
- 2
- »





