Unik! Jepang Uji Terapi Pakai Anime untuk Bantu Penderita Depresi

cnbcindonesia.com
4 jam lalu
Cover Berita
Foto: Bendera Jepang. (Dok. Freepik)

Jakarta, CNBC Indonesia - Jepang sedang menguji metode terapi unik untuk membantu orang dengan depresi, yakni menggunakan karakter anime sebagai media konseling psikologis. Penelitian ini dilakukan di tengah masih tingginya stigma kesehatan mental di Negeri Sakura.

Metode tersebut dikembangkan oleh psikiater asal Italia, Francesco Panto, yang kini tinggal di Jepang. Ia percaya anime dapat menjadi "jembatan emosional" bagi orang-orang yang kesulitan membuka diri atau mencari bantuan terkait kesehatan mental.


Baca: Studi Ungkap 7 Cara Mengenali Psikopat dari Tatapan Matanya

"Penggunaan manga dan anime sangat membantu saya. Itu menjadi alat dukungan emosional yang penting," kata Panto dikutip dari AFP, dikutip Jumat (22/5/2026).

Panto mengaku mulai dekat dengan anime dan gim Jepang sejak remaja saat tumbuh di Sisilia, Italia. Saat itu ia merasa sulit menyesuaikan diri dengan lingkungan sosial di sekitarnya. Ia bilang, karakter dalam gim seperti "Final Fantasy" memberinya gambaran sosok laki-laki yang ingin ia tiru.

"Mereka terlihat maskulin dan keren, tetapi dengan cara mereka sendiri," ujarnya.

Penelitian percontohan selama enam bulan itu dilakukan di Yokohama City University dan berakhir pada Maret lalu. Studi tersebut melibatkan 20 peserta berusia 18 hingga 29 tahun yang mengalami gejala depresi.

Dalam sesi konseling online, psikolog tampil menggunakan avatar anime dengan suara yang telah dimodifikasi secara digital. Panto menyebut konsep ini sebagai "filter fantasi" yang diyakini dapat membuat pasien lebih nyaman membicarakan masalah mereka.

Untuk penelitian tersebut, tim membuat enam karakter anime berbeda dengan kepribadian dan latar psikologis masing-masing. Mulai dari figur perempuan dengan "energi keibuan" hingga karakter pria bergaya pangeran yang emosional dan penuh empati.

Beberapa karakter digambarkan memiliki masalah seperti gangguan bipolar, trauma pasca kejadian buruk, gangguan kecemasan, hingga masalah alkohol. Namun, Panto menegaskan karakter tersebut tetap dibuat menarik dan menyenangkan agar tidak terasa seperti terapi formal yang berat.

Salah satu peserta berusia 24 tahun mengaku tertarik ikut penelitian setelah membaca deskripsi karakter yang sedang mencari kekuatan sejati.

"Itu membuat saya merasa mungkin saya juga bisa menemukan jawaban untuk masalah saya sendiri," ujarnya.

Penelitian tahap awal ini juga memantau detak jantung dan pola tidur peserta untuk melihat apakah terapi berbasis anime benar-benar efektif mengurangi gejala depresi. Panto bahkan sedang mempertimbangkan penggunaan kecerdasan buatan (AI) agar terapi semacam ini nantinya bisa dilakukan tanpa psikolog manusia secara langsung.

Asisten profesor Yokohama City University, Mio Ishii, mengatakan, proyek ini muncul karena banyak anak muda Jepang mengalami "ikizurasa," istilah untuk kondisi ketika seseorang merasa sulit menjalani hidup di masyarakat.

"Ada banyak anak muda yang tidak bisa pergi sekolah atau melanjutkan pekerjaan. Kami ingin memberi mereka pilihan baru untuk pulih dari kesulitan mereka," kata Ishii.

Ia menambahkan, stigma mencari bantuan kesehatan mental di Jepang masih sangat tinggi. Data yang dikutip World Economic Forum menunjukkan hanya 6% warga Jepang yang pernah menggunakan layanan konseling psikologis pada 2022. Angka ini jauh lebih rendah dibandingkan Eropa maupun Amerika Serikat.

Pakar terapi keluarga dari University of Seville, Jesus Maya, yang tidak terlibat dalam penelitian tersebut, menilai penggunaan anime dalam terapi bisa sangat membantu.

"Anime dapat mempermudah seseorang mengekspresikan emosi serta membantu komunikasi antara pasien dan terapis," katanya.

Peserta penelitian berusia 24 tahun itu juga mengaku anime memberinya semangat hidup.

"Melihat karakter yang penuh semangat mengejar mimpi mereka membuat saya punya keinginan untuk tetap hidup," ujarnya yang menyukai anime saat ini "The End of Eveangelion" dan "Girls Band Cry."


(miq/miq) Add as a preferred
source on Google
Saksikan video di bawah ini:
Video: Candi Hindu di Tengah Universitas Islam, Simbol Toleransi

Artikel Asli

Lanjut baca:

thumb
Saham CPO Bergerak Variatif, AALI dan TAPG Menguat Saat Pasar Masih Risk-Off
• 4 jam lalubisnis.com
thumb
Di Tengah Perjuangan Lolos Degradasi, Persis Solo Diterpa Isu Eksodus Pemain: Ada yang ke Persija, Persib dan Persebaya
• 19 jam laluharianfajar
thumb
Polda Metro Periksa Model AWS yang Diduga Jadi Korban Begal
• 16 jam lalumetrotvnews.com
thumb
9 WNI Relawan Gaza Sudah Tiba di Istanbul Turki Sebelum Pulang ke Indonesia
• 10 jam lalutvonenews.com
thumb
Whoosh Tambah Jadwal Malam hingga 22.25 WIB saat Long Weekend Idul Adha
• 4 jam lalukompas.com
Berhasil disimpan.