Domba putih berbulu tebal seberat 150 kilogram itu berdiri tegap di tengah arena kontes di Lapangan Tarubudaya, Ungaran, Kabupaten Semarang, Jawa Tengah, Jumat (22/5/2026). Pejantan unggulan dari galur murni domba Garut tersebut kembali keluar sebagai jawara setelah mengalahkan peserta dari beberapa daerah.
Pagi itu, Adit beberapa kali mengelus kepala domba kesayangannya. Peternak muda asal Candirejo, Temanggung, Jateng, tersebut tampak tenang menunggu hasil penilaian juri. Baginya, kemenangan kali ini menjadi pencapaian penting karena domba tersebut sudah lima kali memenangi kontes serupa.
Pada kontes yang diselenggarakan Dinas Pertanian Provinsi Jawa Tengah itu, Adit datang bersama timnya dengan membawa beberapa ekor domba unggulan. Sebagian besar memang dipersiapkan khusus untuk kontes sekaligus menjadi bibit ternak. ”Domba ini memang diternak sebagai bibit unggul untuk ikut kontes,” ujarnya.
Menurut dia, setiap daerah memiliki karakter penilaian berbeda. Selain bobot tubuh, juri biasanya menilai postur, ketebalan bulu, bentuk tanduk, hingga karakter wajah yang dianggap unik dan proporsional.
Bagi peternak, kemenangan dalam kontes bukan sekadar soal gengsi. Gelar juara akan mendongkrak harga jual ternak sekaligus meningkatkan pamor peternak sebagai penyedia bibit unggulan. Tidak sedikit peternak dari daerah lain datang berburu pejantan terbaik untuk dikembangkan kembali.
Harga seekor domba juara pun dapat melonjak berkali-kali lipat. Beberapa domba yang telah memenangi kontes bahkan bisa dihargai Rp 100 juta hingga Rp 200 juta per ekor, terutama jika memiliki riwayat kemenangan dan garis keturunan unggul.
Fenomena kontes ternak dalam beberapa tahun terakhir turut memunculkan gairah baru di kalangan peternak domba di Jawa Tengah. Sejumlah daerah, seperti Temanggung, Wonosobo, Banjarnegara, dan Purworejo, dikenal sebagai sentra penghasil domba dan kambing unggulan.
Berdasarkan data Direktorat Jenderal Peternakan dan Kesehatan Hewan Kementerian Pertanian, populasi domba nasional dalam beberapa tahun terakhir mencapai lebih dari 18 juta ekor. Jawa Tengah menjadi salah satu daerah dengan populasi ternak terbesar setelah Jawa Barat dan Jawa Timur.
Selain untuk kebutuhan konsumsi, sektor peternakan domba juga berkembang sebagai usaha pembibitan, kontes ternak, hingga perdagangan hewan kurban yang nilainya meningkat menjelang Idul Adha. Perputaran ekonomi dari sektor ini dinilai cukup besar karena melibatkan banyak pelaku usaha di desa, mulai dari peternak, penyedia pakan, jasa kesehatan hewan, hingga pedagang ternak.
Jumbo, peternak asal Temanggung yang datang untuk melihat sekaligus mencari bibit unggul, menilai kontes semacam itu memberi dampak positif terhadap semangat peternak. Mereka menjadi lebih serius merawat ternak karena kualitas hewan akan menentukan nilai jual.
”Ketika ada kontes, mereka akan lebih serius menyiapkan ternaknya, mulai dari perawatan, kebersihan kandang, sampai kesehatan hewan,” katanya.
Bagi sebagian peternak, domba-domba juara itu bukan lagi sekadar hewan ternak. Mereka menjadi simbol prestise sekaligus investasi yang nilainya terus tumbuh dari kandang-kandang desa.





