Jakartq, VIVA – Pemanfaatan platform digital semakin meluas sebagai sarana masyarakat untuk mendapatkan penghasilan dari rumah. Aktivitas ekonomi kini tidak hanya berlangsung secara konvensional, tetapi juga melalui kanal digital yang memungkinkan pelaku usaha menjangkau pasar lebih luas dengan modal terbatas.
Perkembangan ini juga berkaitan dengan upaya pemberdayaan pelaku usaha ultra mikro yang masih menghadapi kendala akses pembiayaan dan kepercayaan dalam sistem keuangan formal. Banyak pelaku usaha kecil dinilai belum memiliki aset maupun riwayat keuangan yang memadai untuk memperoleh modal usaha dari lembaga keuangan konvensional.
Banyak perempuan pengusaha ultra mikro menjalani hidup dalam ruang yang sempit. Penghasilan terbatas, usahanya kecil, aset nyaris tidak ada. Mereka hidup dari keuntungan harian yang kadang hanya cukup untuk membeli bahan makanan.
Namun di tengah keterbatasan itu, mereka tetap bangun paling pagi dan istirahat paling akhir demi menjaga dapur tetap menyala. Ironisnya, kelompok yang bekerja paling keras ini justru sering menjadi kelompok yang paling sulit mendapatkan kepercayaan.
Dalam sistem keuangan formal, kepercayaan kerap diterjemahkan dalam bentuk angka dan jaminan. Untuk mendapatkan akses pembiayaan, seseorang diminta menunjukkan aset, agunan, histori keuangan, hingga kemampuan administrasi yang baik. Sementara bagi usaha ultra mikro, jangankan memiliki jaminan, banyak dari mereka bahkan masih berjuang memenuhi kebutuhan hidup sehari-hari.
Di titik ini, keterbatasan akses sering membuat pelaku usaha kecil tertahan untuk berkembang meskipun memiliki potensi usaha yang berjalan. Hal tersebut dialami Sri Aryanti Nurafiah, nasabah Permodalan Nasional Madani Mekaar Cikarang Barat, yang memulai usaha kriya dari rumah untuk menambah pendapatan keluarga.
“Kalau hanya mengandalkan gaji suami, saya rasa kurang cukup. Saya ingin membuka usaha kriya-kriya, tapi dengan keterbatasan modal saya bimbang,” ujarnya, sebagaimana dikutip dari siaran pers, Jumat, 22 Mei 2026.
Pada 2022, Permodalan Nasional Madani menyalurkan pembiayaan usaha kepada Yanti. Dana tersebut digunakan untuk membeli bahan baku dan mengembangkan usaha gantungan kunci yang ia jalankan dari rumah.
Setelah mendapatkan pembiayaan, usaha yang dijalankan Yanti mulai berkembang secara bertahap. Ia kemudian memperluas kegiatan usaha dan membuka lapak penjualan yang lebih besar dari sebelumnya.





