Istanbul: Para aktivis dari armada kemanusiaan Global Sumud Flotilla yang sempat ditahan oleh militer Israel di perairan internasional mengatakan bahwa kekerasan dan perlakuan buruk yang mereka alami belum sebanding dengan penderitaan panjang rakyat Palestina.
Setibanya di Bandara Istanbul menggunakan tiga penerbangan maskapai Turkish Airlines setelah dideportasi, para aktivis membagikan pengalaman pahit mereka selama masa penahanan kepada kantor berita Anadolu.
Aktivis asal Kanada, Ehab Lotayef, menceritakan kronologi penyerangan yang dialaminya sembari menunjukkan tangannya yang dibalut perban. Lotayef menjelaskan bahwa insiden bermula saat seorang tentara Israel meminta bantuannya untuk menerjemahkan percakapan, namun tentara lain merasa tidak senang ketika melihat dirinya membantu sesama tahanan.
“Namun, seorang tentara Israel tidak suka saya memberikan air kepada orang-orang. Jadi dia datang dan menusuk tangan saya,” ujar Lotayef, seperti dikutip Anadolu, pada Jumat, 22 Mei 2026.
Ia mengaku kini kehilangan sensasi rasa pada tangan yang terluka tersebut. Lotayef menambahkan bahwa para aktivis menjadi sasaran kekerasan yang parah, bahkan beberapa di antaranya sampai mengalami cedera patah tulang rusuk.
“Kami dipukuli dengan sangat, sangat parah. Itu bukan pemukulan untuk membela diri. Itu adalah pemukulan sebagai hukuman. Mereka menghukum kami,” kenang Lotayef.
Aktivis Kanada lainnya, Michael France asal Vancouver, mengatakan bahwa dirinya bergabung dalam misi ini murni sebagai bagian dari upaya menyalurkan bantuan kemanusiaan ke Jalur Gaza.
France menceritakan bahwa ia disekap bersama sekitar 160 orang di dalam kontainer pengiriman di atas salah satu dari dua kapal kargo yang dialihfungsikan menjadi kapal penjara terapung oleh militer Israel.
“Kami berada di kapal penjara yang baru dikembangkan ini. Ada dua kapal, dan 160 orang berada di kapal saya. Kami tidur di dalam tiga kontainer pengiriman dengan lantai besi tanpa alas,” kata France.
France mengungkapkan bahwa pasukan Israel menggunakan alat kejut listrik dan granat kejut untuk mengintimidasi para tahanan selama penahanan.
“Kami disambut dengan alat kejut listrik. Kami juga mendengar ledakan granat kejut setiap dua atau tiga jam sepanjang malam untuk mengejutkan kami hingga terbangun,” tutur France.
Sejumlah luka di wajah dan kepalanya diakibatkan oleh pemukulan berulang kali, ditambah tindakan tentara Israel yang menginjak kaki telanjangnya dengan sepatu laras militer.
“Sering kali kepala saya dipukul hingga tersungkur ke tanah. Mengenai jari-jari kaki saya, saya tidak memakai sepatu, dan orang-orang menginjaknya dengan kaki militer mereka,” ungkap France.
Ia juga mengalami memar di kedua lututnya yang pernah dioperasi, serta luka di sekujur tubuh akibat dihempaskan secara kasar. Kendati demikian, France menegaskan perlakuan kejam yang mereka terima tidak ada apa-apanya jika dibandingkan dengan penderitaan yang harus dihadapi oleh warga Palestina setiap hari.
“Penting juga untuk mengatakan bahwa perlakuan yang kami terima tidak sebanding dengan apa yang dialami rakyat Palestina. Itulah mengapa kami di sini, untuk mencoba melakukan sesuatu terhadap krisis kemanusiaan ini,” tegas France.
Ia mendesak perhatian internasional untuk tetap fokus pada isu Palestina dan menegaskan bahwa mereka bukanlah pahlawan, melainkan hanya manusia yang mencoba melakukan aksi kemanusiaan di tengah krisis.
“Ya, kami akan membicarakan luka-luka kami, tetapi hanya dalam konteks bahwa Palestina adalah hal yang paling penting,” tambah France.
Sementara itu, Hahona Ormsby, seorang aktivis suku Maori dari Selandia Baru, menceritakan bahwa mereka ditangkap dalam penggerebekan kapal oleh militer Israel sebelum akhirnya dipindahkan ke kapal penjara. Ormsby mengaku terus mengalami tindakan kekerasan fisik hingga armada tersebut tiba di Pelabuhan Ashdod, lokasi tempat mereka kemudian ditahan.
Ia melaporkan telah ditendang pada bagian intim, diikat di kursi, dipukul, serta diancam oleh seorang tentara Israel selama proses penahanan berjalan. Ormsby menilai dirinya tetap dianiaya meskipun memilih bungkam, dan menduga penampilan fisik serta tato adat khas negaranya menjadi pemicu kebencian tentara tersebut.
“Karena misi ini, karena penampilan adat saya. Tato saya adalah tato adat dari negara saya, dan dia tidak menyukainya,” kata Ormsby. Ormsby mengonfirmasi cedera pada tangan dan bibirnya terjadi setelah dirinya dihantamkan secara keras ke dinding pembatas.
“Mulai dari membenturkan saya ke dinding hingga membuat saya pingsan,” cetus Ormsby.
Meskipun masih merasakan sakit di sekujur tubuhnya, Ormsby berulang kali menggarisbawahi bahwa rasa sakitnya tidak sebanding dengan penderitaan warga Palestina di Gaza yang menghadapi situasi jauh lebih mengerikan.
“Sejak tadi malam dan hari ini rasanya masih sakit, tetapi tidak sebanding dengan rasa sakit yang dialami warga Palestina di Gaza. Jadi rasa sakit saya sangat kecil dibandingkan dengan mereka,” ujar Ormsby.
Ormsby turut menyerukan kepada pemerintah di seluruh dunia untuk segera mengambil tindakan nyata dan tegas demi melindungi hak-hak warga Palestina.
“Pemerintah harus bertindak dan benar-benar membela hak-hak pribumi Palestina. Mereka harus melawan genosida yang sedang dilakukan Israel,” pungkas Ormsby.
(Kelvin Yurcel)




