jpnn.com, JAKARTA - Anggota Komisi XII DPR RI dari Fraksi Partai Golkar Alfons Manibui mengapresiasi capaian penerimaan negara bukan pajak (PNBP) sektor energi yang telah mencapai sekitar 40 persen dari target APBN 2026 pada kuartal pertama tahun ini.
Menurutnya, capaian tersebut menunjukkan sektor energi dan sumber daya mineral masih menjadi salah satu penopang utama ketahanan fiskal nasional di tengah dinamika ekonomi global.
BACA JUGA: Awasi Penyelenggaraan Ibadah Haji 2026, Nurdin Halid DPR Singgung Kementerian Baru dan Standar Baru
Alfons menilai kontribusi sektor migas dan minerba terhadap penerimaan negara menjadi sinyal positif bahwa sektor energi nasional masih memiliki daya tahan dan prospek yang kuat.
Da juga mengapresiasi langkah Kementerian ESDM yang terus mendorong penguatan tata kelola sektor energi dan sumber daya mineral agar penerimaan negara dapat semakin optimal.
BACA JUGA: Formappi: Baleg DPR Tidak Dapat Intervensi Proses Penegakan Hukum Chromebook
“Capaian ini patut diapresiasi karena menunjukkan sektor energi masih menjadi tulang punggung penerimaan negara. Kami juga mendukung langkah Kementerian ESDM dalam memperkuat tata kelola sektor energi agar pengelolaan sumber daya alam semakin efektif, transparan, dan memberi nilai tambah bagi negara maupun masyarakat,” ujar Alfons.
Menurutnya, momentum positif tersebut perlu dimanfaatkan untuk mempercepat hilirisasi industri nasional dan memperkuat ketahanan energi nasional.
BACA JUGA: BKSAP DPR RI Kecam Intersepsi Israel Terhadap Misi Kemanusiaan Global Sumud Flotilla
Da menilai hilirisasi menjadi kunci agar Indonesia tidak hanya bergantung pada ekspor bahan mentah, tetapi juga memperoleh manfaat ekonomi yang lebih besar dari sumber daya alam yang dimiliki.
Alfons menegaskan percepatan pembangunan dan operasional proyek-proyek smelter nasional, termasuk sembilan perusahaan smelter yang saat ini menjadi perhatian pemerintah, perlu terus dikawal agar dapat segera memberikan kontribusi nyata terhadap peningkatan nilai tambah, penyerapan tenaga kerja, dan penerimaan negara.
Menurutnya, hilirisasi harus menjadi strategi jangka panjang untuk memperkuat struktur industri nasional dan meningkatkan daya saing Indonesia di pasar global.
Alfons juga menekankan pentingnya menjaga keseimbangan antara optimalisasi penerimaan negara, kepastian investasi, dan keberlanjutan lingkungan. Menurutnya, stabilitas kebijakan dan iklim investasi yang sehat akan sangat menentukan keberlanjutan kontribusi sektor energi terhadap APBN.
Dia berharap Kementerian ESDM bersama seluruh pemangku kepentingan dapat terus menjaga produksi dan lifting migas nasional di tengah tantangan geopolitik global dan fluktuasi harga energi dunia.
Selain itu, berbagai proyek strategis hilirisasi dan energi nasional juga diharapkan dapat berjalan tepat waktu untuk mendukung pertumbuhan ekonomi dan penciptaan lapangan kerja.
“Ke depan, sektor energi harus semakin kuat bukan hanya sebagai sumber penerimaan negara, tetapi juga sebagai penggerak pemerataan pembangunan dan kesejahteraan masyarakat, termasuk bagi daerah-daerah penghasil sumber daya alam,” ujar legislator asal daerah pemilihan Papua Barat itu.(fri/jpnn)
Redaktur & Reporter : Friederich Batari




