KOMPAS.com - Arsenal akhirnya kembali menjadi juara Liga Inggris musim 2025/2026 setelah penantian selama 22 tahun.
Bagi para pendukung The Gunners, gelar ini bukan sekadar trofi, melainkan pelampiasan emosi setelah bertahun-tahun menjadi bahan ejekan rival.
“Kalau saat-saat ini mah biasa lah ‘ngejagain pialanya City’. Kalau dulu (diejek) KST (klub sangat tangguh) atau meriam lontong gitu kan. Kalau akhir-akhir ini sering dibilang haram ball, corner FC,” ujar Hilmi (24), seorang Gooners, saat diwawancarai Kompas.com, Jumat (22/5/2026).
Hilmi mengaku sudah menyukai Arsenal sejak kecil, terutama ketika Robin van Persie dan Cesc Fabregas masih memperkuat klub asal London Utara tersebut.
Namun berbeda dengan ayahnya yang sempat menikmati era “Invincible” musim 2003-2004, Hilmi justru tumbuh ketika Arsenal lebih sering gagal bersaing memperebutkan gelar.
“Pah, Arsenal juara,” kata Hilmi menirukan ucapannya kepada sang ayah sesaat setelah Arsenal memastikan titel Liga Inggris musim ini.
Menurut dia, sang ayah memang sudah lama menyukai Arsenal. Bahkan, ayahnya memiliki kaset dokumenter Arsenal era Invincible.
“Bokap gua sebenarnya suka Arsenal. Waktu Arsenal Invincible dia punya kaset dokumentasinya,” ujar Hilmi.
Namun, masa remaja Hilmi justru diwarnai berbagai kekecewaan. Arsenal kerap finis di empat besar tanpa mampu meraih gelar liga. Ia bahkan masih mengingat saat menangis karena Arsenal kalah telak dari Liverpool.
“Abang gua kan fans Liverpool, diledek-ledekin, nangis gua di situ,” kata dia.
Baca juga: Pah, Arsenal Juara, Luapan Kebahagian Fans Rayakan Arsenal Akhiri Puasa Gelar Liga Inggris
Dari “Membadut” hingga Akhirnya JuaraSetelah bertahun-tahun menjadi sasaran olok-olok, Hilmi mengaku sangat emosional ketika Arsenal akhirnya kembali mengangkat trofi Liga Inggris.
“Senang banget, gua lompat-lompat sendiri coy. Terharu akhirnya bisa juara. Karena udah sekian lamanya membadut dan piala yang major, ini berasa banget kayak buka puasa setelah 22 tahun,” ungkapnya.
Cerita serupa juga datang dari Rico (23). Ia mulai menyukai Arsenal sejak SD karena sering memainkan klub tersebut di gim PlayStation. Namun, ia baru mengikuti Arsenal secara serius ketika SMA, tepat saat performa klub sedang terpuruk.
“Waktu SMA apalagi kan masa-masa itu Arsenal bapuk sebapuk-bapuknya bapuk ya,” ujar Rico saat ditelepon Kompas.com, Jumat.
Rico mengaku sudah terbiasa menerima ejekan dari teman maupun keluarga karena Arsenal terus gagal bersaing. Meski begitu, ia tetap bertahan mendukung klub tersebut.





