KOMPAS.com – Teror pocong yang baru-baru ini meresahkan warga Ciputat, Tangerang Selatan, bukan isu mistis pertama yang muncul di masyarakat. Teror-teror serupa sudah berulang kali terjadi.
Ironisnya, meski berulang kali terbukti tidak benar, masyarakat tetap mudah percaya terhadap isu semacam itu.
Sosiolog Rakhmat Hidayat menilai masyarakat saat ini cenderung lebih cepat bereaksi terhadap informasi yang memicu emosi dibanding melakukan verifikasi fakta.
“Di era digital, masyarakat cenderung lebih cepat bereaksi daripada melakukan verifikasi,” kata Rakhmat saat dihubungi Kompas.com melalui WhatsApp, Jumat (22/5/2026).
Menurut dia, rumor mengenai pocong maupun teror mistis lainnya sering berkembang bukan karena fakta yang jelas, melainkan karena diperkuat secara bersama-sama lewat media sosial dan percakapan publik.
Baca juga: Mengapa Teror Pocong Tak Pernah Hilang di Masyarakat?
Rumor Disebut Bekerja Lewat EmosiRakhmat menjelaskan, ketakutan sosial sering kali lahir dari rumor yang terus dibicarakan, direkam, dan disebarkan hingga akhirnya dianggap sebagai kebenaran.
Dalam sosiologi, kondisi itu disebut sebagai “social amplification”, yakni proses ketika informasi kecil atau belum jelas membesar karena terus diperkuat oleh masyarakat.
“Sebuah informasi yang sebenarnya kecil atau belum jelas tetapi membesar karena terus dibicarakan, direkam, dibagikan di media sosial, dan ditambah-tambahi oleh masyarakat,” ujar dia.
Menurut Rakhmat, rumor lebih mudah dipercaya karena bekerja melalui emosi, bukan logika.
“Nah dari sudut sosiologi masyarakat sering tertipu karena rumor bekerja melalui emosi, bukan logika,” kata dia.
Ia mencontohkan suasana malam yang sepi, ditambah pesan berantai WhatsApp maupun video bernuansa menyeramkan, membuat masyarakat lebih mudah mengalami kepanikan moral.
“Dalam kondisi seperti itu orang cenderung mengikuti reaksi kelompok dibanding memeriksa fakta secara rasional,” lanjut dia.
Baca juga: Warga Diminta Lapor Jika Lihat Pocong Bergolok di Tangsel, Jangan Sebar Hoaks
Media Sosial Dinilai Percepat KepanikanRakhmat menilai media sosial turut mempercepat penyebaran ketakutan di masyarakat.
Menurut dia, video pendek dengan suasana gelap, teriakan warga, atau narasi menakutkan lebih mudah viral karena memancing respons emosional pengguna media sosial.
“Video pendek yang menampilkan suasana gelap, teriakan warga atau narasi menakutkan itu lebih mudah viral karena memicu emosi,” ujar dia.





