Tak sekadar hadir pada kegiatan Indonesia Guarantee Summit 2026, Direktur Utama PT Penjaminan Jamkrindo Syariah juga berpartisipasi aktif sebagai penanggap pada FGD Strategis Industri Penjaminan yang diselenggarakan di Hotel Aryaduta Menteng, Jakarta, pada Kamis (21/5).
Mengusung tema “Pemurnian Industri Penjaminan Sebagai Fondasi Penguatan Akses Pembiayaan dan Stabilitas Sistem Keuangan”, kegiatan ini menjadi forum strategis yang mempertemukan regulator, pelaku industri penjaminan, akademisi, serta mitra kerja dalam membahas arah penguatan industri penjaminan nasional di tengah dinamika ekonomi dan tantangan sektor jasa keuangan.
Acara tersebut dihadiri oleh sejumlah pejabat penting, di antaranya Ogi Prastomiyono selaku Anggota Dewan Komisioner OJK, Iwan Pasila selaku Deputi Komisioner Pengawas PPDP OJK, Ferry Irawan selaku Deputi Bidang Koordinasi Pengelolaan dan Pengembangan Usaha BUMN, Achmad Ivan Sutrisna Soeparno selaku Ketua Asippindo sekaligus Direktur Manajemen SDM, Umum, dan Manajemen Risiko PT Jamkrindo, seluruh pejabat anggota Asosiasi Perusahaan Penjaminan Indonesia (ASIPPINDO), serta para akademisi dari Universitas Indonesia.
Sementara itu, dari PT Jamkrindo Syariah hadir Edy Utomo selaku Komisaris Independen, Alie Basya Syamsudin selaku Komisaris, Hari Purnomo selaku Direktur Utama, Loesdarwanto selaku Direktur Operasional & Plt. Direktur Keuangan, SDM dan Umum, OK Ahmad Fauzi selaku SEVP Bisnis, serta beberapa Kepala Divisi.
Pada sesi Focus Group Discussion (FGD), Direktur Utama PT Jamkrindo Syariah, Hari Purnomo, didapuk menjadi penanggap (discussant) pertama yang membahas materi bertajuk “Optimalisasi Usaha Pemurnian Industri Penjaminan, Peluang dan Kendala Dilihat dari Sisi Regulator” yang disampaikan oleh Didy Handoko, Deputy Direktur Madya Departemen Pengaturan dan Pengembangan Perasuransian, Penjaminan, dan Dana Pensiun OJK.
Dalam tanggapannya, Hari Purnomo menyampaikan beberapa poin strategis yang menjadi perhatian industri penjaminan saat ini. Pertama, industri penjaminan berharap adanya risk mapping di setiap daerah berbasis Non Performing Financing (NPF) perbankan maupun rasio klaim industri penjaminan sebagai salah satu tools bargain kepada mitra penerima jaminan dalam menentukan strategi bisnis dan mitigasi risiko.
Kedua, beliau menyampaikan bahwa tarif eksisting industri penjaminan saat ini masih berada di bawah tingkat default rate secara keseluruhan. Oleh karena itu, industri berharap adanya solusi dan perhatian regulator terhadap kondisi tersebut agar keberlangsungan industri penjaminan tetap sehat dan berkelanjutan.
Ketiga, Jamkrindo Syariah juga berharap adanya equal treatment antara regulasi industri asuransi dan penjaminan sehingga tidak terjadi ketimpangan pasar dalam pelaksanaan bisnis penjaminan di Indonesia.
Di forum tersebut, Hari Purnomo juaga menyampaikan bahwa pemangku kepentingan diharapkan dapat memperkuat kolaborasi dalam memurnikan fungsi industri penjaminan sebagai instrumen mitigasi risiko pembiayaan yang sehat, akuntabel, dan berkelanjutan. Pemurnian industri penjaminan juga dinilai menjadi langkah penting dalam memperluas akses pembiayaan kepada pelaku usaha sekaligus menjaga stabilitas sistem keuangan nasional.
Hari Purnomo juga berharap ASIPPINDO (Asosiasi Perusahaan Penjaminan Indonesia) dapat terus menjadi wadah strategis bagi seluruh pelaku industri penjaminan untuk memperkuat sinergi, mendorong penguatan regulasi, serta menciptakan ekosistem industri penjaminan yang semakin sehat, kompetitif, dan berdaya saing dalam mendukung pertumbuhan ekonomi nasional.





