Kementerian Pertanian (Kementan) berupaya menjaga ketersediaan bawang merah menjelang Iduladha 1447 Hijriah dengan melakukan pengawasan distribusi dan pasokan guna memastikan kebutuhan masyarakat tetap terpenuhi serta terjaganya kestabilan harga.
“Menghadapi Iduladha, kami memperkuat sinergi bersama champion bawang merah, pemerintah daerah, asosiasi, serta kementerian dan lembaga terkait untuk menjaga stabilitas pasokan dan distribusi,” kata Muhammad Taufiq Ratule Direktur Jenderal Hortikultura Kementan di Jakarta, Kamis (21/5/2026).
Melansir Antara, Taufiq mengatakan, pihaknya telah melakukan pemantauan di sejumlah sentra produksi utama seperti Solok, Brebes, Enrekang, Bima, Nganjuk, Bandung, Kendal, Garut, hingga Probolinggo, yang mana menunjukkan produksi bawang merah nasional masih terkendali meski dihadapkan pada tantangan cuaca ekstrem.
Dari pemantauan tersebut, ia memastikan produksi bawang merah nasional hingga saat ini masih mampu memenuhi kebutuhan dalam negeri.
Produksi nasional rata-rata mencapai sekitar 2 juta ton konde basah atau setara 1,3 juta ton rogol kering panen per tahun, sementara kebutuhan konsumsi nasional berada di kisaran 1,26 juta ton per tahun.
“Produksi bawang merah nasional masih mencukupi, bahkan Indonesia juga terus melakukan ekspor,” ujar Ratule.
Di sisi lain, Muhammad Agung Sunusi Direktur Sayuran dan Tanaman Obat Ditjen Hortikultura Kementan menjelaskan musim tanam Maret–Mei 2026 diwarnai cuaca ekstrem. Di mana kondisi ini memicu serangan organisme pengganggu tanaman (OPT), seperti ulat grayak dan moler, sehingga memengaruhi produktivitas di beberapa sentra produksi.
Meski demikian, distribusi bawang merah dari berbagai daerah seperti Nganjuk, Enrekang, Pati, Brebes, Temanggung, dan Garut masih berjalan lancar.
“Kami terus berkoordinasi dengan dinas pertanian, petani champion, pelaku usaha, dan berbagai pihak terkait agar pasokan tetap aman. Produksi diperkirakan meningkat pada Juni 2026 seiring masuknya masa panen di sejumlah sentra utama,” kata Agung.
Kementan memastikan terus melakukan pemantauan intensif terhadap perkembangan produksi, distribusi, dan harga bawang merah di berbagai daerah guna menjaga ketersediaan pasokan dan stabilitas harga pangan nasional selama periode Hari Besar Keagamaan Nasional (HBKN).
Sementara itu, Kasmidi Petani champion bawang merah asal Enrekang juga menyebut proses produksi dan distribusi di daerahnya masih terjaga. Ia mengaku panennya kini masih berlangsung hingga menjelang Iduladha dengan distribusi rutin ke Kalimantan sebanyak tiga kali dalam sepekan.
Sedangkan Amri Ismail champion bawang merah asal Solok mengatakan, panen raya di daerahnya diperkirakan berlangsung pada pertengahan Juni dan akan memperkuat pasokan untuk wilayah Sumatra.
Lalu dari pihak Dian Alex Chandra Ketua Umum Asosiasi Bawang Merah Indonesia (ABMI), memaparkan bahwa stok bawang merah hingga akhir Mei masih tersedia meski produksi di sejumlah daerah mengalami penurunan sekitar 30–40 persen akibat cuaca ekstrem.
“Harga diperkirakan masih berada di atas harga acuan hingga Iduladha karena meningkatnya permintaan masyarakat. Namun, kondisi diproyeksikan kembali normal seiring masuknya panen dari berbagai sentra produksi,” ujarnya.(ant/mar/iss)




