Bisnis.com, JAKARTA — Emiten perkebunan kelapa sawit, PT Palma Serasih Tbk. (PSGO) menargetkan pertumbuhan produksi dan pendapatan pada 2026 seiring prospek industri sawit yang dinilai masih positif didorong kenaikan konsumsi domestik dan keberlanjutan program biodiesel.
Director & Corporate Secretary PGSO Astrida Niovita Bachtiar PSGO menargetkan produksi crude palm oil (CPO) atau mencapai 181.687 ton pada 2026, meningkat sekitar 30% dibandingkan realisasi 2025. Sementara itu, produksi tandan buah segar (TBS) inti dan plasma diproyeksikan mencapai 579.926 ton atau tumbuh 21% secara tahunan.
Adapun produksi palm kernel atau PK ditargetkan mencapai 28.933 ton, naik 34% dibandingkan posisi aktual tahun sebelumnya.
“Perseroan melihat masih terdapat ruang pertumbuhan produksi yang cukup besar seiring usia tanaman yang masih produktif dan peluang inovasi melalui mekanisasi serta integrasi teknologi,” ujar manajemen dalam paparannya, Jumat (22/5/2026).
Sejalan dengan kenaikan produksi, PSGO membidik penjualan neto sebesar Rp2,99 triliun pada 2026 atau naik 17% dibandingkan 2025.
Namun demikian, perseroan memperkirakan profitabilitas akan menghadapi tekanan. Laba bruto ditargetkan sebesar Rp762 miliar atau turun 8% secara tahunan. Sementara laba usaha diproyeksikan turun 24% menjadi Rp449 miliar dan laba bersih diperkirakan terkoreksi 22% menjadi Rp344 miliar.
Baca Juga
- Palma Serasih (PSGO) Putuskan Bagi Dividen Rp113,2 Miliar
- Emiten CPO Palma Serasih (PSGO) Siapkan Dividen Rp150,8 Miliar
- Palma Serasih (PSGO) Bakal Akuisisi 100% Saham Sabhantara Rawi Sentosa
Manajemen menjelaskan, tekanan laba dipengaruhi sejumlah tantangan operasional dan global yang diperkirakan masih membayangi industri sawit tahun depan.
Dari sisi peluang, PSGO menilai konsumsi minyak sawit masih akan meningkat, terutama didukung keberlanjutan kebijakan biodiesel B40 yang berpotensi meningkat menjadi B50. Selain itu, profil usia tanaman perseroan yang relatif muda dinilai menjadi faktor penopang produktivitas jangka panjang.
Di sisi lain, perseroan juga mencermati sejumlah tantangan operasional seperti perubahan iklim, keterbatasan tenaga kerja, hingga kenaikan harga material.
Adapun tantangan struktural meliputi keterbatasan lahan ekspansi dan perubahan regulasi yang semakin ketat. Sementara secara global, ketidakpastian geopolitik, gangguan rantai pasok, perang tarif, hingga kebijakan keberlanjutan di negara importir minyak sawit turut menjadi perhatian perseroan.
Untuk menghadapi tantangan tersebut, PSGO menyiapkan sejumlah strategi pada 2026. Perseroan akan fokus pada optimalisasi area tanam dan peningkatan yield atau produktivitas TBS per hektare.
Selain itu, manajemen juga menargetkan operational excellence di seluruh rantai operasi dengan kembali pada fundamental agronomi atau back to basic, disertai mekanisasi dan pengendalian biaya.
“Perseroan juga akan terus menjalankan program sustainability, memperkuat tata kelola dan manajemen risiko, melakukan pengembangan SDM secara berkelanjutan, serta mengintegrasikan teknologi baru ke dalam operasional,” paparnya.
Disclaimer: berita ini tidak bertujuan mengajak membeli atau menjual saham. Keputusan investasi sepenuhnya ada di tangan pembaca. Bisnis.com tidak bertanggung jawab terhadap segala kerugian maupun keuntungan yang timbul dari keputusan investasi pembaca.





