Intelijen Paman Sam Bongkar Rusia dan China Diam-Diam Bantu Iran Lawan Amerika

wartaekonomi.co.id
9 jam lalu
Cover Berita
Warta Ekonomi, Jakarta -

Amerika Serikat dikabarkan mulai khawatir setelah laporan intelijen mengungkap Rusia dan China diam-diam membantu Iran memulihkan kekuatan militernya pascaserangan AS dan Israel. Situasi itu memicu kekhawatiran baru soal potensi perang besar di kawasan Timur Tengah.

Laporan intelijen AS menyebut Iran mampu memulihkan kemampuan militernya jauh lebih cepat dari perkiraan. Bahkan, Teheran disebut sudah kembali memproduksi drone dalam waktu singkat setelah fasilitasnya dihantam serangan.

“Pihak Iran telah melampaui semua tenggat waktu yang ditetapkan oleh komunitas intelijen untuk rekonstitusi,” kata salah satu pejabat AS dalam laporan tersebut.

Menurut laporan itu, Rusia dan China tidak turun langsung mengirim pasukan tempur ke Iran. Namun kedua negara disebut memberi dukungan penting lewat jalur teknologi, intelijen, hingga bantuan peralatan militer.

Rusia diduga membantu Iran melalui pembagian data intelijen dan citra satelit terkait pergerakan militer AS di kawasan Timur Tengah. Dukungan tersebut dinilai memperkuat kemampuan Iran membaca potensi ancaman dan mempersiapkan respons lebih cepat.

Sementara itu, China disebut membantu Iran lewat dukungan teknologi, ekonomi, serta pasokan komponen yang dapat mempercepat pemulihan sistem pertahanan mereka. Hubungan erat Teheran dengan Beijing dan Moskow disebut menjadi faktor utama cepatnya kebangkitan militer Iran.

Meski sempat digempur serangan AS dan Israel, Iran dilaporkan masih mempertahankan sebagian besar kekuatan tempurnya. Intelijen AS menyebut sekitar 50 persen kemampuan drone Iran masih aktif dan siap digunakan sewaktu-waktu.

Selain itu, sebagian besar rudal jelajah pertahanan pantai Iran juga dilaporkan masih utuh. Kondisi tersebut membuat Iran tetap memiliki kemampuan mengancam jalur pelayaran internasional di Selat Hormuz yang menjadi salah satu urat nadi perdagangan minyak dunia.

Di tengah memanasnya situasi, hubungan Donald Trump dan Benjamin Netanyahu justru dikabarkan mulai merenggang. Keduanya disebut berbeda pandangan terkait langkah menghadapi Iran ke depan.

Netanyahu dilaporkan masih mendorong opsi serangan militer lanjutan terhadap Iran. Pemerintah Israel disebut khawatir negosiasi damai hanya akan memberi waktu bagi Teheran memperkuat kemampuan nuklir dan militernya.

Sebaliknya, Trump disebut lebih memilih jalur diplomatik untuk meredam konflik. Presiden AS itu bahkan dikabarkan tidak terburu-buru melanjutkan operasi militer besar terhadap Iran.

Berdasarkan laporan sejumlah media Israel, Trump dan Netanyahu sempat terlibat adu argumen sengit dalam percakapan telepon yang disebut berlangsung dramatis pada Selasa (19/5/2026). Pembahasan utama keduanya berkaitan dengan masa depan operasi militer terhadap Iran.

“Kita lihat saja nanti apa yang terjadi,” kata Trump saat ditanya soal negosiasi dengan Iran.

Trump mengklaim Gedung Putih saat ini sudah berada di tahap akhir proses negosiasi dengan Teheran. Namun ia juga tetap membuka kemungkinan aksi militer jika kesepakatan gagal tercapai.

Baca Juga: Marco Rubio Sebut Ada Kemajuan Kecil dalam Pembicaraan Iran, Apa Itu?

“Kami menghantam mereka dengan sangat keras. Kami mungkin harus menghantam mereka lebih keras lagi, tetapi mungkin juga tidak,” ujar Trump.

Di sisi lain, para pejabat militer Israel dikabarkan mulai menyiapkan kembali daftar target potensial di wilayah Iran. Pasukan Pertahanan Israel atau IDF disebut optimistis dapat melumpuhkan kekuatan Teheran jika gelombang serangan baru kembali dilancarkan.

Ketegangan tersebut membuat kekhawatiran perang besar di Timur Tengah kembali meningkat. Apalagi kini konflik Iran tidak lagi hanya melibatkan AS dan Israel, tetapi juga mulai menyeret pengaruh Rusia dan China di belakang layar.


Artikel Asli

Lanjut baca:

thumb
Profil Timnas Portugal: Cristiano Ronaldo Siap Guncang Piala Dunia 2026
• 1 jam laluviva.co.id
thumb
Wamensos: Sekolah Rakyat Tak Hanya Fokus Pendidikan, Ortu Siswa Diberdayakan
• 18 jam lalukumparan.com
thumb
BPS: Jumlah UMKM di Indonesia Capai 59 Juta Usaha Tahun 2023
• 18 jam lalukumparan.com
thumb
Kesulitan Ekonomi, Calvin Dores Merasa Gagal Jadi Ayah
• 19 jam lalutabloidbintang.com
thumb
11 Negara Panggil Dubes Israel usai Video Aktivis Flotilla Gaza Diperlakukan Tidak Manusiawi
• 21 jam lalusuarasurabaya.net
Berhasil disimpan.