Petugas konsumsi Sektor 1 Makkah menyiapkan skema distribusi makanan siap santap dengan total 15 porsi bagi jemaah haji selama fase Arafah, Muzdalifah, dan Mina (Armuzna) guna memastikan kebutuhan gizi tetap terpenuhi sehingga ibadah dapat berjalan lebih nyaman.
Katering reguler terakhir dijadwalkan akan dibagikan pada 6 Dzulhijah atau 23 Mei 2026 saat makan malam. Menu yang disediakan berupa nasi, lauk, dan sayur. Setelah itu, jemaah akan menerima makanan siap saji atau Ready to Eat (RTE) sebanyak enam paket untuk kebutuhan sebelum dan sesudah fase Armuzna.
Berdasarkan rilis Kementerian Haji dan Umrah Arab Saudi yang diterima suarasurabaya.net di Tanah Suci, RTE dipilih dengan mempertimbangkan kecepatan distribusi, kemudahan konsumsi jemaah, daya tahan makanan di tengah tingginya mobilitas, serta pemenuhan standar gizi, kebersihan, dan keamanan pangan.
Maria Assegaf Juru Bicara Kementerian Haji dan Umrah (Kemenhaj), memastikan makanan siap santap tersebut tetap mengusung cita rasa nusantara agar sesuai dengan selera jemaah Indonesia.
“Makanan siap santap tersebut tetap bercita rasa nusantara agar lebih sesuai dengan selera jemaah Indonesia dipastikan aman dan higienis,” katanya dalam keterangannya pada Jumat (22/5/2026).
Tiga paket RTE disiapkan untuk kebutuhan makan pada 7 Dzulhijah, satu paket untuk sarapan pada 8 Dzulhijah, serta dua paket lainnya untuk konsumsi siang dan malam pada 13 Dzulhijah.
Selain paket RTE, distribusi konsumsi juga dilakukan di sejumlah titik selama puncak ibadah haji. Di Arafah, jemaah akan mendapatkan lima kali makan pada 8–9 Dzulhijah. Sementara di Muzdalifah disediakan satu kali makanan ringan yang dibagikan sebelum keberangkatan dari Arafah.
Adapun selama berada di Mina, jemaah akan menerima konsumsi sebanyak 10 kali makan selama 10–13 Dzulhijah.
Sementara itu, Jaenal Effendi Direktur Jenderal Pengembangan Ekosistem Ekonomi Haji dan Umrah Kemenhaj, menjelaskan bahwa makanan RTE dirancang agar praktis dikonsumsi tanpa perlu dipanaskan.
“Makanan RTE bisa langsung dibuka dan dimakan, tidak perlu dipanaskan. Bentuknya ada di dalam kemasan yang didesain fungsional sehingga bisa langsung dijadikan wadah makan,” kata Jaenal.
Ia menambahkan, petugas haji akan mengedukasi jemaah bahwa makanan tersebut siap dikonsumsi secara langsung. Lalu untuk fase puncak haji, telah disiapkan sekitar 3,08 juta porsi RTE.
Jaenal memastikan makanan tersebut dikemas dengan baik dan telah melalui pengujian laboratorium sehingga memiliki daya tahan hingga 18 bulan.
Selain menyiapkan distribusi konsumsi, petugas juga mengimbau jemaah menjaga kondisi kesehatan dengan makan secukupnya, menjaga kebersihan, serta membuang sampah pada tempatnya agar rangkaian ibadah haji dapat berlangsung lancar.(wid/mar/iss)


:strip_icc()/kly-media-production/medias/6705287/original/085241600_1779523985-20260523_114248.jpg)

