BEKASI, KOMPAS.com - Lulu Tri Rahayu (38), warga yang tinggal di bantaran kali kawasan Kampung Cabang Pintu Air, Bekasi, mengatakan masyarakat terpaksa menggunakan air kali yang keruh karena tidak memiliki akses air bersih.
“Di sini enggak ada air bersihnya. Jadinya pakai air kali buat nyuci piring, baju, mandi, sama buang air. Kalau minum mah beli air galon,” ujar Lulu saat ditemui Kompas.com di lokasi, Jumat (22/5/2026).
Sebelumnya, sebuah video yang diunggah aktivis kebersihan lingkungan asal luar negeri dengan akun Instagram @sambencheghib, viral di media sosial.
Baca juga: Berisiko Picu Longsor, LMK Minta Bangli di Bantaran Kali Baru Batu Ampar Ditertibkan
Video itu memperlihatkan aktivitas warga yang mencuci pakaian, peralatan makan, mandi, hingga bermain di aliran kali.
Aktivitas tersebut terlihat berlangsung di tengah proses pembersihan sampah oleh sejumlah relawan dan petugas kebersihan di aliran kali kawasan Kampung Cabang Pintu Air, Desa Karangasih, Kecamatan Cikarang Utara, Kabupaten Bekasi.
Unggahan itu kemudian memicu beragam komentar warganet yang menyoroti kondisi lingkungan sekaligus fakta bahwa warga masih memanfaatkan air kali untuk kebutuhan sehari-hari.
Baca juga: Kali Bekasi Meluap, Ratusan KK di 4 Kelurahan Kota Bekasi Terendam Banjir
Lulu mengatakan, dirinya telah tinggal di kawasan tersebut selama sekitar 21 tahun.
Rumah yang ditempatinya berdiri di atas lahan milik Perum Jasa Tirta (PJT) atau pengairan.
Menurut dia, sebagian warga kini sudah tidak lagi memiliki mesin air.
“Warganya udah pada enggak punya mesin air. Soalnya beberapa waktu lalu bangunan di sini mau digusur. Jadinya mesinnya udah dipotong,” kata dia.
Baca juga: Kali Bekasi Meluap, Permukiman di 3 Kecamatan Terendam
Lulu menuturkan, aktivitas warga memanfaatkan air kali untuk mencuci dan mandi sudah berlangsung lama dan dilakukan hampir setiap hari.
“Di sini biasanya ada yang nyuci dari pagi sampai sore,” ujar dia.
Meski kondisi air sering keruh dan dipenuhi sampah, Lulu mengaku sudah terbiasa menggunakan air kali untuk kebutuhan rumah tangga.
“Yang tinggal di sini mah udah terbiasa. Walaupun kadang airnya kayak comberan, hitam banget. Ini karena kemarin baru dibersihin aja makanya kelihatan bersih. Biasanya banyak eceng gondoknya,” ucap Lulu.
Baca juga: Sirine Berbunyi! Permukaan Kali Bekasi Naik, Air Kiriman dari Bogor Datang
Menurut dia, keterbatasan ekonomi membuat sebagian warga tidak mampu membeli air bersih setiap hari.





