Menakar Keberlanjutan ”Homeless Media” dalam Genggaman Algoritma

kompas.id
6 jam lalu
Cover Berita

Media tak berumah (homeless media) memanfaatkan berbagai kanal media sosial untuk publikasi informasi ataupun berita. Di balik berbagai kanal media sosial ini, berdiri perusahaan-perusahaan teknologi yang punya kuasa mengatur algoritma. Penaklukan algoritma dan juga kepatuhan pada pedoman komunitas (community guidelines) menjadi dua prinsip penting dari keberlanjutan homeless media.

Secara struktur dan organisasi, homeless media tidak memiliki organisasi redaksi formal dan juga kanal mandiri untuk publikasi. Media-media tak berumah ini memublikasikan informasi atau berita melalui kanal-kanal media sosial, seperti Instagram, Facebook, Tiktok, X, Youtube, dan Whatsapp. Media arus utama sepenuhnya dijaga oleh kode etik jurnalistik dalam peliputan, penulisan, dan publikasinya. Adapun homeless media bertumpu pada pedoman komunitas yang ditetapkan oleh platform media sosial masing-masing.

Pedoman komunitas yang merupakan regulasi utama dari kanal-kanal media sosial berperan krusial dalam produksi informasi/berita dari homeless media. Oleh sebab itu, keberlangsungan akun homeless media sangat ditentukan oleh kepatuhannya pada pedoman komunitas.

Jika pedoman komunitas ini dilanggar, keberlangsungan akun homeless media ini dipertaruhkan. Sanksi bisa dikenakan pada akun-akun yang melanggar berupa penangguhan atau bahkan pemblokiran akun. Dengan begitu, akun-akun tersebut akan kehilangan satu-satunya jalur publikasi.

Kepatuhan pada pedoman komunitas juga merupakan cerminan dari integritas akun. Hal-hal yang diatur oleh panduan komunitas setidaknya sedikit merepresentasikan kode etik jurnalistik, seperti larangan ujaran kebencian dan konten ofensif.

Begitu juga dengan larangan diskriminasi, larangan informasi/konten SARA, mengedepankan integritas dan keaslian informasi, menjunjung perlindungan privasi atau keamanan data diri, serta hak kekayaan intelektual. Mengingat tidak adanya alternatif rumah bagi homeless media selain kanal-kanal media sosial, tunduk pada pedoman komunitas ini menjadi sebuah hal yang mutlak.

Selain pedoman komunitas, kanal-kanal media sosial memiliki aturan main lain bernama algoritma. Pada ruang digital, algoritma menjadi sebuah sistem yang belajar dari perilaku dan preferensi pengguna untuk mengatur variasi dan urutan aliran informasi yang ditampilkan atau dimunculkan. Dengan adanya algoritma, distribusi informasi atau berita di kanal-kanal media sosial menjadi terfilter pada pengguna sesuai dengan minat dan preferensinya.

Algoritma sangat berpihak pada minat pengguna sehingga sering kali idealisme media berbenturan dengan yang diminati audiens. Algoritma media sosial menjadikan durasi dan retensi menonton, interaksi, kualitas visual dan format, serta penggunaan kata kunci pada tiap unggahan menjadi pokok-pokok penting atas paparan informasi pada audiens. Dengan demikian, pemenuhan pokok-pokok penting algoritma media sosial ini sering kali lebih didahulukan dibandingkan kedalaman isi, akurasi, serta penyampaian sudut pandang yang berbeda.

Lebih jauh lagi, dari kerja algoritma ini pengguna atau audiens di media sosial cenderung terpapar pada informasi yang sesuai dengan minat dan preferensinya saja. Karena itu, dimungkinkan terjadi gelembung filter (filter bubble) di mana pengguna hanya terpapar pada informasi yang memperkuat pandangannya sendiri.

Hal ini sangat mungkin diperparah dengan terciptanya ruang gema (echo chamber), di mana interaksi hanya terjadi dengan orang-orang yang berpandangan serupa, sehingga tercipta polarisasi. Narasi lain yang bertentangan sering kali secara ekstrem ditolak.

Homeless media dengan algoritma perusahaan teknologi yang mengaturnya tidak bisa serta-merta disejajarkan ataupun dibandingkan dengan media arus utama. Belum adanya aturan yang lebih ketat terkait verifikasi informasi, prinsip cover both sides, menjadikan homeless media belum sepenuhnya bisa menjadi rujukan utama informasi/berita. Namun, sebagai medium penetrasi isu-isu terkini, termasuk isu politik bagi generasi muda, homeless media dengan visual kuat dan isi yang ringan bisa sangat dimanfaatkan.

Kekayaan ruang digital

Richard L Daft dan Robert H Lengel melalui teori kekayaan media (media richness theory) menyatakan, kegunaan sebuah media ditentukan oleh tingkat ”kekayaan” yang dimilikinya. Berdasarkan teori ini, homeless media yang menggantungkan keberlanjutannya pada media sosial justru dianggap ”kaya” karena memiliki keberagaman format (teks, foto, audio, video), keberagaman bahasa, kecepatan mendapatkan umpan balik, serta kemampuan untuk personalisasi pesan seperti yang bisa didapatkan dari jurnalisme warga (citizen journalism). Dari kekayaan yang dimiliki, homeless media dipandang memiliki kapasitas dalam menyampaikan informasi yang kompleks.

Dalam perspektif lain, ada konsep sinkronisitas media (media synchronicity theory) oleh Alan R Dennis dan Valacich sebagai kritik atas teori kekayaan media tersebut. Mereka berargumen, efektivitas komunikasi tidak ditentukan semata oleh ragam kekayaan media, tetapi oleh kesesuaian atau sinkronisitas antara karakteristik media dan tujuan komunikasi yang ingin dicapai.

Melalui teori ini, media arus utama dianggap unggul dalam sisi conveyance (penyampaian pesan) melalui jurnalisme investigatif dan laporan-laporan mendalamnya. Sebaliknya, homeless media unggul dalam sisi convergence (pembentukan pemahaman bersama) yang didapat melalui kecepatan mendapatkan umpan balik dalam membangun opini kolektif bersama. Hal ini mematahkan teori kekayaan media yang beranggapan bahwa homeless media lebih unggul karena dianggap lebih ”kaya”.

Dari kedua teori tersebut, bisa ditarik benang merah di mana media, baik media arus utama maupun homeless media, sebagai corong informasi memiliki karakteristik dan kekayaan tersendiri yang dapat dimanfaatkan secara penuh dan kolaboratif untuk penyampaian informasi/berita yang lebih tepat sasaran. Dalam hal isu-isu kompleks yang perlu didekatkan ke generasi muda, homeless media menjadi sangat relevan sebagai mediumnya. Sementara isu-isu penting dan mendalam yang harus diketahui masyarakat luas hingga pemangku kebijakan butuh medium dengan legitimasi dan kredibilitas tinggi, seperti yang dimiliki oleh media arus utama. 

Keberimbangan yang relevan

Media arus utama dan homeless media saat ini sama-sama bertumbuh dalam era demokrasi informasi dan pesatnya perkembangan teknologi. Dalam hasil survei penetrasi internet dan perilaku penggunaan internet APJII 2025, dari total 8.700 responden yang disurvei, seperempat responden menggunakan internet untuk mengakses media sosial. Sementara 15 persen dari total responden mengakses internet untuk membaca berita/informasi terkini.

Data ini menunjukkan eksistensi media sosial sebagai ruang publikasi homeless media kian mendominasi. Pola konsumsi snackable content pada media sosial memang menghidupkan ruang digital, membuka mata audiens muda pada berbagai isu kompleks yang dikemas secara ringan. Namun, kemasan ringan sebuah informasi ini sudah selayaknya tetap menjunjung tinggi kedalaman informasi.

Pemenuhan kriteria algoritma memang penting untuk dilakukan supaya dapat menjangkau audiens secara luas dan relevan. Akan tetapi, luasnya jangkauan tersebut harus dibarengi dengan filter kelayakan berita. Di sinilah peran krusial media arus utama melalui fungsi agenda setting-nya.

Dengan menimbang urgensi, dampak sosial, kepentingan publik, serta kepatuhan pada kode etik, media arus utama bertindak sebagai tumpuan yang menjaga keberimbangan informasi di tengah riuhnya ruang digital. Adapun algoritma bertindak sebagai penjaga relevansi informasi bagi audiens. (LITBANG KOMPAS)

Baca JugaMampukah ”Homeless Media” Menjaga Demokrasi?


Artikel Asli

Lanjut baca:

thumb
15 Aktivis Flotilla Gaza Laporkan Alami Pelecehan Seksual saat Ditahan Israel
• 13 jam laludetik.com
thumb
Harga Bawang hingga Buncis Pasar Tradisional Tangsel Naik Jelang Idul Adha
• 21 jam lalukompas.com
thumb
Pertamina Patra Niaga Gandeng Medco Perkuat Pasokan Gas untuk Operasional Kilang
• 30 menit lalupantau.com
thumb
Ketika ICC Mengetuk Pintu Netanyahu
• 20 menit lalukumparan.com
thumb
ART dan Babysitter Diduga Jadi Korban Kekerasan Seksual Sopir di Jakut
• 20 jam lalukompas.com
Berhasil disimpan.