REPUBLIKA.CO.ID, JAKARTA – Akses pembiayaan masih menjadi tantangan bagi perempuan pelaku usaha ultra mikro. Keterbatasan modal dan minimnya agunan membuat banyak pelaku usaha kecil kesulitan memperoleh akses keuangan formal untuk mengembangkan usaha.
Kebutuhan pembiayaan di sektor ultra mikro sendiri terus meningkat. PT Permodalan Nasional Madani (PNM) mencatat outstanding pembiayaan program Mekaar mencapai Rp45,35 triliun sepanjang 2025 dan telah menjangkau 22,7 juta perempuan prasejahtera di berbagai daerah.
Baca Juga
BUMN Tindaklanjuti Arahan Presiden, Bunga PNM Mekaar Turun Jadi 8 Persen
Anastasia, Nasabah PNM Mekaar Hadirkan Salon Inklusif dan Gratis Buat ODGJ
Bagi sebagian pelaku usaha, pembiayaan tanpa agunan dinilai menjadi peluang untuk memulai dan mengembangkan usaha dari skala kecil.
Kondisi tersebut dialami Sri Aryanti Nurafiah, nasabah PNM Mekaar Cikarang Barat. Sebagai ibu rumah tangga, sosok yang akrab disapa Yanti ini ingin membantu perekonomian keluarga melalui usaha kriya gantungan kunci. Namun keterbatasan modal sempat membuatnya ragu memulai usaha.
.rec-desc {padding: 7px !important;}
“Kalau hanya mengandalkan gaji suami saya rasa kurang cukup. Saya ingin membuka usaha kriya-kriya, tapi dengan keterbatasan modal saya bimbang,” ujar dikutip pada Jumat (22/5/2026).
Menurut Yanti, pembiayaan yang diperoleh dari program Mekaar digunakan untuk membeli bahan baku dan mengembangkan usaha dari rumah. Seiring waktu, usaha tersebut berkembang hingga ia membuka lapak sendiri.
“Tak terpikirkan sebelumnya, ternyata usaha saya makin berkembang sampai saat ini. Modal saya juga makin ditambah oleh PNM, maka dari itu saya berani membuka lapak usaha saya,” kata Yanti.
Selain pembiayaan, Yanti juga mengikuti pelatihan melalui program Mekaarpreneur. Pelatihan tersebut mencakup promosi, branding, pengemasan produk, hingga pemasaran digital.
Saat ini, produk usahanya dipasarkan melalui sejumlah platform digital seperti TikTok dan Shopee.
Perkembangan usaha tersebut membuat Yanti meraih Juara 2 Mekaarpreneur kategori nasabah naik kelas wilayah Bekasi-Jakarta.
Kisah tersebut dinilai mencerminkan masih besarnya kebutuhan pembiayaan inklusif bagi perempuan pengusaha ultra mikro. Pendampingan dan pelatihan usaha juga dianggap menjadi faktor penting agar pelaku usaha kecil dapat bertahan dan memperluas usahanya.