Kicaumania dan Kesehatan Mental Laki-laki

kompas.id
9 jam lalu
Cover Berita

Bagi Faiz (55), burung bukan sekadar binatang peliharaan yang menjadi kegemarannya sejak remaja. Satwa itu adalah penenang jiwa, pengusir rasa lelah seusai sekolah atau bekerja, hingga teman di kala sepi isolasi melanda. Lebih dari itu, burung peliharaannya telah menjadi teman di sebagian besar perjalanan hidupnya, merekatkan hubungan dengan keluarga, dan menghubungkannya dengan sesama penggemar kicau mania.

Viralnya lagu Kicau Mania yang dinyanyikan Ndarboy Genk dan Banditoz Yaow 86 mengungkap besarnya jumlah peminat burung berkicau di Indonesia. Studi Harry Marshal dan rekan dalam jurnal People and Nature, Desember 2020, memprediksi ada lebih dari 70 juta burung dipelihara dalam sangkar di 12 juta rumah tangga di Pulau Jawa.

Artinya, dari 41,3 juta rumah tangga di Jawa pada 2022, sebanyak 3 dari 10 rumah tangga memiliki burung peliharaan dengan masing-masing keluarga rata-rata memiliki enam burung.

Faiz memang tumbuh di lingkungan pencinta burung peliharaan. Kakeknya memiliki banyak burung anggungan khas pria Jawa masa lalu. Sejak kecil pula, Faiz sering diajak Pak De-nya pergi ke pasar burung di Klaten, Jawa Tengah. Semua pengalaman itu menumbuhkan kesukaannya terhadap burung hingga akhirnya dia mulai memelihara burung sendiri sejak umur 13 tahun.

Baca JugaKicau Mania dan Kesempurnaan Hidup Laki-laki Jawa

“Rasanya senang, penat hilang, hingga bikin segar kembali saat pulang sekolah mendengar suara kicau burung,” kata Faiz yang kini tinggal di Jakarta Selatan, Jumat (8/5/2026). Tak hanya itu, antusiasnya juga sering muncul saat mendengarkan kicauan burung karena mereka pandai menirukan aneka suara, termasuk suara burung lain.

Sejak saat itu hingga kini, hidup Faiz hampir tidak pernah lepas dari burung. Dia sempat berhenti memelihara burung selama sebulan, namun kemudian dia memelihara burung kembali karena hidupnya terasa makin sumpek dan sepi. Kehadiran kicau burung membuat hidupnya lebih bergairah dan rumah pun tak pernah lagi sepi.

Semula, burung yang dipeliharanya masih mengikuti kebiasaan kakeknya, yaitu burung anggungan seperti kutilang dan puter. Namun sebagai orang muda, ia pun memelihara aneka burung kicauan, seperti robin, murai batu, anis merah, punglor, poci, hingga kacer.

Seiring waktu, jumlah dan jenis yang dia pelihara terus bertambah. Rekor jumlah burung terbanyak yang pernah dipelihara Faiz mencapai 22 ekor hingga dia harus mempekerjakan orang lain untuk membantu merawat burung tersebut.

Kehadiran kicau burung membuat hidupnya lebih bergairah dan rumah pun tak pernah lagi sepi.

Kini, Faiz memelihara sembilan ekor burung, yang terdiri atas empat anis merah, dua cendet, satu kolibri sogok ontong, dan dua ekor trucukan. Burung-burung itu dipilih karena suara dan tampilannya bagus serta tidak membosankan, tetapi perawatannya mudah dan murah. Ia cukup membelikan pepaya atau pisang setiap dua hingga tiga hari sekali serta pelet atau voer sebesar Rp 20.000 seminggu sekali.

Karena itu, Faiz tidak mengalokasikan anggaran dan waktu khusus untuk menjalankan hobinya. Paling saat libur tiba, ia menyediakan waktu lebih banyak untuk memantau perkembangan burung-burungnya, termasuk menjemurnya agar terkena paparan sinar Matahari langsung selama sejam. Baginya, hobi memelihara burung itu bukan soal mahal atau murah, tetapi terukur.  

Selama lebih empat dekade memelihara burung, Faiz turut merasakan lonjakan harga burung kicauan. Burung robin yang sudah pandai berkicau harganya Rp 25.000 pada 1987, nilai jualnya tahun ini mencapai Rp 1,2 juta dan itupun masih belum pandai berkicau dan harus dijinakkan dulu. Selanjutnya ada anis merah yang dihargai Rp 35.000 pada 1984-1987 dan sekarang anakan anis merah berumur 3 bulan nilainya mencapai Rp 1,1 juta-Rp 1,4 juta.

Baca JugaBurung Kicau Paling Rawan Diburu

Meski potensi harganya menggiurkan, Faiz mengaku tidak ingin menjadikan hobinya sebagai bisnis. Dia hanya ingin menikmati suara burung-burung peliharaannya sampai puas. Jika sudah bosan, sang burung menua dan kekuatan suaranya berkurang, atau ingin memlihara burung lain, maka dia akan menjualnya atau menawarkan ke pecinta burung kicau lainnya.

Untung rugi bukan ukuran. Namun jika ada penghobi lain tertarik dengan burung koleksinya dan cocok dengan harganya, maka ia tak segan pula untuk melepasnya.

Sama seperti pencinta kucing, penghobi burung kicau juga bisa menangis dan sedih jika burungnya ada yang mati atau dicuri orang. “Rasanya seperti  kehilangan anggota keluarga,” ujarnya. Walau demikian, kondisi itu tidak membuatnya kapok memelihara burung karena itu adalah risiko dari memelihara hewan peliharaan.

Pengalaman Faiz paling berkesan terhadap burung-burung peliharaannya berlangsung saat dia harus menjalani isolasi mandiri akibat Covid-19. Tinggal terpisah dari keluarga meski berada dalam satu rumah yang sama, badan demam, dan tidur tidak nyaman, membuat hidup terasa lebih berat dan sepi.

Beruntung, ada kicau burung-burungnya setiap pukul 2-3 pagi yang memberinya kelegaan dan pertanda bahwa hari telah berganti dan pagi pun tiba. “Hati jadi adem…plong rasanya,” ungkapnya.

Sama seperti pencinta kucing, penghobi burung kicau juga bisa menangis dan sedih jika burungnya ada yang meninggal atau dicuri orang.

Pereda stres

Kicau burung adalah ‘obat penenang’ jiwa. Studi Ryan Hammoud dan rekan di Scientific Reports, 27 Oktober 2022 membuktikan bahwa melihat atau mendengar burung sebanyak tiga kali sehari dalam dua minggu mampu meningkatkan kesejahteraan mental seseorang. Bahkan, peningkatan kesejahteraan mental itu bisa bertahan hingga berjam-jam setelah aktivitas tersebut usai dilakukan.

Tak melulu harus mendengar kicau burung secara langsung, penelitian E Stobbe dan rekan di Scientific Reports, 13 Oktober 2022, menemukan bahwa mereka yang mendengarkan kicauan burung selama enam menit dari gawai pun bisa mengurangi depresi, cemas, dan paranoid. Semakin meriah suara burung atau semakin banyak jenis kicauan burung yang didengarkan akan semakin dalam stres dan depresi yang bisa diturunkan dibanding hanya mendengarkan suara satu atau dua burung saja.

Tak hanya memberi ketenangan, mendengarkan suara burung yang beraneka ragam itu bisa membuat seseseorang merasa damai dan terhubung dengan alam. Bagian otak yang digunakan untuk memproses kicauan burung sama dengan bagian otak yang memproses hubungan dengan orang lain. Keterikatan sosial itu membuat seseorang tidak merasa kesepian dan terisolasi.

Baca JugaMemburu Kicau Burung

“Sebagai makhluk sosial, manusia secara naluriah senantiasa ingin terhubung dengan berbagai hal, termasuk ikatan dengan alam dan lebih khusus lagi dengan burung,” kata psikolog sosial dan lingkungan di Sekolah Tinggi dan Konservatorium Oberlin (OCC), Ohio, Amerika Serikat, Cindy Frantz seperti ditulis  National Geographic, 14 Mei 2025.

Ketenangan, penurunan stres, hingga ikatan yang terbentuk saat mendengar kicauan burung itu menandakan keamanan diri. Di alam liar, saat tidak ada suara burung bernyanyi seringkali menjadi isyarat adanya predator atau bahaya lain di sekitar. Sebaliknya, kata peneliti ekologi dan evolusi burung di Departemen Ilmu Biologi Universitas Politeknik Negeri California (Cal Poly), AS, Clinton Francis, kicauan burung menjadi tanda bahwa dunia dalam keadaan tenang hingga manusia bisa bersantai.

Meski mendengar suara burung dari rekaman gawai bisa memberi manfaat bagi kesehatan mental, namun Francis mengingatkan tidak ada yang bisa menandingi manfaat dari pengalaman mendengarkan kicauan burung di alam secara langsung. Mendengarkan kicau burung akan membentuk kesadaran penuh (mindfulness) karena tindakan itu membuat seseorang tetap berada di momen sekarang. Sementara alam menarik perhatian manusia secara lembut tanpa membebani otak. Perpaduan semua hal itu bisa membuat manusia benar-benar merasa hidup.

Tak hanya memberi ketenangan, mendengarkan suara burung yang beraneka ragam itu bisa membuat seseseorang merasa damai dan terhubung dengan alam.

Namun, alam tidak harus yang alami atau asli. Setiap orang bisa menciptakan alam tiruan di sekitar rumahnya. Dengan menyediakan pakan burung di tempat-tempat tertentu akan mengundang datangnya burung-burung liar. Mendengarkan kicau suara burung-burung tersebut sambil berusaha mengenali jenis-jenis burung yang datang bisa membuat seseorang lebih tenang dan terhubung.

Faiz sepakat bahwa mendengarkan burung di alam secara langsung jauh lebih menentramkan pikiran dan perasaan dibanding mendengarkan suara burung dalam sangkar. Wilayah yang lebih luas membuat suara burung yang beraneka ragam datang dari berbagai jarak hingga menghasilkan variasi kicauan burung yang lebih besar.

Selain itu, burung di alam memiliki fisik dan otot yang lebih kuat sehingga kekuatan suaranya pun maksimal. Kondisi itu membuat sejumlah penggemar burung membangun aviari demi memperluas ruang hidup burung dalam sangkar dan meniru alam dalam skala mini.

Kontroversi

Hobi sebagian laki-laki memelihara burung itu sering menimbulkan kontroversi. Memelihara burung dalam sangkar dianggap mengekang kebebasan burung, memicu kepunahan burung di alam, hingga melanggar prinsip-prinsip konservasi. Tak hanya itu, penggemar burung seringkali menghadapi stereotipe sebagai lelaki ”kurang kerjaan” dan menghabiskan waktunya lebih banyak untuk hobinya daripada untuk keluarganya.

Baca JugaPerdagangan Ilegal Ancam Populasi Burung Kicau

Faiz tidak sepakat dengan semua itu. Selama ini, Faiz membeli burung dari penangkaran, bukan hasil berburu di hutan. Setiap burung hasil penangkaran akan memiliki cincin di salah satu kakinya yang memberikan informasi tentang asal usul burung tersebut, mirip sertifikat ras pada kucing atau anjing. Kontes burung umumnya juga menysaratkan bahwa burung tersebut adalah burung hasil penangkaran, bukan hasil berburu di hutan. “Kalau memelihara burung hasil tangkapan di hutan, saya juga tidak setuju,” tegasnya.

Meski demikian, ia enggan jika harus melepaskan burung hasil penangkaran tersebut ke alam liar seperti yang diinginkan sebagian kalangan agar burung tersebut hidup bebas. Jika burung hasil penangkaran atau peliharaan dilepas, maka ia akan mati karena tidak terbiasa mencari makan sendiri di alam lepas, menjadi incaran kucing, atau ditangkap orang lain.

“Cara itu sama dengan menyiksa burung. Karena itu, usahakan memelihara burung sampai mati,” tambahnya.

Sementara terkait berbagai stigma negatif yang sering dilekatkan pada laki-laki penggemar burung dalam sangkar, Faiz mengaku tidak pernah diprotes istri dan anak-anaknya. Bahkan anak perempuannya pun akhirnya akrab dengan jenis-jenis burung. Dari pada nongkrong, karaoke, dugem alias pergi ke diskotik, maka hobi memelihara burung dianggap memiliki efek negatif yang lebih sedikit. “Kebetulan saya tipe orang yang lebih suka di rumah dan hanya ke luar rumah untuk hal-hal yang penting semata, seperti bekerja atau bersepeda,” katanya.

Jika burung hasil penangkaran atau peliharaan dilepas, maka ia akan mati karena tidak terbiasa mencari makan sendiri di alam, menjadi incaran kucing, atau ditangkap orang lain.

Sementara itu, peneliti psikologi laki-laki dewasa yang juga dosen Fakultas Psikologi Universitas Gunadarma, Depok, Wahyu Rahardjo mengatakan tidak ada yang salah dengan hobi laki-laki memelihara burung. Hobi adalah kegiatan sukarela yang dilakukan seseorang untuk mendapat kesenangan, rileksasi, kepuasan pribadi, atau makna psikologis tertentu. Hobi tidak harus sesuatu hal yang berat karena hal-hal receh, seperti tiduran, malas-malasan, jalan-jalan, kulineran, atau sekadar menikmati kesendirian, bisa juga disebut hobi.

“Hobi dilakukan sebagai bentuk coping stress atau strategi untuk mengatasi tekanan masalah emosional. Strategi ini membuat seseorang yang sedang tertekan atau stres akan teralihkan fokusnya kepada hal lain yang membuat lebih senang, rileks, dan bahagia,” katanya.

Penenang jiwa

Laki-laki adalah makhluk yang tidak pandai bercerita atau berbagi keluh kesah tentang tekanan hidupnya. Karena itu, hobi yang dilakukan laki-laki umumnya benar-benar menjadi alat untuk meredakan dan mengelola segala kecamuk dalam pikiran dan perasaannya yang menekan, bukan sekadar kegiatan pengisi waktu luang.

Baca JugaMenjaga Jiwa Para Pria, Krisis Nyata yang Tumbuh dalam Diam

Hobi yang dimiliki juga memungkinkan laki-laki untuk bertemu dengan teman seminat atau laki-laki lain yang memliki hobi yang sama. Di forum atau komunitas seperti itulah para laki-laki bisa mengobrolkan banyak urusan laki-laki yang seringkali sulit untuk dibicarakan dengan istri atau orang lain yang tidak memiliki minat serupa. Kondisi itu akhirnya seringkali membuat laki-laki betah berkumpul dan berlama-lama dengan teman-teman yang memiliki hobi sama.

“Prinsipnya sederhana, segala sesuatu yang berlebihan itu tidak baik,” kata Wahyu. Namun, ini bukan persoalan laki-laki sahaja karena perempuan pun bisa lupa waktu jika sudah asyik dengan dunianya. Laki-laki bisa menghabiskan waktunya seharian untuk mbengkel mengurusi motor atau mobilnya, mancing, atau mengurusi burung-burungnya. Sementara perempuan pun bisa seharian berbelanja di mal, jajan dari satu kafe ke restoran berbeda, menikmati perawatan diri, hingga jalan-jalan bersama genk mereka.

Hobi yang dilakukan laki-laki umumnya benar-benar menjadi alat untuk meredakan dan mengelola segala kecamuk dalam pikiran dan perasaannya yang menekan, bukan sekadar kegiatan pengisi waktu luang.

Bagaimana pun, laki-laki dan perempuan tumbuh dan berkembang dalam lingkungan dan nilai yang berbeda sehingga otak mereka pun berbeda. Kondisi itu membuat laki-laki lebih menyukai hal-hal yang bersifat rekayasa dan mekanik, sedangkan perempuan lebih menyenangi kegiatan yang bersifat humanis. Kadar testosteran laki-laki dan perempuan juga berbeda sehingga sejak lahir laki-laki cenderung melihat segala sesuatu di sekelilingnya dan bayi perempuan lebih suka menatap wajah dan mata orang yang ada di dekatnya. Keadaan inilah yang akhirnya menentukan perbedaan jenis hobi laki-laki dan perempuan, termasuk pilihan bidang studi saat kuliah.

Karena itu, penting bagi laki-laki untuk memiliki hobi yang akan membantu mereka meredam gejolak di pikiran dan jiwanya. Sepanjang dia sadar dengan kondisinya, tidak melupakan dan tetap bertanggung jawab dengan keluarganya, maka biarkan laki-laki merdeka menekuni dunianya—termasuk dunia kicau mania yang membuat hidup sebagian laki-laki makin meriah namun sekaligus menenangkan.


Artikel Asli

Lanjut baca:

thumb
Kisah Satpam di Medan Lawan Begal: Selamat Usai Dibacok dan Ditembak
• 23 jam lalukumparan.com
thumb
Polri Perkuat Digitalisasi Pelayanan Publik Lewat Inovasi Korlantas
• 21 jam lalurepublika.co.id
thumb
Wardatina Mawa Tolak Mediasi, Laporan Dugaan Perzinaan Inara-Insanul Berlanjut
• 19 jam lalukumparan.com
thumb
Cerita Djoko Slamet Lulus S2 Teknik Fisika UGM di Usia 68 Tahun
• 4 jam lalukumparan.com
thumb
BRI (BBRI) Bidik Pertumbuhan Kredit Konsumer Lewat Consumer Expo 2026
• 11 jam lalubisnis.com
Berhasil disimpan.