Seorang anak kecil berlari dengan gembira di alam bebas bersama kedua orang tuanya. Anak lain berusaha menerbangkan layang-layang bersama sang ayah. Sementara di sudut lain, seorang ibu berbicara dengan gembira dengan putrinya yang belum lancar bicara. Anak-anak lain ikut berjalan atau berlari dengan orang tuanya. Itulah pemandangan yang saya lihat di salah satu ruang terbuka di dekat rumah di suatu sore.
Di lokus lain saya melihat anak-anak asyik dengan gawai, juga para orang dewasa di sekitarnya. Ada balita yang bahkan disuapi ibunya sambil menonton video. Ada juga yang dibiarkan menonton dengan fokus, sementara ibu dan ayahnya asik menatap layar. Interaksi terbatas, sebab masing-masing terlanjur seru tenggelam dalam konten yang ditonton.
Jika membandingkan dua lokus dan kegiatan tersebut kira-kira bapak atau ibu ada pada posisi yang mana? Atau jika tak diposisikan berlawanan, apakah mungkin di momen tertentu bapak/ibu bermain dan tertawa lepas di alam terbuka, sementara di momen lain membiarkan anak-anak terpaku pada layar gawai?
Tentu saja yang dapat menjawab pertanyaan tersebut hanyalah bapak dan ibu pembaca. Sebagai orang tua kita bisa saja terjebak di dua realitas yang sudah disampaikan di atas, atau secara bobot lebih berat di satu sisi ketimbang yang lain. Gawai memang ada di keseharian hidup ini. Memudahkan setiap orang yang mampu mengoptimalisasikannya serta di sisi lain dapat menjebak kita hingga larut dan bergantung pada gawai tersebut.
Jujur saja, menatap layar gawai memang mengasyikan. Bagi yang ingin mencari informasi, penelusuran melalui internet sangat memudahkan dan membuat kita larut hanyut di dunia digital. Bahkan sekadar scroll tanpa tujuan, atau yang sering disebut doom scrolling begitu menyenangkan. Barulah kita pusing setelah tak sadar menghabiskan waktu berlarut-larut tanpa menghasilkan apa-apa. Meski menyesal, besoknya kegiatan scrolling akan diteruskan secara otomatis. Titik utamanya adalah ketika gawai ada di sekitar kita, maka pola yang sama akan terus berulang.
Untuk orang dewasa yang sudah memiliki kontrol penuh terhadap sulit untuk mengkondisikan pemakaian gawai yang berkesadaran. Apalagi ketika orang dewasa sudah memiliki media sosial. Jika meminjam kata-kata pedagog kritis Henry Giroux, saat ini adalah era di mana kultur sinisme, ketidakamanan, dan hilangnya harapan menjadi situasi yang dihadapi manusia. Artinya generasi kini, termasuk anak-anak kita menghadapi ragam risiko yang lebih fatal bahkan brutal.
Dalam terminologi Ulrich Beck (1992) perubahan teknologi yang cepat melampaui kemampuan masyarakat untuk mengendalikan dan mengawasi konsekuensi yang tidak diinginkan atau risiko dari teknologi tersebut. Meski sudah disampaikan puluhan tahun lalu, rasanya apa yang disampaikan Beck masih relevan hingga kini.
Ketika berhadapan dengan gawai, internet, AI kita masih tergopoh-gopoh dan cenderung terperosok dalam pusaran negatif yang dihasilkan dari teknologi tersebut. Meski tentu kita tidak menutup mata betapa ada banyak efek positif dari beragam teknologi tersebut.
Dalam ruang pendidikan, pemerintah mengenalkan deep learning atau pembelajaran mendalam. Tapi jika kita telaah lebih mendalam, agar dapat terealisasi pembelajaran mendalam membutuhkan beberapa prasyarat. Prasyarat yang utama adalah kapabilitas guru.
Dalam ruang pendidikan di Indonesia guru menjadi ujung tombak realisasi ragam kebijakan. Ragam teknik dan metode pendidikan terbaru tidak akan bisa terimplementasi ketika guru gagap berhadapan dengan berbagai kebaruan di dunia pendidikan.
Lalu jika kita mau bersikap adil, kapabilitas guru ini bukan perkara personal. Tetapi membutuhkan dukungan struktural dari pemerintah untuk menatanya. Artinya kapabilitas guru hadir ketika pemerintah memiliki jaminan hidup layak bagi guru, juga instrumen-instrumen yang memungkinkan guru memperbaharui kapasitas intelektual dan aspek lain yang dibutuhkan untuk menginternalisasikan pembelajaran mendalam di ruang kelas.
Apa yang terjadi di ruang digital serba tak pasti dan kompleks. Ketidakpastian begitu tinggi, demikian juga risiko yang dihadapi. Oleh sebab itu pendidikan tak bisa semata berfokus pada yang akademik.
Bukan berarti anak-anak tak perlu cerdas cemerlang di bidang akademik, tetapi harus ada perhatian yang lebih menyeluruh terhadap tumbuh kembang anak. Namun lagi-lagi, perkara mendasar di ruang pendidikan sangat kompleks dan berkelindan sehingga membutuhkan kolaborasi dari ragam pihak.
Ketika bicara soal ruang publik yang nyaman seperti ruang hijau, jogging track, atau perpustakaan publik misalnya sangat bergantung pada konstruksi arena yang dibangun pemerintah.
Agar orang tua dapat membacakan buku-buku bagi anak-anak, maka pekerjaan yang layak harus dimiliki sehingga dapat membeli buku dan memiliki waktu yang memadai untuk menemani anak-anak. Untuk mendidik anak-anak memahami transportasi publik dan mengenal lingkungan, maka keamanan, kenyamanan, dan biaya yang terjangkau harus digaransi oleh negara.
Pendidikan dan pengasuhan tak hanya ada di ruang keluarga dan kita tak bisa memposisikan ruang tersebut seperti otomatis tercipta. Ruang tersebut harus diciptakan dan negara memiliki peran untuk membangun hal tersebut.
Kegelisahan orang tua dan guru terkait dengan anak-anak terpapar brainrot dapat ditanggulangi dengan memberikan anak-anak kita banyak pilihan untuk melakukan ragam aktivitas di dalam dan di luar rumah. Bukan sekadar melarang anak menggunakan gawai semata. Anak-anak perlu diberikan ragam alternatif untuk meningkatkan kesadaran jiwa dan kekuatan fisik.
Anak-anak yang sehat jiwa dan raga dibentuk dengan seksama melalui pendidikan dan pengasuhan yang memperhatikan ruang tumbuh mereka. Jika tak bergegas, generasi masa depan akan tumbang karena salah asuh dari kita semua, para orang dewasa yang lalai. Tentu kita tidak berharap hal tersebut terjadi.




