Talkshow Kebangsaan UNESA, Cahyo Harjo Sebut Nasionalisme Jadi Benteng Bangsa di Era Post Truth

beritajatim.com
6 jam lalu
Cover Berita

 

Surabaya (beritajatim.com) – Anggota Komisi E DPRD Jawa Timur Cahyo Harjo Prakoso menyebut nasionalisme menjadi benteng bangsa di tengah fenomena post truth dan derasnya arus informasi media sosial.

Dia mengingatkan generasi muda perlu memiliki kesadaran kritis agar tidak mudah terpengaruh informasi yang belum tentu benar.

Pernyataan itu dia sampaikan dalam Talkshow Kebangsaan 2026 bertema “Rekonstruksi Nilai Nasional di Era Globalisasi: Bangun Kesadaran Kritis, Kuatkan Nasionalisme” di Gedung i6 Srikandi FISIPOL Universitas Negeri Surabaya.

“Di tengah kondisi post truth yang mempengaruhi pola pikir kita tentang mana kebenaran dan mana yang harus dipercaya, nasionalisme menjadi penting untuk menjaga karakter kebangsaan kita,” tegasnya di hadapan para peserta.

Cahyo menegaskan bahwa keutuhan sebuah negara tidak bisa hanya bergantung pada kecanggihan alat utama sistem persenjataan (alutsista) militer. Dia menggarisbawahi langkah pemerintah yang saat ini juga terus menggagas dua pilar utama pertahanan lainnya, yakni kedaulatan pangan dan ketahanan karakter kebangsaan.

“Nasionalisme adalah salah satu alat ketahanan kita sebagai bangsa,” tutur Ketua DPC Gerindra Surabaya ini.

Pentingnya karakter kebangsaan sebagai fondasi negara ini sejatinya telah diwariskan oleh para pendiri bangsa, khususnya Presiden Soekarno. Cahyo menjelaskan gagasan Trisakti Bung Karno yang menitikberatkan pada kemandirian ekonomi, kedaulatan politik, dan kepribadian dalam kebudayaan merupakan kunci utama untuk mencapai kemerdekaan bangsa yang inklusif dan berkeadilan.

“Dan itu bukan suatu yang baru, kawan-kawan, tentang pentingnya nasionalisme ini,” imbuh politisi muda tersebut.

Cahyo menilai penerapan nilai-nilai Trisakti tersebut semakin menantang bagi generasi muda akibat masifnya arus informasi dan fenomena post-truth di media sosial. Kondisi ini seringkali mengaburkan batas antara fakta dan kebohongan, sehingga warisan karakter kebangsaan harus dikembalikan perannya sebagai filter sekaligus pedoman berpikir.

“Di tengah sulitnya kita membedakan mana kebenaran dan tidak, di sinilah letak makna nasionalisme sesungguhnya,” jelas Cahyo.

Oleh karena itu, Cahyo mengajak mahasiswa menjadi aktor intelektual yang menjaga semangat kebangsaan. Dia optimistis mahasiswa memiliki pemahaman nasionalisme yang beragam dan mampu mengimplementasikannya dalam kehidupan sehari-hari.

“Saya yakin teman-teman yang hadir dalam kesempatan ini punya gambaran makna nasionalisme yang berbeda-beda. Tinggal bagaimana nasionalisme itu terus dijaga menjadi landasan semangat sebagai mahasiswa pejuang,” pungkas politisi muda ini.[asg/ted]


Artikel Asli

Lanjut baca:

thumb
Respons GIRB Jaya Usai Hercules Dipolisikan Putri Ahmad Bahar soal Dugaan Penyekapan
• 15 jam lalukompas.com
thumb
Berantas Judi Online, Kemkomdigi Blokir Situs Polymarket, Judol Berkedok Prediction Market
• 16 jam lalujpnn.com
thumb
Timnas Indonesia Kekurangan Penyerang No. 9, John Herdman Ingin Ubah Mentalitas Tim Garuda
• 2 jam lalukompas.tv
thumb
Berangkatkan 280 Jemaah Haji, Mbak Wali Titip Pesan Jaga Kesehatan dan Kekompakan
• 23 jam lalurealita.co
thumb
Gandeng BRIN, SIG (SMGR) Perluas Inovasi Produk Semen Ramah Lingkungan
• 18 jam laluidxchannel.com
Berhasil disimpan.