Rusia VS Ukraina Rontokkan Pertahanan Udara, Inggris: Kembali ke Kompetisi dan Risiko

republika.co.id
6 jam lalu
Cover Berita

REPUBLIKA.CO.ID, JAKARTA -- Militer Barat diperingatkan tidak lagi bisa mengandalkan superioritas udara seperti yang dinikmati selama puluhan tahun terakhir. Perang Rusia-Ukraina disebut menjadi bukti bahwa penguasaan langit dalam perang modern kini jauh lebih sulit diraih, bahkan oleh negara dengan kekuatan militer besar.

Peringatan itu disampaikan Wakil Marsekal Udara Inggris Ian “Cab” Townsend, Asisten Kepala Staf Angkatan Udara Kerajaan Inggris (RAF), yang menilai era dominasi udara mutlak Barat mulai berakhir.

Baca Juga
  • Kemendagri dan Komdigi Perkuat Sinergi Berantas Judi Online
  • Universitas Maranatha Kukuhkan Guru Besar Bahasa Rupa
  • Gen Z Diingatkan Bahaya Pinjaman Online

“Pengendalian udara adalah tugas angkatan udara. Dengan itu, segalanya mungkin dilakukan. Tanpanya, semuanya menjadi berbahaya,” kata Townsend dalam forum Royal Aeronautical Society Inggris.

Menurut dia, perang di Ukraina memperlihatkan bahwa superioritas udara tidak lagi menjadi sesuatu yang otomatis dimiliki dalam konflik modern. Hingga kini, baik Rusia maupun Ukraina sama-sama gagal memperoleh kendali penuh atas wilayah udara.

.rec-desc {padding: 7px !important;}

Kondisi tersebut membuat perang berubah menjadi konflik attrisi berkepanjangan dengan garis depan yang relatif stagnan dan sangat mematikan bagi pasukan darat.

Townsend mengatakan ancaman drone dan rudal modern telah mengubah total wajah peperangan. Langit kini menjadi ruang tempur yang padat, dipenuhi ancaman, dan berbahaya di hampir semua ketinggian.

“Selama dekade terakhir kita menghadapi little green men di darat, dan sekarang kita semakin menghadapi little grey drones di udara,” ujarnya.

Ia menilai kombinasi drone, sistem pertahanan udara berlapis, dan rudal jarak jauh membuat operasi udara modern semakin kompleks dan sulit diprediksi.

“Lingkungan operasi pertahanan rudal udara modern menjadi semakin kompleks dan ambigu,” katanya.

Selama beberapa dekade pasca-Perang Dingin, negara-negara Barat terbiasa menghadapi lawan yang lebih lemah dengan dominasi udara hampir mutlak. Namun Townsend menegaskan Rusia dan China merupakan lawan yang sangat berbeda dengan kemampuan militer jauh lebih kuat.

 

Loading...
.img-follow{width: 22px !important;margin-right: 5px;margin-top: 1px;margin-left: 7px;margin-bottom:4px}
Ikuti Whatsapp Channel Republika
.img-follow {width: 36px !important;margin-right: 5px;margin-top: -10px;margin-left: -18px;margin-bottom: 4px;float: left;} .wa-channel{background: #03e677;color: #FFF !important;height: 35px;display: block;width: 59%;padding-left: 5px;border-radius: 3px;margin: 0 auto;padding-top: 9px;font-weight: bold;font-size: 1.2em;} @font-face { font-family: "LPMQ"; src: url("https://static.republika.co.id/files/alquran/LPMQ-IsepMisbah.ttf") format("truetype"); font-weight: normal; font-style: normal } .arabic-text { font-family: "LPMQ"; font-weight: normal !important; direction: rtl; text-align: right; font-size: 2.5em !important; line-height: 49px !important; }
Advertisement

Artikel Asli

Lanjut baca:

thumb
Daftar 44 Pemain Skuad Sementara Timnas Indonesia di FIFA Matchday Juni 2026, Tak Ada Thom Haye
• 5 jam lalukompas.tv
thumb
Banding Ditolak, Eks Sekretaris MA Nurhadi Tetap Divonis 5 Tahun Bui
• 20 jam lalukompas.com
thumb
Rekrut Kilat Pengemudi Taksi, Ancaman Nyata Keselamatan Transportasi Umum
• 21 jam lalukumparan.com
thumb
Tingkah Polah Aldi Taher Pakai Baju Kambing demi Selamatkan Jantung
• 12 jam laluviva.co.id
thumb
Danantara Tetapkan 85 Calon Mitra Pengelola Waste to Energy Gelombang II
• 3 jam lalukumparan.com
Berhasil disimpan.