JAKARTA, KOMPAS.com - Pro dan kontra mengemuka menyambut pengangkatan warga negara asing (WNA) menjadi pemimpin perusahaan pelat merah yang menjadi pintu tunggal ekspor sumber daya Indonesia.
Pemerintah mendirikan BUMN baru bernama PT Danantara Sumber Daya Indonesia (DSI) yang akan mengelola ekspor komoditas sumber daya alam (SDA) strategis mulai 1 Juni 2026.
Namun, pembentukan perusahaan yang bekerja langsung di bawah Badan Pengelola Investasi (BPI) Danantara itu langsung memicu polemik setelah posisi direktur utamanya diisi warga negara Australia, Luke Thomas Mahony.
Baca juga: PDI-P Kaget WNA Jadi Dirut BUMN Khusus Ekspor: Ini Menyangkut Devisa Negara
Di satu sisi, langkah tersebut dinilai sebagai upaya Presiden Prabowo Subianto memberantas mafia dan praktik kongkalikong ekspor SDA.
Namun, di sisi lain, muncul kekhawatiran soal kedaulatan ekonomi hingga potensi ketergantungan terhadap tenaga asing di sektor strategis nasional.
Nama Luke Thomas Mahony juga tercantum sebagai direktur dalam Surat Keputusan Pengesahan Nomor AHU-0039765.AH.01.01 Tahun 2026 tertanggal 19 Mei 2026 tentang pembentukan PT DSI yang diterbitkan Direktorat Jenderal Administrasi Hukum Umum Kementerian Hukum.
Luke adalah warga negara Australia yang menjabat sebagai SEVP Business Performance & Optimization Danantara Indonesia sejak September 2025. Ia memiliki pengalaman lebih dari 21 tahun di industri pertambangan.
Sebelum bergabung dengan Danantara, Luke pernah menjabat sebagai Chief Strategy and Technical Officer di PT Vale Indonesia Tbk pada Juli 2024 hingga September 2025.
Dinilai bisa putus rantai kongkalikongSekretaris Jenderal Partai Golkar Sarmuji menilai, penunjukan Luke Thomas Mahony sebagai direktur utama dilakukan untuk memutus praktik persekongkolan dan rantai kongkalikong dalam pengelolaan ekspor SDA.
Anggota Komisi VI DPR RI itu berpandangan, Presiden Prabowo ingin memperbaiki tata kelola ekspor komoditas strategis yang selama ini dinilai rawan penyimpangan.
“Presiden mungkin bermaksud memutus rantai kongkalikong yang melibatkan perkawanan. Dengan Luke Thomas sebagai dirut, kemungkinan jalur perkawanan akan lebih minim,” ujar Sarmuji saat dihubungi, Jumat (22/5/2026).
Baca juga: WNA Jadi Dirut BUMN Ekspor SDA, Anggota DPR: Pemerintah Perlu Beri Penjelasan
Menurut dia, kompetensi dan integritas juga menjadi faktor utama dalam pemilihan pimpinan BUMN baru tersebut.
“Kompetensi dan integritas adalah kunci karena PT DSI akan mengelola penjualan sumber daya yang sangat besar. Tujuannya agar tidak ada penyelewengan lagi,” kata Sarmuji.
Pandangan senada juga disampaikan Anggota Komisi VI DPR dari Fraksi PDI-P Mufti Anam. Meski mengaku terkejut, Mufti mencoba melihat langkah pemerintah secara objektif.
“Kami jujur cukup terkejut ketika mendengar bahwa PT Danantara Sumberdaya Indonesia (DSI). Karena ini menyangkut pengelolaan ekspor sumber daya alam bangsa, menyangkut devisa negara, menyangkut harga komoditas, menyangkut masa depan industri nasional, bahkan menyangkut kepercayaan dunia usaha terhadap arah ekonomi Indonesia ke depan,” ujar Mufti kepada wartawan, Jumat.





