Vina (17) terengah-engah setelah berlari sambil melindungi kepalanya bersama teman sekelasnya menuju lapangan di tengah SMA Negeri 1 Kalasan, Kecamatan Kalasan, Sleman, DI Yogyakarta, Jumat (22/5/2026). Sebelumnya, ia harus meringkuk di bawah meja di dalam kelasnya sambil melakukan gerakan melindungi diri ketika sirene tanda bahaya berbunyi.
Ini bukan situasi saat gempa yang sesungguhnya, melainkan simulasi penyelamatan diri saat terjadi gempa.
Gadis remaja itu mengikuti simulasi tersebut dengan sepenuh hati karena sadar akan risiko gempa yang senantiasa mengintai. Kisah kedahsyatan bencana gempa yang terjadi sebelum ia lahir sering diceritakan oleh neneknya.
”Rumah kami roboh akibat gempa itu,” kata Vina. Tempat tinggalnya di Desa Srimartani, Piyungan, Bantul, termasuk salah satu kawasan yang mengalami kerusakan parah akibat bencana gempa tersebut.
Hari itu Vina kembali mengikuti kegiatan simulasi penyelamatan diri dari bencana gempa bumi. Menurut dia, selama bersekolah di tempat itu, dirinya telah mengikuti sekitar tiga kali kegiatan serupa.
Simulasi yang digelar menjelang peringatan 20 tahun peristiwa gempa Yogyakarta tersebut berlangsung secara massal dengan diikuti sekitar 500 murid dan guru. Kegiatan ini digelar oleh InJourney Destination Management bekerja ama dengan Satuan Pendidikan Aman Bencana (SPAB) Provinsi DIY.
Institusi tersebut menggelar pelatihan tanggap bencana di 10 SMA yang berada di kawasan Sesar Opak. Hal itu sebagai bagian upaya mitigasi bencana untuk mengurangi risiko timbulnya korban jiwa akibat bencana gempa, terutama di daerah yang lokasinya masuk dalam kawasan risiko tinggi bencana tersebut.
Peringatan 20 tahun gempa Yogyakarta menjadi momen penting untuk menyegarkan ingatan akan peristiwa itu sehingga warga semakin waspada akan ancaman yang senantiasa mengintai.
”Kita tidak boleh melupakan peristiwa gempa tersebut. Memperingati gempa itu bukan agar kita bersedih, tapi kita harus membangkitkan memori kolektif terhadap bencana agar kita selalu ingat langkah-langkah yang harus dilakukan ketika terjadi bencana,” kata Deputi Bidang Koordinasi Penanggulangan Bencana dan Konflik Sosial Kementerian Koordinator Bidang Pembangunan Manusia dan Kebudayaan Lilik Kurniawan di hadapan para murid.
Menurut Lilik, sekolah tersebut berada di lokasi yang berisiko tinggi terhadap bencana gempa bumi. Oleh karena itu, kegiatan simulasi penyelamatan diri dari bencana tersebut penting rutin diselenggarakan agar sikap waspada terhadap ancaman bencana selalu tertanam di diri siswa.





