KITA sedang mengalami kelelahan besar. Kelelahan ini bukan kurang tidur atau terlalu banyak bekerja. Ia lebih dalam, lebih sunyi, dan lebih sulit didari sekadar itu.
Kita terlihat baik-baik saja di luar, tetap bekerja, tetap tersenyum, dan tetap aktif di media sosial.
Namun, di dalam kita seperti ada tenaga yang perlahan habis tanpa tahu bagaimana mengisinya kembali.
Ketika teknologi semakin canggih, transportasi semakin cepat, makanan semakin mudah didapat, dan informasi tinggal disentuh lewat layar, tapi kita justru semakin sering merasa letih. Bukan letih badan semata, melainkan letih pikiran dan letih batin.
Dulu kita berburu informasi. Sekarang informasi memburu kita.
Baca juga: Pesta Babi Tanpa Babi
Baru bangun tidur, layar ponsel langsung menyambut dengan berita perang, pertengkaran politik, harga kebutuhan naik, bencana alam, sampai potongan video motivasi yang membuat kita merasa kurang sukses.
Dalam sehari kita menerima informasi yang mungkin lebih banyak dibanding manusia abad lampau selama berbulan-bulan. Padahal, otak kita tidak berevolusi secepat teknologi informasi.
Otak atau pikiran kita dirancang untuk mencerna informasi secara perlahan, dalam komunitas kecil, dengan ritme hidup yang lebih tenang. Tetapi kini kita dipaksa mengetahui segalanya sekaligus.
Akibatnya muncul rasa penuh di kepala, tetapi kosong di jiwa kita. Banyak di antara kita tahu banyak hal, tetapi sulit memahami diri kita sendiri.
Belum selesai dengan banjir informasi, kita juga hidup dalam kelelahan konflik.
Dunia hari ini seperti tidak pernah berhenti bertengkar. Tokoh dunia terus membangkitkan permusuhan. Media sosial berubah menjadi arena saling menyerang.
Perbedaan pendapat kecil sering berubah menjadi kebencian panjang. Bahkan kita sering lebih cepat marah daripada mendengar.
Yang melelahkan bukan hanya konflik besar antarnegara, tetapi juga konflik kecil yang terus menerus hadir dalam kehidupan sehari-hari kita.
Grup percakapan bisa panas karena pilihan politik. Pertemanan retak karena perbedaan pandangan.
Dunia digital membuat kita hidup dalam suasana tegang tanpa jeda. Setiap hari ada kemarahan baru yang harus direspons, seolah kita dituntut terus siaga secara emosional.