CELEBESMEDIA.ID, Makassar - Bagi sebagian besar pesepak bola modern, jalan menuju Piala Dunia adalah sebuah jalur linear yang rapi: masuk akademi elite sejak usia belia, dipantau pemandu bakat, lalu menembus skuad utama.
Namun, jika Anda melihat daftar 26 pemain Timnas Swedia pilihan Graham Potter untuk Piala Dunia 2026, Anda akan menemukan sebuah anomali yang indah pada nama Taha Ali.
Winger milik Malmö FF berusia 27 tahun ini tidak datang dari kemewahan akademi sepak bola kelas atas. Ia adalah produk dari jalanan keras, ruang-ruang sempit lapangan futsal, dan sebuah tekad yang menolak untuk padam.
Kisah Taha adalah kisah tentang pelarian dan harapan. Ia lahir di Spånga-Tensta, sebuah kawasan di pinggiran Stockholm, dari keluarga imigran asal Somalia yang mengungsi demi menghindari kecamuk perang saudara pada medio 1990-an.
Tumbuh besar di lingkungan imigran yang kerap dicap keras, masa kecil Taha dipenuhi tantangan. Di sinilah sepak bola hadir, bukan sekadar sebagai permainan, melainkan sebagai tameng yang menjauhkannya dari jerat kenakalan jalanan.
"Sepak bola memberi saya disiplin, pertemanan, dan masa depan yang lebih baik," ungkap Taha dalam sebuah wawancara bersama UEFA. Bagi Taha, si kulit bundar adalah juru selamat.
Menariknya, takdir tidak langsung membawa Taha ke lapangan hijau. Langkah awalnya justru terekam di atas lantai kayu yang pekak oleh decit sepatu.
Antara tahun 2017 hingga 2020, nama Taha Ali lebih akrab di telinga pencinta futsal Swedia. Mengenang masa-masa membela Nacka Juniors FF dan Hammarby Futsal, ia bahkan sempat mengenakan jersey Timnas Futsal Swedia di ajang Nordic Futsal Cup 2018.
Di lapangan futsal yang serba sempit itulah, Taha mengasah instingnya. Ia belajar bagaimana cara "menari" dengan bola, mengecoh lawan dalam ruang beberapa sentimeter saja, dan mengambil keputusan secepat kilat.
Kemampuan magis dalam mengolah bola inilah yang kemudian mengundang rasa penasaran para pemandu bakat sepak bola konvensional.
Titik balik hidupnya terjadi pada tahun 2020. Sundbybergs IK, sebuah klub divisi bawah Swedia, berani bertaruh untuk memberi Taha panggung di sepak bola 11 lawan 11.
Sejak saat itu, karier Taha melesat bak dongeng. Dari level amatir di IFK Stocksund dan Sollentuna FK, ia melompat ke Helsingborgs IF, hingga akhirnya raksasa sepak bola Swedia, Malmö FF, menebusnya pada tahun 2023.
Di Malmö, Taha tidak butuh waktu lama untuk menjadi idola baru. Kelincahan khas pemain futsal yang dipadukan dengan kecepatan di sisi sayap menjadikannya salah satu senjata paling mematikan di Liga Swedia.
Konsistensi itu pula yang mengetuk pintu Timnas Swedia senior. Setelah mencicipi debut internasionalnya pada 2024, panggilan tertinggi itu akhirnya datang juga tahun ini. Graham Potter memasukkan namanya untuk terbang ke Piala Dunia 2026.
Saat Taha Ali melangkah keluar dari terowongan stadion di Piala Dunia nanti, ia tidak hanya membawa nama Swedia di dadanya atau darah Somalia di nadinya. Ia membawa harapan ratusan anak muda imigran di pinggiran kota Stockholm yang sering kali merasa tidak punya masa depan.
Taha Ali adalah bukti hidup bahwa dari mana pun kamu berasal—bahkan dari lapangan futsal lokal yang sempit sekalipun—jika kamu punya mimpi dan nyali, panggung dunia bisa kamu taklukkan.




