JAKARTA, KOMPAS.com- "Mereka yang tidak belajar dari sejarah, akan dihukum oleh sejarah, akan mengulangi sejarah kelam yang sama.”
Begitulah adagium yang dikutip Presiden Prabowo Subianto dari mimbar pidato Kerangka Ekonomi Makro dan Pokok-Pokok Kebijakan Fiskal (KEM-PPKF) 2027 pada Rabu (20/5/2026).
Dua hari kemudian, Prabowo mengumpulkan para penggawa ekonomi untuk belajar dari sejarah dinamika krisis dua dekade silam.
Presiden ke-8 RI Prabowo Subianto mengambil pelajaran menghadapi krisis ekonomi dari periode pendahulunya yakni era Presiden ke-6 RI Susilo Bambang Yudhyono (SBY).
Prabowo Subianto melakukan diskusi terkait penanganan krisis tahun 2005 silam.
Kepala Negara memanggil sejumlah tokoh ekonomi yang pernah menjabat di era SBY ke Kompleks Istana, Jakarta, Jumat (23/5/20226).
Baca juga: Prabowo: Mereka yang Tidak Belajar dari Sejarah, Akan Mengulangi Sejarah Kelam
Beberapa tokoh tersebut adalah eks Kepala Badan Perencanaan Pembangunan Nasional periode 2005-2009, Paskah Suzetta. Ada pula eks Gubernur Bank Indonesia periode 2003-2008, Burhanuddin Abdullah.
Kemudian, mantan Duta Besar RI untuk China tahun 2005–2009 Sudrajat hingga eks Wakil Menteri Perencanaan Pembangunan Nasional tahun 2010-2014, Lukita Dinarsyah Tuwo.
Menteri Koordinator (Menko) Bidang Perekonomian Airlangga Hartarto menyampaikan Prabowo memanggil para tokoh itu untuk mendengarkan pengalaman mereka saat mengalami sejumlah krisis pada masanya.
“Dalam pertemuan tadi disampaikan beberapa hal yang menjadi pengalaman mereka saat menghadapi krisis di tahun 2008. Kebetulan mereka rata-rata di periodenya antara 2004 sampai 2014,” ucap Airlangga, usai mendampingi Prabowo di Istana.
Baca juga: SBY: Pemerintah dan Dunia Usaha Harus “On Board” Hadapi Tekanan Ekonomi
Airlangga menceritakan, para ekonom tersebut juga sejumlah kejadian krisis yang terjadi, mulai dari inflasi hingga krisis BBM.
Dari pertemuan itu, para tokoh ekonomi ini juga melihat bahwa konteks makro yang terjadi hari ini masih relatif lebih baik daripada saat krisis tahun 2005.
“Fundamental lebih kuat, dan depresiasi rupiah itu sekitar 5 persen, jadi jauh lebih rendah dari berbagai kasus sebelumnya. Dan dari situ sebetulnya kita belajar bagaimana mengantisipasi dan apa yang diperlukan untuk menghadapi situasi-situasi ke depan,” ucap Airlangga.
Bahas krisis BBMSalah satu tokoh yang hadir, eks Gubernur BI, Burhanuddin Abdullah mengungkap selama pertemuan hanya membahas pengalamannya saat menghadapi krisis yang terjadi tahun 2005 kepada Presiden Pabowo.
Gubernur BI periode 2003-2008 itu berharap pengalamannya menghadapi krisis bisa menjadi pelajaran di masa mendatang.





