VIVA – Jumlah warga Tibet yang mencari suaka terus menyusut seiring semakin sulit dan berbahayanya upaya melarikan diri dari Tibet yang berada di bawah kekuasaan Beijing. Kondisi ini memunculkan kekhawatiran terhadap masa depan pelestarian budaya Tibet, terutama bagi komunitas pengasingan di India yang selama ini bergantung pada kedatangan warga baru dari Tibet.
Komunitas Tibet di Dharamsala, India, kini menghadapi berkurangnya hubungan budaya langsung dengan tanah asal mereka akibat minimnya pendatang baru. Selama puluhan tahun, arus pengungsi Tibet yang melintasi Himalaya menuju India dan Nepal menjadi indikator situasi di Tibet.
Pada akhir 1990-an hingga pertengahan 2000-an, ribuan warga Tibet setiap tahun mencari suaka sambil membawa laporan langsung mengenai pembatasan politik, tekanan budaya, hingga kehidupan sehari-hari di bawah pemerintahan Tiongkok.
Namun, data dari Administrasi Tibet Pusat di Dharamsala—pusat pemerintahan Tibet di pengasingan sekaligus tempat tinggal pemimpin spiritual Tibet, Dalai Lama ke-14—menunjukkan penurunan drastis jumlah pengungsi baru.
Dalam periode 1995-1999, lebih dari 12 ribu warga Tibet berhasil mencari suaka. Akan tetapi, dalam lima tahun terakhir, jumlah tersebut merosot tajam menjadi hanya 81 orang.
Berkurangnya warga Tibet yang berhasil keluar dari wilayah itu juga membuat informasi independen mengenai kondisi di Tibet semakin langka. Akibatnya, kebijakan Beijing terkait regulasi keagamaan, reformasi bahasa, maupun relokasi pedesaan menjadi semakin sulit dipantau dunia internasional.
Situasi ini berlangsung di tengah upaya Beijing memperkuat narasi versinya mengenai pembangunan dan stabilitas di Tibet.
Lobsang, seorang pria Tibet yang meninggalkan wilayah itu pada 2010, mengatakan penurunan jumlah pengungsi terjadi bersamaan dengan meningkatnya kontrol Tiongkok. "Sejak tahun 2008, arsitektur keamanan di Tibet telah mengalami transformasi total," katanya kepada DW.
"Yang kita lihat sekarang adalah jaringan pengawasan berteknologi tinggi di mana setiap desa, setiap biara, dan setiap rumah tangga dipantau. Mencapai perbatasan sekarang hampir mustahil bagi warga Tibet biasa," tambahnya.
Pengawasan Tiongkok Makin Ketat
Penurunan tajam jumlah pengungsi mulai terlihat setelah gelombang protes besar di Tibet pada 2008 menjelang Olimpiade Beijing, yang direspons dengan peningkatan pengamanan besar-besaran oleh pemerintah Tiongkok.





