Jakarta: Konsistensi pendampingan dinilai menjadi kunci dalam mendongkrak produktivitas dan kapabilitas para petani di pedesaan. Melalui pembekalan intensif dari hulu hingga hilir, para petani binaan lintas sektor kini berhasil membuktikan keberhasilan lewat panen perdana komoditas edamame di atas lahan wakaf seluas satu hektar.
“Dalam pelaksanaannya, kami menggandeng Wiguna Farm untuk mengembangkan budidaya edamame dengan memanfaatkan wakaf lahan perkebunan seluas satu hektar sebagai tahap awal program. Dukungan yang diberikan mencakup penyediaan bibit, pupuk, edukasi, pelatihan, pendampingan petani hingga akses pasar bagi hasil panen,” ujar Founder Yayasan Indonesia Setara, Sandiaga Salahudin Uno, melalui keterangannya, dikutip dari Media Indonesia, Sabtu, 23 Mei 2026.
Baca Juga :
Pidato Presiden Dinilai Momentum Keberpihakan Ekonomi kepada RakyatOwner Wiguna Farm, Hasan, menegaskan bahwa transfer pengetahuan melalui pendampingan berkala mengubah pola tanam petani menjadi lebih terarah. Keberhasilan panen yang berlangsung pada Selasa, 19 Mei 2026 tersebut membuktikan bahwa intervensi edukasi di lapangan mampu menciptakan model pertanian yang bernilai ekonomi tinggi.
Selain mendampingi proses budidaya di lahan, para petani juga dikawal dalam aspek kepastian serapan pasar. Penataan rantai pasok ini dilakukan agar para penggarap tidak lagi terjebak permainan harga tengkulak dan dapat menikmati pendapatan yang stabil.
“Salah satu fokus utama program ini adalah memastikan kepastian pasar bagi petani. Untuk itu, Agribusiness and Technology Park (ATP) IPB berperan sebagai off-taker yang membeli langsung hasil panen edamame dari petani. Skema tersebut diharapkan mampu memberikan jaminan pemasaran sekaligus meningkatkan stabilitas pendapatan petani desa,” kata Hasan.
Keterlibatan pembeli siaga (off-taker) ini disambut positif oleh Perwakilan ATP IPB, Sarwono. Menurutnya, skema ini membuat kerja keras petani selama masa pendampingan menjadi lebih dihargai karena produk yang dihasilkan memiliki standar mutu yang jelas dan langsung terserap industri.
Panen perdana komoditas edamame. Foto: Dok. Istimewa.
“Program ini juga dirancang untuk terus berkembang secara berkelanjutan. Keuntungan dari hasil panen akan kembali diinvestasikan guna memperluas lahan pertanian, meningkatkan kapasitas produksi, serta memperluas manfaat program kepada lebih banyak petani di berbagai wilayah desa,” tambah Sarwono.
Melalui integrasi antara pelatihan, bantuan sarana produksi, dan kepastian off-taker, model pemberdayaan ini diproyeksikan menjadi percontohan nasional. Langkah ini diharapkan mampu mencetak lebih banyak petani desa yang mandiri, kompetitif, dan berdaya saing tinggi di sektor pertanian berkelanjutan.




