Iran Tidak Boleh Memiliki Senjata Nuklir, Trump: Tidak Ada yang Lebih Penting dari Ini

erabaru.net
7 jam lalu
Cover Berita

EtIndonesia. Presiden Amerika Serikat Donald Trump pada Jumat (22/5/2026) menegaskan bahwa apa pun yang terjadi, AS pasti akan mengambil kembali uranium yang diperkaya tingkat tinggi yang ditimbun Iran dan akan menghancurkan bahan nuklir tersebut.

Terkait perundingan damai, Menteri Luar Negeri AS Marco Rubio mengungkapkan bahwa sudah ada kemajuan. Namun, jika Iran tetap ingin mengenakan biaya pelayaran di selat strategis, maka kesepakatan gencatan senjata tidak akan tercapai.

Di sisi lain, ada laporan yang menyebutkan bahwa saat ini pimpinan Garda Revolusi Islam telah “membajak” Iran dan secara paksa mendominasi posisi kebijakan dalam negosiasi.

“Tidak ada yang lebih penting daripada memastikan Iran tidak memiliki senjata nuklir, dan kami sama sekali tidak akan membiarkan itu terjadi,” kata Trump. 

Meskipun pihak Iran menyatakan tidak akan menyerahkan material nuklirnya, Trump sebelumnya menegaskan bahwa pada akhirnya AS pasti akan mengambil kembali uranium yang diperkaya tinggi yang disimpan Iran.

Ia menyatakan bahwa jika Iran memiliki senjata nuklir, perang nuklir dapat pecah di Timur Tengah dan dampaknya akan meluas ke Eropa bahkan Amerika Serikat.

Seorang wartawan bertanya: “Apakah mereka boleh tetap menyimpan uranium yang diperkaya?”

Trump menjawab: “Kami akan mengambilnya. Kami tidak membutuhkannya, dan kami tidak ingin memilikinya. Setelah kami mendapatkannya, mungkin kami akan menghancurkannya, tetapi kami tidak akan membiarkan mereka memilikinya. Mengerti?”

Sebelumnya, Rubio juga mengatakan kepada wartawan bahwa dalam negosiasi untuk mengakhiri perang, telah muncul beberapa perkembangan positif. Delegasi Pakistan sedang menuju Teheran untuk mendorong pembicaraan lebih lanjut.

Rubio mengatakan:“Pilihan utama Presiden selalu mencapai kesepakatan, mencapai konsensus, dan menggunakan jalur diplomatik.”

Ia menambahkan:“Saat ini memang sudah terlihat beberapa tanda positif, tetapi kami juga memahami situasinya, dan saya tidak ingin terlalu optimistis. Mari kita lihat perkembangan beberapa hari ke depan.”

Rubio dan Trump sama-sama menegaskan bahwa Strait of Hormuz harus tetap terbuka untuk pelayaran bebas biaya. Jika Teheran bersikeras memberlakukan biaya transit, maka kesepakatan damai tidak mungkin tercapai.

Mantan pejabat Dewan Keamanan Nasional AS, Richard Goldberg, dalam sebuah artikel opini di New York Post menyatakan bahwa elit Teheran mungkin bisa menipu dunia dengan video propaganda buatan AI, unggahan media sosial, dan pernyataan tertulis untuk “pemimpin tertinggi bayangan”, namun mereka tidak dapat menghindari kenyataan runtuhnya ekonomi akibat blokade militer AS.

Ia mengatakan bahwa Trump saat ini berada di posisi unggul dan selanjutnya harus mendorong tiga garis strategi: terus melakukan blokade dan perang ekonomi untuk mengguncang rezim Iran; membentuk ulang tatanan energi global guna memperkuat dominasi AS, menstabilkan harga energi, sekaligus membendung ambisi PKT; serta meluncurkan “Operasi Jalur Pelayaran Epik” atau “Blockade Plus”, yaitu memerintahkan militer AS membuka jalur pelayaran di selat tersebut guna memulihkan kebebasan navigasi.

Goldberg berpendapat bahwa di bawah tekanan berlapis dari AS, Teheran pada akhirnya harus mengalah dalam isu senjata nuklir, jika tidak maka keruntuhan rezim akan semakin cepat.

Seiring negosiasi yang menemui jalan buntu, para pakar menunjukkan bahwa komandan Garda Revolusi Iran, Ahmad Vahidi, kini telah menjadi tokoh inti dalam membentuk sikap keras Iran dalam negosiasi dengan Amerika Serikat. Ada informasi yang menyebutkan bahwa ia merupakan salah satu anggota kelompok inti yang memiliki akses langsung kepada pemimpin tertinggi Mojtaba.

“Vahidi dan anggota lingkaran intinya tidak hanya memperkuat kendali atas respons militer dalam konflik ini, tetapi kemungkinan juga telah menguasai kebijakan negosiasi Iran,” demikian Institute for the Study of War. 

Analisis lain menyebutkan bahwa tokoh seperti Vahidi “tidak hanya mengelola perang, tetapi juga secara aktif membentuk ulang suksesi kekuasaan, memperkuat otoritas di sekitar pemimpin tertinggi yang melemah, dan pada dasarnya telah ‘membajak’ Iran melalui pengelolaan krisis.”

Laporan jurnalis NTD Television, Wang Ziyi, dari AS


Artikel Asli

Lanjut baca:

thumb
Pemberian dari Swasta ke Gatut Sunu Diselisik KPK
• 20 jam lalumetrotvnews.com
thumb
Menbud Dorong Museum Negeri Sulut Jadi Infrastruktur Kebudayaan & Ekonomi
• 7 jam laludetik.com
thumb
Pertamina Bantah soal Larangan Kendaraan di atas 1.400 cc Beli Pertalite
• 2 jam lalukatadata.co.id
thumb
Cara Mengenali Orang Sukses dari Kebiasaan di Akhir Pekan
• 21 jam lalubeautynesia.id
thumb
Listrik Padam di Medan, Black Out di Sumatra Bagian Utara
• 21 jam lalubisnis.com
Berhasil disimpan.