Kalau jatuh cinta harusnya bikin happy, kenapa malah jadi overthinking, deg-degan, sampai mual sendiri?
Fenomena itu ternyata bukan cuma drama di kepala. Lewat lagu “drop dead”, Olivia Rodrigo berhasil merangkum fase PDKT yang paling melelahkan: Saat kita suka banget sama seseorang, tapi di saat yang sama juga takut kalau semuanya cuma ada di imajinasi sendiri.
Di bagian lirik “I’ve been dropping hints all night that I’d love it if you held my hand”, Olivia Rodrigo menggambarkan kebiasaan banyak orang yang suka ngasih kode ke gebetan, berharap perasaannya ditangkap tanpa harus ngomong langsung. Ada rasa pengin dekat, tapi juga takut ditolak kalau terlalu terang-terangan.
Lalu, di lirik “I’m paranoid I made you up”, muncul sisi lain dari jatuh cinta yang jarang dibahas: Rasa cemas ketika seseorang terasa terlalu sempurna sampai otak mulai mempertanyakan semuanya.
Kenapa Orang Suka Overthinking Saat Jatuh Cinta?Ternyata, kondisi itu memang ada penjelasan ilmiahnya.
Menurut penjelasan jurnal dari Harvard Medical School, saat seseorang jatuh cinta, bagian otak bernama ventral tegmental area—yang termasuk dalam “reward circuit” atau sistem penghargaan otak—akan menjadi sangat aktif.
Area ini juga berkaitan dengan rasa senang, candu, dan obsesi. Ketika kita memikirkan orang yang disukai, otak melepaskan dopamin dalam jumlah tinggi, yaitu zat kimia yang memunculkan rasa bahagia dan euforia.
Makanya, jatuh cinta sering terasa “nagih”. Otak memperlakukan perhatian kecil dari gebetan seperti hadiah yang bikin kita terus ingin lagi dan lagi.
Tapi efeknya nggak berhenti di situ. Dalam fase awal jatuh cinta, hormon stres kortisol juga ikut meningkat. Tubuh menganggap jatuh cinta sebagai semacam “krisis emosional”, sehingga muncul reaksi fisik seperti jantung berdebar, telapak tangan berkeringat, pipi memerah, sampai rasa mual atau bahasa gaulnya, butterflies in the stomach.
Yang paling menarik, peningkatan kortisol ini ternyata bisa menurunkan kadar serotonin, zat kimia otak yang berhubungan dengan kestabilan suasana hati. Akibatnya, muncullah pikiran obsesif khas orang kasmaran. Misalnya, kepikiran terus, overanalyze chat, nunggu notif, stalking tengah malam, sampai bikin skenario sendiri di kepala.
Para peneliti bahkan menyebut fase ini sebagai “intrusive, maddeningly preoccupying thoughts” alias pikiran yang terus mengganggu dan memenuhi kepala selama jatuh cinta.
Jadi, kalau akhir-akhir ini kamu merasa:
Terlalu sering ngecek chat,
Merasa punya “feminine intuition” tiap dia berubah sedikit,
Senyum sendiri pas dia balas singkat,
Tapi juga anxious banget kalau dia lama bales…
Tenang, kemungkinan besar itu bukan cuma kamu yang lebay. Memang otak orang jatuh cinta bekerja agak berbeda.
Pada akhirnya, “drop dead” terasa seperti lagu kebangsaan buat para overthinker yang sedang kasmaran: Banyak ngasih kode, kelihatan santai di chat, tapi langsung panik begitu orangnya muncul di depan mata.





