Dari Luwak Liar hingga Red Caturra di Meja Omakase RXD Hobby

kumparan.com
2 jam lalu
Cover Berita

Dari luar, rumah itu tampak seperti rumah pada umumnya di kawasan Serpong, Tangerang Selatan. Namun di lantai satunya, di sebelah garasi yang berisi mobil listrik terbaru dan koleksi Moge, itu sama sekali berbeda dengan rumah semua orang. Masuk ke ruangan itu, kita seperti masuk ke dunia pribadi seseorang yang hidup dengan terlalu banyak rasa penasaran.

Di satu sisi ada mesin roasting kopi dan rak berisi berbagai biji kopi dari banyak daerah. Di sisi lain berjajar die cast koleksi. Masuk lebih ke dalam, terpisah oleh sebuah pintu rapat, puluhan ular peliharaan berada di terrarium kaca. Semua berdampingan dalam satu oase yang terasa seperti laboratorium hobi milik seorang penggila detail.

Minggu, 10 Mei 2026 pukul 14.00 siang, Pandangan Jogja datang dari Yogyakarta memenuhi undangan PT Guedi Cipta Perkasa untuk menghadiri omakase kopi di rumah Muliadi Widodo di Serpong. Bersama Hardiyan dari PT Guedi, hadir pula Gunawan; Penasihat Senior Indonesian Human Rights Committee for Social Justice (IHCS) yang lama mengadvokasi hak-hak petani, serta Ocky yang aktif di dunia olahraga Indonesia.

Selama hampir empat jam, hingga pukul 18.00 sore, percakapan di ruangan itu terus bergerak dari satu cangkir ke cangkir berikutnya. Tapi yang dibicarakan ternyata jauh melampaui soal rasa kopi.

Tuan rumah siang itu bukan sosok yang sehari-hari hidup di industri kopi. Muliadi Widodo dikenal sebagai IT Division Head di PT Paramount Land dan PT Paramount Enterprise International. Namun di luar pekerjaannya, ia memiliki kegilaan lain: kopi.

Dan kegilaan itu tidak setengah-setengah.

Ia mendatangi petani langsung ke lereng gunung, tidur di kebun kopi, belajar roasting dari jaringan roaster internasional, hingga mengoleksi kopi-kopi yang bahkan sulit ditemukan di coffee shop biasa. Baginya, kopi bukan sekadar minuman, melainkan dunia yang bisa ditelusuri dari hulu sampai hilir: dari tanah, fermentasi, roasting, sampai rasa yang tertinggal di lidah.

“Saya suka alam, saya suka naik gunung. Jadi di kopi itulah saya sekalian menyalurkan hobi saya naik gunung,” kata Muliadi siang itu.

Omakase dimulai bukan dengan presentasi formal, melainkan percakapan santai yang dipandu oleh slide yang ditembakkan di dinding kecil dapur barista, sambil Muliadi mulai menyiapkan seduhan pertama.

“Ini kopi termahal di dunia,” katanya sambil menuangkan kopi pertama ke gelas-gelas kecil di meja.

Kopi pertama yang hadir adalah kopi luwak liar

Muliadi menjelaskan bahwa kopi tersebut bukan berasal dari luwak ternak, melainkan benar-benar dikumpulkan dari luwak liar di alam. Menurutnya, luwak liar hanya memilih buah kopi terbaik dari satu pohon sebelum berpindah ke pohon lain.

“Luwak itu kenapa biji kopinya enak, karena dia memilih dari satu pohon itu yang terbaik, Luwak punya insting dan penciuman tajam untuk memilih kopi yang paling manis, dan paling matang. Dan Luwak itu sistem pencernaannya sederhana” ujarnya.

Kopi luwak itu disajikan dengan metode tubruk yang kemudian disaring menggunakan French Press agar karakter rasanya tetap muncul tanpa meninggalkan ampas.

“Tubruk tapi disaring. Jadi tanpa ampas,” kata Muliadi.

Dari kopi luwak liar, omakase bergerak ke cappuccino dan kemudian red caturra, varietas kopi arabika yang menurut Muliadi masih sangat jarang ditemui di Indonesia. Caturra sendiri dikenal sebagai mutasi alami dari bourbon, salah satu garis tua kopi arabika, yang memiliki karakter rasa lebih bersih, manis, dan kompleks.

Umumnya, varietas caturra yang banyak beredar adalah yellow caturra dengan buah berwarna kuning saat matang. Namun siang itu, Muliadi menyajikan red caturra, varietas dengan buah merah yang menurutnya memiliki karakter rasa berbeda dan lebih sulit ditemukan.

“Yellow caturra banyak yang punya, tapi red caturra cukup rare. Saya mengembangkannya bersama petani yang tidak bisa saya sebutkan namanya,” jelas Muliadi sambil tertawa.

Menurutnya, pengembangan varietas kopi seperti red caturra membutuhkan proses panjang karena kualitas rasa sangat dipengaruhi faktor lahan, ketinggian, hingga cara panen dan roasting. Karena itu, tidak semua petani mau membuka detail kebun kopi spesial mereka ke publik.

“Petaninya kalau yang begini-begini mereka nggak mau sembarang jual,” ujar Muliadi.

Namun siang itu, omakase di RXD Hobby ternyata bukan hanya soal kopi-kopi klasik.

Di tengah pembahasan tentang petani, roasting, dan sejarah kopi dunia, Muliadi beberapa kali menyajikan eksperimen-eksperimen kopi yang membuat meja siang itu berubah seperti laboratorium rasa.

Salah satu sajian yang paling menarik perhatian adalah cappuccino bening. Minuman itu tetap memiliki aroma cappuccino dan sensasi creamy seperti susu, tetapi tampil transparan seperti minuman soda.

“Cappuccino bening,” kata Muliadi sambil menyodorkan gelas kecil ke meja.

Para tamu di meja itu sempat tertawa kebingungan karena rasa yang muncul tidak lagi terasa seperti kopi pada umumnya.

“Udah nggak kayak minum kopi,” celetuk salah satu peserta omakase.

Muliadi tampak menikmati reaksi itu. Baginya, dunia kopi memang terus bergerak ke arah eksperimental.

“Perkembangan kopi sekarang makin ke sini makin aneh,” ujarnya.

Siang itu, satu per satu seduhan terus datang ke meja. Ada kopi anaerobik dari Kerinci yang disebut pernah menjadi juara nasional tiga tahun berturut-turut, ada penjelasan tentang roasting, fermentasi, hingga bagaimana rasa kopi bisa berubah tergantung suhu seduh dan proses pascapanen.

Di sela penyeduhan, Muliadi juga mulai membuka cerita panjang tentang sejarah kopi dunia. Ia bercerita tentang asal-usul kopi dari Afrika, kisah kambing yang tetap terjaga setelah memakan buah kopi, hingga bagaimana kedai kopi modern berkembang di Italia sebelum akhirnya kopi menyebar ke berbagai penjuru dunia.

Menurutnya, Indonesia sebenarnya memiliki posisi sangat penting dalam sejarah kopi global.

Ia menyebut bagaimana kopi Jawa pada masa kolonial Belanda pernah begitu terkenal hingga muncul istilah “A Cup of Java” di Eropa. Bahkan, menurutnya, istilah Java dalam dunia komputer juga diambil dari popularitas kopi Jawa saat itu.

Menjelang akhir omakase, Muliadi lalu menyiapkan sajian penutup yang paling tidak biasa: espresso boom.

Espresso panas dituangkan langsung ke dalam air soda dingin. Hasilnya bukan rasa pahit seperti espresso biasa, melainkan sensasi ringan dan berbuih yang justru mengingatkan pada root beer.

Dan seperti omakase pada umumnya, para tamu di meja itu tidak benar-benar tahu rasa apa yang akan datang berikutnya.

Selama empat jam di lantai satu rumahnya di Serpong itu, kopi terasa jauh lebih besar daripada sekadar minuman.

Di tangan Muliadi, kopi berubah menjadi cerita tentang gunung, petani, sejarah, eksperimen rasa, dan rasa penasaran yang tampaknya tidak pernah benar-benar selesai.


Artikel Asli

Lanjut baca:

thumb
14 Lokasi Nobar Gratis Persib vs Persijap di Jawa Barat dan Sekitarnya
• 15 jam lalutvonenews.com
thumb
Kenali Sisi Lain Kota, Hotel di Yogya Ini Ajak Tamu Jelajahi Kampung dan Pasar
• 5 jam lalukumparan.com
thumb
"Blackout" Sumatera dan Rapuhnya Infrastruktur Publik
• 3 jam lalukompas.com
thumb
Anggota DPRD Bangkalan Senyum-senyum Saat Didemo Anak Sendiri
• 23 jam laludetik.com
thumb
Sempat Bimbang, Rifki Rela Tinggalkan Karier Gemilang demi Sekolah Rakyat
• 1 jam laludetik.com
Berhasil disimpan.