jpnn.com, JAKARTA - Apel kesiapsiagaan dan gelar peralatan menjadi puncak rangkaian Peringatan 20 Tahun Gempa Bumi Yogyakarta dan Jawa Tengah yang digelar di Lapangan Garuda, kawasan Candi Prambanan, Sabtu (23/5).
Emergency Disaster Reduction and Rescue (EDRR) menjadikan momentum apel ini sebagai usaha membangun kesadaran kolektif untuk bisa tanggap terhadap bencana.
BACA JUGA: Daerah Terdampak Bencana di Sumatra Diminta Segera Realisasikan Tambahan TKD Rp 10,6 T
Country Director for Government Relations EDRR Indonesia, Rakyan Adibrata mengatakan pihaknya mendukung Gelar Peralatan sebagai upaya kesiapsiagaan bencana.
Rakyan percaya tanggap bencana juga harus didukung oleh teknologi dan kapasitas yang nyata di lapangan.
BACA JUGA: Karya Penyintas Binaan BAZNAS Hadir di Pameran EDRR 2025
“Ini adalah pernyataan kolektif bahwa kita memilih untuk siap. Gempa Yogyakarta dua puluh tahun lalu mengajarkan kecepatan dan ketepatan penanganan menentukan banyak nyawa,” kata Rakyan, Sabtu.
Kegiatan diikuti sekitar 1.000 peserta dari unsur pentahelix dan dihadiri perwakilan sedikitnya delapan kementerian dan lembaga negara di tingkat pusat, dengan Indonesia turut mendukung pameran kapasitas dan teknologi penanggulangan bencana.
Rakyan menyebut apel siaga ini sesungguhnya menjadi rangkaian puncak dari dua hari penyelenggaraan peringatan 20 Tahun Gempa Bumi Yogyakarta dan Jawa Tengah.
Apel yang diselenggarakan Kementerian Koordinator Bidang Pembangunan Manusia dan Kebudayaan (Kemenko PMK) ini dilakukan bersama dengan PT Taman Wisata Candi, PT Astra International Tbk, dan EDRR Indonesia.
Kegiatan ini menghadirkan perwakilan kementerian dan lembaga negara — di antaranya Badan Nasional Penanggulangan Bencana (BNPB), Badan Nasional Pencarian dan Pertolongan (Basarnas), Kementerian Sosial, Kementerian Kesehatan, Kementerian Pendidikan Dasar dan Menengah, Kementerian Koperasi, dan Badan Amil Zakat Nasional (BAZNAS) — bersama jajaran pemerintah daerah, dunia usaha, akademisi, organisasi kemanusiaan, serta komunitas relawan kebencanaan.
Amanat Menteri Koordinator Bidang Pembangunan Manusia dan Kebudayaan, Pratikno, selaku Inspektur Apel dibacakan oleh Deputi Bidang Koordinasi Penanggulangan Bencana dan Konflik Sosial Kemenko PMK, Lilik Kurniawan.
Dalam amanatnya, Menko PMK menegaskan bahwa peringatan dua dekade gempa tidak berhenti pada upaya mengenang peristiwa masa lalu.
“Peringatan ini harus menjadi sarana refleksi bersama untuk memperkuat memori kolektif bangsa bahwa kesiapsiagaan merupakan investasi yang sangat penting dalam upaya mengurangi risiko bencana,” demikian amanat Menko PMK Pratikno sebagaimana dibacakan Lilik Kurniawan.
Dalam amanat tersebut, Menko PMK mengapresiasi penyelenggaraan Apel Kesiapsiagaan dan Gelar Peralatan sebagai wujud nyata sinergi seluruh unsur pentahelix.
Dia menekankan apel siaga ini sekaligus menjadi momentum memperkuat kesiapsiagaan menghadapi berbagai risiko bencana, termasuk potensi dampak fenomena El Nino yang dapat meningkatkan risiko kekeringan, krisis air bersih, serta kebakaran hutan dan lahan.
Menko PMK menyoroti pentingnya dukungan teknologi dan sistem informasi yang terintegrasi agar proses pemantauan, analisis, dan pengambilan keputusan penanggulangan bencana dapat dilakukan secara lebih cepat dan tepat.
Pratikno juga menyebut EDRR Indonesia sebagai mitra dalam amanat tersebut, mendukung penyelenggaraan pameran ini sebagai bagian dari komitmennya memperkenalkan teknologi dan inovasi penanggulangan bencana kepada para pemangku kepentingan.
Sementara itu pada kegiatan gelar peralatan ditampilkan beragam sarana penanggulangan bencana milik kementerian, lembaga, dan mitra dunia usaha. Peralatan yang ditampilkan itu mulai dari kendaraan operasional, perlengkapan pencarian dan pertolongan, hingga teknologi pendukung mitigasi.
Rangkaian kegiatan ini dilanjutkan dengan peninjauan Pasar Penyintas yang menampilkan produk pelaku usaha mikro, kecil, dan menengah (UMKM) penyintas Gempa Yogyakarta 2006. Pada kesempatan tersebut, penghargaan diserahkan kepada perwakilan UMKM Pasar Penyintas sebagai bentuk dukungan terhadap pemulihan ekonomi pascabencana.
Apel Kesiapsiagaan dan Gelar Peralatan menutup rangkaian Peringatan 20 Tahun Gempa Bumi Yogyakarta dan Jawa Tengah yang berlangsung selama dua hari, 22–23 Mei 2026.
Melalui pendekatan kolaboratif pentahelix, kegiatan ini diharapkan memperkuat koordinasi lintas sektor, meningkatkan kesiapan sumber daya dan peralatan, serta menumbuhkan kesadaran masyarakat agar menjadi subjek yang proaktif dan tangguh dalam mengurangi risiko bencana.
Sebagaimana diketahui gempa bumi berkekuatan 5,9 pada skala Richter yang mengguncang Yogyakarta dan Jawa Tengah terjadi pada 27 Mei 2006.
Guncangan yang terjadi selama sekitar 57 detik itu menelan lebih dari 5.700 korban jiwa, merusak lebih dari 200.000 rumah dan infrastruktur, serta menimbulkan kerugian lebih dari Rp 29 triliun. (mcr10/jpnn)
Redaktur & Reporter : Elvi Robiatul




