Pantau - Badan Riset dan Inovasi Nasional (BRIN) mengkaji potensi pangan fermentasi berbasis kedelai seperti tempe yang dikombinasikan dengan probiotik untuk mendukung healthy aging atau penuaan sehat bagi lansia, terutama perempuan pasca-menopause yang rentan mengalami masalah kesehatan tulang dan perubahan mikrobiota usus.
Penelitian tersebut dilakukan oleh Iskandar Azmy Harahap dari Pusat Riset Teknologi dan Proses Pangan BRIN.
Iskandar menjelaskan perempuan lansia memerlukan perhatian khusus karena memiliki usia harapan hidup lebih panjang dibandingkan laki-laki.
Ia mengungkapkan, "Pada perempuan lansia, fase menopause menjadi salah satu periode krusial karena penurunan hormon estrogen berkaitan dengan berbagai masalah kesehatan, seperti perubahan mikrobiota usus dan penurunan kepadatan mineral tulang."
Fokus Penelitian pada Kesehatan Tulang LansiaBRIN menilai osteoporosis menjadi salah satu tantangan kesehatan utama di tengah meningkatnya populasi lansia di Indonesia.
Selama ini, pengobatan osteoporosis masih banyak mengandalkan terapi konvensional yang memiliki keterbatasan, terutama untuk penggunaan jangka panjang.
Karena itu, BRIN meneliti intervensi berbasis nutrisi melalui pangan fermentasi berbasis kedelai seperti tempe yang kaya kandungan isoflavon.
Tempe tersebut dikombinasikan dengan probiotik dan kalsium untuk mendukung kesehatan tulang serta menjaga keseimbangan mikrobiota usus.
Iskandar mengatakan, "Salah satu yang diteliti adalah potensi pangan fermentasi berbasis kedelai, seperti tempe, dikombinasikan dengan probiotik untuk menjaga keseimbangan mikrobiota dan kesehatan tulang."
Hasil Awal Dinilai MenjanjikanHasil penelitian awal menunjukkan kombinasi nutrisi dari tempe dan probiotik berpotensi mendukung proses pembentukan sel tulang.
Dalam uji pra-klinis, konsumsi tempe bersama probiotik dikaitkan dengan perbaikan status kalsium dan indikator metabolisme tulang.
Studi pada perempuan pasca-menopause juga menunjukkan indikasi bahwa probiotik dapat membantu menjaga keseimbangan proses metabolisme tulang.
Meski demikian, BRIN menegaskan hasil penelitian tersebut masih memerlukan validasi lebih lanjut sebelum direkomendasikan secara luas kepada masyarakat.
Iskandar menegaskan, "Penelitian dari sel, hewan, hingga manusia merupakan proses bertahap sehingga hasilnya tidak bisa langsung digeneralisasi tanpa validasi yang kuat."
BRIN berharap intervensi berbasis nutrisi dan pemanfaatan pangan lokal dapat menjadi strategi penting dalam menghadapi tantangan populasi menua di Indonesia.
Penelitian tersebut juga diharapkan mampu meningkatkan kualitas hidup lansia pada masa depan.




