TANGERANG, KOMPAS.com - Hendro Prasetyo, seorang aktivis kemanusiaan yang mengikuti misi Global Sumud Flotilla II, bersama para aktivis lain yang ditahan tentara Israel sepakat melakukan aksi mogok makan, meski tentara Israel memberikan roti dan air minum.
Menurut Hendro, para aktivis tidak bisa memastikan keamanan makanan dan minuman yang diberikan.
Baca juga: Kesaksian Relawan WNI Saat Ditahan Tentara Israel: Saya Dipukul, Diinjak, dan Disetrum
"Kita enggak tahu apakah ada racun atau enggak gitu. Sehingga ya pasti dari saya sendiri melakukan hunger strike (mogok makan), tidak makan rotinya sama sekali," ujar Hendro saat tiba di Bandara Soekarno-Hatta, Tangerang, Minggu (24/5/2026) sore.
"Tapi karena dehidrasi itu sangat enggak bisa saya tahan, jadi minum (dari keran)," tuturnya.
Baca juga: “Masih Ngumpet”, Polosnya Hanan Tunggu Ayahnya Pulang dari Tahanan Israel
Hendro menjelaskan, saat masih ditahan di kapal kecil, tentara Israel memberikan roti dan air dalam botol.
Namun, ketika para tahanan dipindahkan ke kapal induk Israel dan dimasukkan ke ruang penjara berbentuk kontainer, air minum hanya diberikan dalam satu teko untuk puluhan orang.
"Jadi kita minum air keran, bahkan dikasih kayak teko itu pun teko dibagi untuk 30 orang," tutur Hendro.
Dimasukkan ke penjara gelapHendro menjelaskan, penahanan para aktivis dimulai ketika sejumlah drone datang mengitari kapal yang membawa kontingen Global Sumud Flotilla II.
Setelah itu, seluruh akses di kapal dihentikan karena para aktivis merasa situasi sudah tidak aman.
"Kita mulai pakai semacam life jacket. Kemudian memastikan alat komunikasi kita harus kita buang karena khawatir akan dimanfaatkan Israel dan segala informasinya akan tersebar," ungkap Hendro.
Tak lama kemudian, tentara Israel datang menggunakan sejumlah speedboat untuk memindahkan para aktivis ke kapal tanker.
Setelah itu, mereka kembali dipindahkan ke kapal utama yang memiliki penjara berbentuk kontainer.
"Nah, di situ baru ada penyiksaan khusus dalam satu kontainer yang sangat-sangat gelap. Tapi saya alhamdulillah masih bisa melihat ada tiga tentara Israel dengan badan besar menggunakan senjata panjang," tutur Hendro.
Senjata panjang tersebut memiliki ujung yang dapat mengeluarkan sengatan listrik. Di dalam penjara gelap itu, para aktivis dipukuli dan ditendang.
Namun karena sebagian besar tahanan tidak merespons saat dipukul dan ditendang, tentara Israel kemudian menggunakan senjata listrik tersebut.





