Bisnis.com, JAKARTA — Langkah pemerintah melakukan perampingan terhadap ratusan anak usaha BUMN dinilai menjadi strategi tepat untuk memacu produktivitas. Namun, tantangan besar terletak usai merger dilakukan.
Managing Partner BUMN Research Group LM FEB Universitas Indonesia (UI), Toto Pranoto, menyatakan pengurangan entitas akan berdampak langsung pada struktur biaya dan meminimalkan tumpang tindih fungsi operasional.
Toto memaparkan, sejumlah anak usaha korporasi kakap pelat merah yang dipangkas adalah 47 anak usaha PT Perkebunan Nusantara (Persero) atau PTPN, 28 anak usaha PT Semen Indonesia (Persero) Tbk. (SIG), hingga 17 anak usaha PT Pelabuhan Indonesia (Persero) atau Pelindo.
“Diharapkan kinerja mereka bisa meningkat karena proses ini bisa meningkatkan efisiensi dan potensi sinergi BUMN yang lebih besar,” ujar Toto dalam keterangan tertulisnya, dikutip Minggu (24/5/2026).
Kendati demikian, dia mengingatkan bahwa tantangan utama dari proses konsolidasi makro ini terletak pada tahapan implementasi pascamerger. Banyaknya kegagalan penciptaan nilai di tubuh BUMN usai konsolidasi umumnya disebabkan oleh eksekusi integrasi yang kurang matang.
“Perlu kerja keras di proses eksekusi karena biasanya value creation gagal tercipta di BUMN karena kegagalan post merger integration-nya,” pungkasnya.
Baca Juga
- Danantara Rampingkan 180 BUMN Lewat Skema Konsolidasi hingga Pembubaran
- Danantara Targetkan Merger BUMN Rampung 2026, Semua Sektor Jadi Prioritas
Oleh karena itu, keberadaan Tim Pengelola Proyek atau Project Management Office (PMO) yang kuat dan independen menjadi syarat mutlak untuk mengawal proses transformasi serta integrasi korporasi secara menyeluruh.
Sebelumnya, Kepala Badan Pengelola (BP) BUMN sekaligus Chief Operating Officer (COO) Danantara, Dony Oskaria, menjelaskan bahwa hingga saat ini sebanyak 180 perusahaan di bawah payung BUMN telah berhasil ditata.
Penataan tersebut, lanjutnya, dieksekusi melalui berbagai skema strategis yang disesuaikan dengan kondisi dan arah bisnis masing-masing entitas.
“Penataan dilakukan mulai dari konsolidasi, restrukturisasi, divestasi, hingga pembubaran,” ujar Dony dalam rapat evaluasi bersama PT Danantara Asset Management di Jakarta, Selasa (19/5/2026).
Menurutnya, proses streamlining atau perampingan harus menjamin setiap perusahaan memiliki tata kelola yang kuat serta mampu memberikan kontribusi nyata bagi kas negara dan masyarakat luas.
Sejalan dengan cetak biru penataan tersebut, Dony menyampaikan bahwa fokus pembahasan dalam pertemuan kali ini mencakup percepatan penyelesaian struktur perusahaan yang dinilai belum optimal.





