jpnn.com, JAKARTA - Acara puncak Bulan Kebangkitan Ulama Perempuan Indonesia (BKUPI) resmi digelar di Masjid Cut Nyak Dien, Jakarta, pada Minggu (24/5) dan dihadiri sekitar seribu peserta, termasuk jaringan internasional.
Panitia acara mengusung misi besar mewujudkan Indonesia tanpa kekerasan dalam acara yang diikuti secara daring dan luring.
BACA JUGA: Ikhtiar Ulama Perempuan Membangkitkan Indonesia Melawan Kekerasan
Ketua Panitia BKUPI Nyai Pera Sopariyanti menyebutkan kegiatan ini dibangun secara kolektif oleh berbagai simpul masyarakat sipil dan jaringan keulamaan perempuan.
Menurut dia, kegiatan dilakukan demi menghidupkan kembali ingatan kolektif terhadap kiprah ulama perempuan dalam sejarah Indonesia.
BACA JUGA: Kepala BPIP Teguhkan Peran Ulama Perempuan dalam Merawat Kebangsaan
"Gerakan ini dirawat oleh seluruh simpul oleh lima lembaga penyangga," kata Nyai Pera Sopariyanti dalam sambutannya.
Acara BKUPI digelar sepanjang Mei 2026. Selama satu bulan, tercatat terdapat 24 rangkaian kegiatan yang melibatkan jaringan ulama perempuan, pesantren, perguruan tinggi, komunitas, hingga media partner.
BACA JUGA: PKB Berkomitmen Memperkuat Ponpes di Tengah Banyaknya Kasus Kekerasan Seksual
Satu agenda utama dalam rangkaian ialah pembacaan 31 manaqib tokoh ulama perempuan Indonesia yang dilaksanakan selama 20 hari berturut-turut.
Selain itu, jaringan ulama perempuan Indonesia juga menggelar gerakan khataman Al-Qur’an selama lima hari menjelang acara puncak pada Minggu ini.
Majelis Musyawarah Kongres Ulama Perempuan Indonesia (KUPI) melalui perwakilan mereka, Nyai Iklilah Muzayyanah Dini Fajriyah meluncurkan dokumentasi dan pemetaan jejak perjuangan ulama wanita pada Minggu ini.
Mereka menamai dokumentasi itu dengan Atlas Ulama Perempuan Indonesia dan Buku Manaqib Ulama Perempuan Indonesia.
Nyai Iklilah ?mengatakan dokumentasi menjadi penting sebagai sumber referensi sekaligus pengakuan sejarah atas kontribusi ulama perempuan.
“Atlas KUPI bukan sekadar daftar nama," kata Nyai Iklilah.
Momen puncak acara diwarnai dengan Pidato Kebangkitan Ulama Perempuan yang disampaikan oleh Ketua Majelis Musyawarah KUPI Nyai Badriyah Fayumi.
Nyai Badriyah menyoroti maraknya kekerasan domestik, kekerasan seksual di lembaga pendidikan, hingga kekerasan struktural yang terjadi di tanah air.
“Ulama perempuan Indonesia mengutuk keras semua bentuk kekerasan fisik dan seksual yang terjadi di ranah keluarga, lembaga pendidikan, ruang publik maupun kekerasan negara atau oleh aparat negara," ungkap Nyai Badriyah Fayumi.
Sebagai bentuk komitmen nyata, acara ini ditutup dengan pembacaan pernyataan sikap kolaborasi lembaga penyangga bertajuk “Risalah Cut Nyak Dien Menteng”.
Deklarasi tersebut menegaskan komitmen bersama untuk mewujudkan "Indonesia tanpa kekerasan dari ruang domestik hingga negara".
Selain itu, disosialisasikan pula program Beasiswa Kader Ulama Perempuan untuk memperkuat kaderisasi di berbagai wilayah. (ast/jpnn)
BACA ARTIKEL LAINNYA... John Herdman Umumkan Skuad untuk FIFA Matchday Juni, Ini Masih Sementara
Redaktur : Rah Mahatma Sakti
Reporter : Aristo Setiawan




