Suami Istri Tipu Pejabat-Presiden RI, Jalan-Jalan Pakai Uang Negara

cnbcindonesia.com
13 jam lalu
Cover Berita
Foto: Ilustrasi Sidang Pengadilan. (Pexels)

 

Naskah ini merupakan bagian dari CNBC Insight, rubrik yang menyajikan ulasan sejarah untuk menjelaskan kondisi masa kini lewat relevansinya di masa lalu. Khusus terkait bencana, naskah ini diharapkan bisa membangun kesadaran dan kewaspadaan terhadap mitigasi bencana.

 

Jakarta, CNBC Indonesia - Linimasa sejarah mencatat momen mencengangkan saat Presiden Indonesia sempat terperdaya oleh aksi tipu-tipu seorang pria yang mengklaim sebagai kaum ningrat bergelimang harta. Siapa sangka, sosok yang mengaku berdarah bangsawan tersebut sebenarnya hanyalah warga biasa yang berasal dari kawasan pedalaman hutan.


Skandal memalukan ini pun tercatat sebagai salah satu kasus penipuan paling gempar di tanah air lantaran sukses mengelabui jajaran birokrat kelas atas hingga menyeret nama Presiden pertama RI, Soekarno.

Kisahnya bermula pada 8 Agustus 1957. Kala itu, muncul seorang pria berusia 42 tahun bernama Idrus di Palembang. Fisiknya gagah dan berwibawa. Kepada banyak orang, dia mengaku sebagai pangeran dari wilayah yang dulu menjadi pusat kekuasaan Kerajaan Sriwijaya.

Keyakinan masyarakat terhadap pengakuannya makin besar setelah dia datang bersama lima orang. Semuanya berpenampilan sipil-militer. Kepada masyarakat, Idrus beralasan kedatangannya ke kota karena tempat tinggalnya dilanda konflik Pemerintahan Revolusioner Republik Indonesia (PRRI). PRRI merupakan gerakan protes dari Sumatera Barat atas sikap pemerintah pusat yang sangat sentralisasi dan melupakan daerah.

Menurut laporan koran Belanda Het Parool (19 Juli 1958), awalnya hanya sedikit orang yang percaya. Namun, lama-kelamaan makin banyak orang yakin, termasuk Walikota Palembang.

Besarnya kepercayaan itu membuat Idrus dibawa ke Jakarta untuk bertemu Presiden Soekarno. Berdasarkan pemberitaan Nieuwsblad van het Zuiden (7 April 1959), pada 10 Maret 1958, Idrus diterima langsung oleh Presiden di Istana Negara.

Kepada Soekarno, Idrus mengaku sebagai bangsawan sekaligus raja dari Suku Anak Dalam. Soekarno yang percaya begitu saja lantas menghormati dan menjamunya dengan berbagai keistimewaan.

Idrus diberi fasilitas berkeliling kota-kota di Jawa dengan biaya negara. Ini disertai juga dengan pengawalan polisi disertai sirene yang bisa membelah kepadatan jalanan kota.

Tercatat dia pergi ke Jakarta, Bandung, Semarang, Solo, Yogyakarta, dan Madiun. Di tiap kota, dia selalu mendapat sambutan meriah dari para pemimpin daerah.
Di Jakarta, misalnya, saat bertemu Wali Kota Sudiro, dia dijamu dalam makan malam mewah. Namun, kebiasaannya berbeda dari tamu agung pada umumnya. Idrus lebih suka menyantap daging mentah, terutama ular.

Di Bandung, Idrus mendapat akses ke beragam tempat wisata dan hiburan. Di kota itu pula dia bertemu seorang perempuan bernama Markonah, yang kemudian dinikahinya. Sejak saat itu, keduanya memperkenalkan diri sebagai raja dan ratu, lengkap dengan pengawalan polisi dalam perjalanan keliling Jawa.

Baca: Australia Kuasai Pulau Harta Karun yang Dulu Berpotensi Milik RI

Padahal, faktanya, Suku Anak Dalam tidak memiliki raja atau ratu. Jabatan tertinggi dalam komunitas tersebut hanyalah kepala suku.

Sampai akhirnya, nasib sial menimpa keduanya ketika berada di Madiun. Menurut Nieuwsblad van het Noorden (7 April 1959), otoritas setempat mulai curiga karena sikap Idrus dan Markonah tidak mencerminkan martabat bangsawan.

Akhirnya, keduanya dibawa ke kantor polisi dan diinterogasi. Dari sana terbongkar mereka bukanlah raja dan ratu. Idrus hanyalah seorang kepala desa, sementara Markonah perempuan biasa.

Kasus itu pun berlanjut ke pengadilan. Idrus dan Markonah mengaku bersalah dan memohon keringanan hukuman. Namun, hukum tetap ditegakkan karena menyangkut wibawa seorang Presiden RI dan para pejabat dari Jakarta, Bandung, Semarang, Solo, Yogyakarta, dan Madiun telah tertipu.

"Saya sangat menyesal dengan peristiwa ini. Saya berjanji tidak akan mengulanginya lagi," ujar Markonah di persidangan.

Majelis hakim akhirnya menjatuhkan hukuman 9 bulan penjara kepada keduanya. Kasus ini kemudian jadi buah bibir masyarakat sebab banyak pejabat hingga orang nomor satu di RI menjadi korban.


(tps/mkh) Add as a preferred
source on Google
Saksikan video di bawah ini:
Video: Penjualan Mobil Meledak - Kisah Tragis Presiden Mesir

Artikel Asli

Lanjut baca:

thumb
Kolaborasi Dinas DLHP, Pariwisata, dan Kecamatan Galesong Bersihkan Sampah Wisata Bahari Pulau Sanrobengi
• 22 jam laluharianfajar
thumb
Timo Scheunemann Sebut Kompetisi Usia Dini Jadi Kunci Pembinaan Sepak Bola Putri
• 14 jam lalupantau.com
thumb
Kesaksian Relawan WNI GSF: Kapal Dibajak, Dirusak, Hingga Disiksa Militer Israel
• 10 jam lalutvonenews.com
thumb
Murah Banget! Alat Bekal Makan di Transmart Cuma Rp 12 Ribu
• 12 jam lalucnbcindonesia.com
thumb
Panggil Seller dan Platform, Kemendag Kebut Revisi Aturan E-Commerce
• 4 jam lalubisnis.com
Berhasil disimpan.