Saatnya Menghentikan Reproduksi Mentalitas Kolonial dalam Diri Kita

kompas.com
3 jam lalu
Cover Berita

PERSOALAN kolonialisme sesungguhnya belum selesai. Ia belum benar-benar menjadi masa lalu.

Kolonialisme hanya berganti bentuk: dari pendudukan fisik menjadi cara pandang, mentalitas, bahkan nostalgia.

Hal itulah yang mengemuka dalam Forum Praksis Seri ke-20 di Jakarta pekan lalu ketika penulis Belanda Michel Maas membedah bukunya De Gelogen Kolonie: Naar Indonesië om Indië te vergeten.

Buku itu secara terang-terangan menggugat romantisme masyarakat Belanda terhadap Hindia Belanda.

Kita perlu jujur mengakui bahwa hingga hari ini, sebagian masyarakat Belanda masih membayangkan Indonesia melalui lensa kolonial.

Yang mereka ingat bukan penderitaan rakyat jajahan, melainkan ketertiban kota kolonial, bangunan tua, kanal-kanal, perkebunan tropis, dan kehidupan eksotis di negeri jauh.

Hindia Belanda dikenang sebagai “masa indah” yang tenteram dan damai. Padahal damai bagi siapa?

Tertib bagi siapa? Nyaman bagi siapa?

Baca juga: Indonesia Menonton Sepak Bola, Negara Lain Menjualnya

Romantisme kolonial selalu bekerja dengan cara yang sama: menghapus suara korban dan hanya menyisakan kenangan dari sudut pandang penguasa.

Dalam nostalgia kolonial, kerja paksa lenyap dari ingatan. Kelaparan akibat Tanam Paksa dianggap sekadar catatan kaki sejarah.

Kekerasan militer dilupakan. Yang tinggal hanyalah foto-foto hitam putih yang tampak indah di museum atau kartu pos wisata.

Karena itu, buku Maas penting bukan hanya bagi Belanda, tetapi juga bagi Indonesia.

Buku itu mengingatkan bahwa kolonialisme tidak pernah dibangun demi kemajuan bangsa terjajah.

Infrastruktur kolonial bukanlah hadiah. Ketertiban kolonial bukanlah kemurahan hati. Semuanya dirancang untuk melayani kepentingan ekonomi dan politik penjajah.

.ads-partner-wrap > div { background: transparent; } #div-gpt-ad-Zone_OSM { position: sticky; position: -webkit-sticky; width:100%; height:100%; display:-webkit-box; display:-ms-flexbox; display:flex; -webkit-box-align:center; -ms-flex-align:center; align-items:center; -webkit-box-pack:center; -ms-flex-pack:center; justify-content:center; top: 100px; }

Sejarawan Peter Carey dalam forum tersebut bahkan menyebut sistem Tanam Paksa sebagai bentuk perbudakan.


Artikel Asli

Lanjut baca:

thumb
Lalu Lintas Tol Jakarta Senin Pagi: Sejumlah Titik Padat, Ada Contraflow
• 3 jam lalukompas.com
thumb
Barcelona Kejar Julian Alvarez dan Harry Kane untuk Isi Kekosongan Lewandowski, Siapkan Anggaran Jumbo
• 22 jam laluharianfajar
thumb
Perdamaian Iran dan Amerika Serikat Makin Dekat, Selat Hormuz Sepakat Dikendalikan Siapa?
• 21 jam laludisway.id
thumb
Fenomena YouTube Marapthon: Ketika Ruang Digital Jadi "Kamar Kos Bersama"
• 2 jam lalukumparan.com
thumb
Prabowo Presiden Beri Arahan kepada 400 Calon Pimpinan BUMN di Hambalang
• 13 jam lalusuarasurabaya.net
Berhasil disimpan.