IHSG Berpotensi Tertekan Selama Pekan Ini, Berikut Rekomendasi Saham dari Analis

wartaekonomi.co.id
7 jam lalu
Cover Berita
Warta Ekonomi, Jakarta -

Indeks Harga Saham Gabungan (IHSG) diperkirakan masih bergerak jauh di area 7.166 pada sepekan ke depan 25-29 Mei 2026 atau yang hanya akan berlangsung selama tiga hari perdagangan karena ada libur dan cuti bersama Hari Raya Idul Adha (27-28 Mei 2026). Ini mengindikasikan tren pelemahan jangka menengah masih dominan.

Equity Analyst PT Indo Premier Sekuritas (IPOT), Brigita Kinari, melihat momentum indeks masih relatif lemah tercermin dari indikator MACD yang bertahan di area negatif dan belum menunjukkan sinyal pembalikan arah yang kuat, sehingga penguatan yang terjadi sejauh ini masih dinilai sebagai rebound teknikal dan belum mengonfirmasi perubahan tren utama.

Ia menambahkan meski IHSG berhasil menguat 1,10% pada perdagangan Jumat, potensi pemulihan indeks diperkirakan masih dibayangi volatilitas tinggi menjelang effective date rebalancing MSCI pada 29 Mei 2026, terutama pada saham-saham big caps yang masih berpotensi mengalami tekanan jual.

Selain itu, pasar juga diperkirakan tetap sensitif terhadap perkembangan implementasi kebijakan ekspor satu pintu melalui Danantara Sumberdaya Indonesia (DSI). 

"Dalam jangka pendek, IHSG diperkirakan bergerak sideways dengan volatilitas tinggi pada rentang support 5.996–5.899 dan resistance 6.318–6.459.Area 5.899 menjadi level penting untuk menjaga peluang rebound jangka pendek, sementara pergerakan di atas 6.318 berpotensi membuka ruang penguatan lanjutan," kata dia dalam analisanya Senin (25/5/2026).

Baca Juga: Saat IHSG Ambruk 8,35%, Saham Ini Justru Cetak Cuan

Baca Juga: IHSG Anjlok 8,35%, Saham TPIA hingga BBCA Jadi Pemberat

Meski demikian, tekanan jual diperkirakan mulai mereda setelah periode rebalancing berakhir, sehingga membuka peluang bagi IHSG untuk bergerak lebih stabil secara bertahap, terutama apabila Rupiah tetap terjaga dan sentimen global membaik seiring perkembangan negosiasi AS–Iran yang berpotensi menurunkan tekanan pada harga energi dan yield US Treasury.

Merespons dinamika market yang ada, berikut rekomendasi trading saham pada emiten-emiten berikut ini:

- Buy MDKA (Entry: 2.720, Target Price (TP): 3.000, Stop Loss (SL): 2.610). 

MDKA secara price structure berhasil ditutup di atas EMA5 disertai spike volume, mengindikasikan momentum rebound jangka pendek mulai terbentuk. Sentimen juga didukung aksi akumulasi asing dengan net buy mencapai Rp691 miliar dalam sepekan terakhir, sehingga membuka peluang penguatan lanjutan selama harga mampu bertahan di atas area support terdekat.

- Buy BTPN (Entry: 2.380, Target Price (TP): 2.530, Stop Loss (SL): 2.310). 

BTPN bergerak uptrend dan masih konsisten bertahan di atas EMA5 hingga EMA50, mencerminkan momentum kenaikan yang masih terjaga. Pergerakan saham juga didukung aksi akumulasi asing dengan net buy sebesar Rp2,3 miliar dalam sepekan terakhir, sehingga membuka peluang penguatan lanjutan selama harga mampu bertahan di area support terdekat.

- Buy ULTJ (Entry : 1.635, Target Price (TP): 1.725, Stop Loss (SL): 1.590). 

ULTJ membentuk pola higher low (HL) dengan rebound di area EMA50, mengindikasikan tekanan jual mulai mereda dan peluang rebound jangka pendek mulai terbuka. Momentum penguatan juga mulai terkonfirmasi dari indikator MACD yang bergerak naik dan mengarah ke area bullish crossover, sehingga memperbesar potensi lanjutan kenaikan selama harga bertahan di atas support terdekat.

- Buy Reksa Dana Saham Premier ETF IDX High Dividend 20 (XIHD). 

Power Fund Series (PFS) berkode XIHD menawarkan strategi income investing yang efisien melalui eksposur ke 20 saham Indonesia dengan dividend yield tinggi dan fundamental yang relatif solid. ETF ini cocok di tengah pasar yang volatil karena mampu mengkombinasikan potensi pendapatan dividen yang stabil dengan peluang capital gain sekaligus solusi praktis bagi investor yang ingin menikmati imbal hasil dividen tanpa perlu melakukan stock picking

Di sisi lain, kenaikan BI Rate ke 5,25% berpeluang membawa dampak positif ke sektor perbankan yang mendominasi sekitar 45,6% bobot XIHD. Hal ini berpotensi menjadi katalis positif bagi kinerjanya sekaligus meningkatkan daya tarik yield saham dalam XIHD dibandingkan instrumen fixed income


Artikel Asli

Lanjut baca:

thumb
SMAN 2 Sidrap Juara LKBB-PB MPR RI Sulsel 2026 dan Melaju ke Final Nasional di Jakarta
• 1 jam lalupantau.com
thumb
Masalah dan Strategi Menavigasi Depresiasi Rupiah
• 9 jam laluharianfajar
thumb
Baleg DPR Targetkan RUU Satu Data Indonesia Rampung Tahun Ini
• 19 jam lalurctiplus.com
thumb
Tata Cara Kurban Iduladha: Syarat, Jenis Hewan, dan Waktu Pelaksanaannya
• 48 menit laluidxchannel.com
thumb
PT DSI Resmi Jadi BUMN Hari Ini
• 58 menit lalukumparan.com
Berhasil disimpan.