Sumarsih soal Penembak Wawan: Kalau Saya Memaafkan, Memaafkan kepada Siapa?

kompas.com
1 jam lalu
Cover Berita

JAKARTA, KOMPAS.com - Aktivis hak asasi manusia (HAM), Maria Catarina Sumarsih mengaku tidak tahu harus memaafkan siapa atas peristiwa penembakan anaknya, Bernardinus Realino Norma Irawan atau Wawan yang tewas dalam Peristiwa Semanggi I pada 1998.

Tegasnya, hingga saat ini belum ada kepastian mengenai siapa sosok yang menembak dan menewaskan anaknya di Universitas Atma Jaya.

"Kalau saya memaafkan, memaafkan kepada siapa? Kalau misalnya ada pertanyaan, 'Apakah Ibu dendam?' saya dendam kepada siapa," ujar Sumarsih dalam siniar Gaspol! Kompas.com, dikutip Senin (25/5/2026).

Baca juga: Perjuangan Sumarsih Belum Selesai hingga Pemerintah Melaksanakan 6 Agenda Reformasi

Peristiwa penembakan yang menewaskan Wawan, kata Sumarsih, merupakan urusan Tuhan. Tragedi tersebut dipandangnya sebagai jalan untuk anaknya pulang ke rumah Tuhan.

"Jadi saya tidak pernah memikirkan. Ya memang ya saya setiap berdoa ke dalam tangan-Mu, kuserahkan dia yang menembak Wawan," ujar Sumarsih.

Selain itu, ia juga menegaskan perjuangannya tidak akan selesai selama pemerintah belum melaksanakan enam agenda reformasi.

Enam agenda reformasi yang dituntut kepada pemerintah adalah adili Soeharto dan kroni-kroninya; amandemen Undang-Undang Dasar (UUD) 1945 agar Indonesia menjadi demokratis; dan hapus dwifungsi TNI.

Baca juga: Sumarsih Dorong Pembentukan Pengadilan HAM Ad Hoc Kasus Trisakti dan Semanggi

Selanjutnya, laksanakan otonomi daerah seluas-luasnya; tegakkan supremasi hukum; serta ciptakan pemerintahan yang bebas korupsi, kolusi, dan nepotisme (KKN).

"Saya melakukan kegiatan ini dalam bentuk apapun di antaranya adalah untuk merawat perjuangan reformasi dan demokrasi," ujar Sumarsih.

Baca juga: Usman Hamid, Sumarsih, hingga Halida Hatta Datangi DPR Sampaikan Petisi Tolak Revisi UU TNI

.ads-partner-wrap > div { background: transparent; } #div-gpt-ad-Zone_OSM { position: sticky; position: -webkit-sticky; width:100%; height:100%; display:-webkit-box; display:-ms-flexbox; display:flex; -webkit-box-align:center; -ms-flex-align:center; align-items:center; -webkit-box-pack:center; -ms-flex-pack:center; justify-content:center; top: 100px; }

Dalam siniar tersebut, Sumarsih juga menekankan bahwa cita-cita Indonesia Emas 2045 tidak akan pernah tercapai selama enam agenda reformasi tersebut tidak bisa dilaksanakan oleh pemerintah.

"2045, kalau menurut saya jangan harap Indonesia akan mencapai Indonesia Emas di tahun 2045 sepanjang tidak melaksanakan enam agenda reformasi," tegas Sumarsih.

KOMPAS.com berkomitmen memberikan fakta jernih, tepercaya, dan berimbang. Dukung keberlanjutan jurnalisme jernih dan nikmati kenyamanan baca tanpa iklan melalui Membership. Gabung KOMPAS.com Plus sekarang


Artikel Asli

Lanjut baca:

thumb
Jadwal SIM Keliling di Bandung Hari Ini 25 Mei 2026, Cek Lokasi dan Persyaratannya
• 4 jam lalurctiplus.com
thumb
Bareskrim Kirim Tim ke Jambi Usut Penyebab Blackout di Sumatera
• 18 jam lalurctiplus.com
thumb
5 Berita Terpopuler: Ikhtiar Terus Dilakukan, BGN Siapkan Bank Menu MBG, Dampak Ekonominya Besar
• 4 jam lalujpnn.com
thumb
Kriminolog Nilai Tembak Begal di Tempat Hanya Beri Efek Jera Sesaat
• 20 jam lalukompas.com
thumb
Pamitnya Gustavo Fernandes Makin Perkuat Rumor Bek PSM Aloisio Neto ke Persebaya: Faktor Bernardo Tavares Jadi Kunci?
• 12 jam laluharianfajar
Berhasil disimpan.