"Jangan Sampai Wayang Orang Cuma Jadi Dongeng"

kompas.com
4 jam lalu
Cover Berita

JAKARTA, KOMPAS.com - Di tengah gemerlap dan pesatnya modernisasi metropolitan, Wayang Orang Bharata menjadi salah satu kesenian tradisional yang masih berdiri tegak menjaga warisan leluhur.

Namun, ketangguhan panggung sandiwara klasik ini tidak berjalan selaras dengan realitas kehidupan para pilar utamanya.

Ketika lampu sorot padam dan tirai panggung ditutup, para pelaku seni yang telah mendedikasikan seluruh hidupnya untuk merawat kebudayaan ini harus berhadapan langsung dengan kenyataan pahit mengenai minimnya jaminan materi dan kesejahteraan hidup yang layak.

Bagi mereka, wayang orang bukan hanya soal pertunjukan, tetapi juga soal pengabdian panjang terhadap budaya yang diwariskan lintas generasi.

Baca juga: Gagal Masuk Kampus Impian, Gen Z di Bekasi Pilih Jadi Peternak Kambing di Komplek

Salah satunya Muhammad Wahyudi atau Yudi Bharata, seniman yang telah mengabdikan dirinya di dunia wayang orang sejak usia muda.

Ia mulai terlibat dalam kesenian ini pada 1986 saat masih berusia 16 tahun, berawal dari lingkungan padepokan seni di Surabaya yang membentuk minatnya pada tari dan wayang orang.

Yudi mengaku awalnya berniat melanjutkan pendidikan di Jakarta, namun lingkungan seni yang ia jalani justru membawanya semakin dalam ke dunia pertunjukan tradisional hingga menetap dan menekuninya hingga kini.

“Sebenarnya ingin meneruskan sekolah ke Jakarta. Nah kebetulan waktu itu saya masih belum bisa apa-apa. Karena saya waktu itu tinggalnya di Padepokan. Akhirnya lambat laun terbawa, tergerak hati saya untuk terjun atau belajar nari,” kata Yudi saat ditemui Kompas.com di Gedung Kesenian Wayang Orang Bharata, Senen, Jakarta Pusat, Jumat (22/5/2026).

Yudi mengenang perjalanan awalnya di Wayang Orang Bharata sebagai masa yang penuh disiplin dan ketat.

Tidak semua orang bisa langsung tampil di panggung utama, karena setiap pemain harus mengasah kemampuan dasar.

Ia menjelaskan bahwa calon pemain wajib menguasai tiga kemampuan utama, yakni menari, berdialog, dan menyanyi tembang Jawa.

“Sebelum dapat ilmu kita mijitin dulu senior kita, disuruh ngepel, disuruh ini itu. Baru dapat ilmunya,” kenang Yudi.

Kariernya dimulai sebagai penari kelompok pada 1987, sebelum kemudian naik menjadi prajurit hingga akhirnya memerankan tokoh penting seperti Setyaki.

Yudi menggambarkan proses belajar pada masanya sebagai bentuk pencarian ilmu yang aktif dan penuh perjuangan.

Baca juga: Rahasia Sukses Gen Z di Bekasi Ternak Kambing Cepat Gemuk Modal Ampas Tempe

Ia menyebut istilah “nimba ilmu” untuk menggambarkan bagaimana generasi dulu harus mendatangi senior secara langsung.

“Kalau dulu kita itu istilahnya nimba ilmu. Kita yang nyamperin sumur. Kalau sekarang terbalik, sumur nyamperin timba," kata dia.

Pada awal kariernya, Yudi hanya menerima honor sebesar Rp 500 perak untuk satu kali pementasan pada 1988. Jika dibandingkan dengan nilai sekarang, jumlah tersebut setara dengan sekitar Rp 20.000 - Rp30.000.

Bahkan saat itu, pemeran tokoh utama hanya menerima sekitar Rp 5.000 hingga Rp 7.500.

Latihan Ketat dan Pembentukan Disiplin

Selain proses belajar dari senior, latihan dalam Wayang Orang Bharata juga dilakukan secara disiplin, baik individu maupun kelompok.

Bahkan sebelum pementasan, para pemain masih menjalani latihan tambahan untuk menyempurnakan pertunjukan.

“Selain latihan individu, sebelum pentas jam delapan misalnya, jam empat kita latihan bareng dulu untuk kelompok,” kata Yudi.

Di luar panggung, latihan mandiri juga menjadi bagian penting dalam proses pembentukan kemampuan.

Yudi bahkan menggunakan kaca sebagai media untuk mengoreksi gerakan dan ekspresi, seolah-olah sedang berhadapan langsung dengan penonton.

Baca juga: Hercules Batal Datangi Rumah Ahmad Bahar, GRIB Jaya Pilih Lapor Polisi

Seiring waktu, kemampuan Yudi berkembang hingga mendapat pengakuan, termasuk dalam berbagai misi kebudayaan internasional seperti ke Amerika. Ia juga sempat menerima berbagai tawaran pekerjaan.

Namun, ia memilih tetap berkarya di Wayang Orang Bharata karena keterikatannya dengan dunia seni tradisi yang telah ia jalani sejak muda.

Realitas Kesejahteraan Pelaku Seni

Di balik perjalanan panjang tersebut, Yudi menyoroti persoalan kesejahteraan yang masih menjadi tantangan utama bagi para pelaku wayang orang.

Saat ini, pendapatan pemain setelah dipotong biaya operasional hanya berkisar Rp 150.000 hingga Rp 200.000 per pementasan.

“Sekarang kita bicara terbuka saja ya. Misalnya anggaran sekian dibagi sekian orang, dipotong dana operasional, paling rata-rata orang dapat Rp 150.000 atau Rp 200.000 sekali pentas,” ujarnya.

Dengan frekuensi pementasan yang hanya sekitar satu kali dalam sebulan, penghasilan tersebut dinilai tidak cukup untuk memenuhi kebutuhan hidup di Jakarta.

“Bisa hidup enggak di Jakarta dengan uang segitu? Secara matematika ya enggak bisa hidup,” tegasnya.

.ads-partner-wrap > div { background: transparent; } #div-gpt-ad-Zone_OSM { position: sticky; position: -webkit-sticky; width:100%; height:100%; display:-webkit-box; display:-ms-flexbox; display:flex; -webkit-box-align:center; -ms-flex-align:center; align-items:center; -webkit-box-pack:center; -ms-flex-pack:center; justify-content:center; top: 100px; }

Baca juga: Ketum GRIB Hercules Datangi Rumah Penulis Ahmad Bahar Besok, Ini Tujuannya


Artikel Asli

Lanjut baca:

thumb
Viral! Video Perempuan Kebaya Cokelat Mesum di Sofa Diburu Warganet
• 59 menit lalueranasional.com
thumb
Malaysia Siap Gugat Israel ke ICJ Terkait Dugaan Kekerasan terhadap Relawan GSF
• 59 menit lalumetrotvnews.com
thumb
Pengunduran Diri Tulsi Gabbard Guncang Pemerintahan Trump
• 12 jam lalueranasional.com
thumb
Irfan Ghafur: Fans Borneo FC Samarinda yang Jadi Saksi Hattrick Juara Persib Bandung di GBLA
• 22 jam lalubola.com
thumb
Dedi Mulyadi Beri Bonus untuk Persib yang Tiga Kali Juara Berturut-turut, sang Gubernur: Tidak Boleh Kawin Lagi
• 6 jam lalugrid.id
Berhasil disimpan.