Pengunduran Diri Tulsi Gabbard Guncang Pemerintahan Trump

eranasional.com
12 jam lalu
Cover Berita

Amerika, ERANASIONAL.COM –  Kepala Intelijen Nasional Amerika Serikat atau Director of National Intelligence (DNI), Tulsi Gabbard, resmi mengumumkan pengunduran dirinya dari pemerintahan Presiden Donald Trump. Keputusan tersebut disampaikan pada Jumat, 22 Mei 2026, sekaligus mengakhiri masa jabatan salah satu pejabat intelijen paling kontroversial di Washington dalam beberapa tahun terakhir.

Pengunduran diri Gabbard diumumkan melalui surat yang diunggah di media sosial X. Dalam surat tersebut, perempuan berusia 45 tahun itu menjelaskan bahwa dirinya memilih mundur dari jabatan strategis di pemerintahan demi mendampingi sang suami, Abraham Williams, yang baru didiagnosis mengidap kanker tulang langka.

“Sayangnya, saya harus mengajukan pengunduran diri, efektif 30 Juni,” tulis Gabbard dalam surat yang ditujukan kepada Presiden Trump.

Ia menjelaskan kondisi kesehatan suaminya membutuhkan perhatian penuh dalam beberapa bulan ke depan sehingga dirinya memutuskan untuk meninggalkan pelayanan publik sementara waktu.

“Suami saya, Abraham, baru-baru ini didiagnosis menderita kanker tulang yang sangat langka. Ia menghadapi tantangan besar dalam beberapa minggu dan bulan mendatang,” tulisnya lagi.

Gabbard juga menegaskan bahwa prioritas utamanya saat ini adalah mendampingi keluarga di tengah kondisi sulit tersebut.

“Saat ini, saya harus mundur dari pelayanan publik untuk berada di sisinya dan sepenuhnya mendukungnya dalam perjuangan ini,” lanjutnya.

Presiden Trump merespons pengunduran diri tersebut dengan memberikan apresiasi atas kinerja Gabbard selama menjabat sebagai Kepala Intelijen Nasional. Dalam pernyataannya di Truth Social, Trump menyebut Gabbard telah menjalankan tugas dengan baik dan pemerintah akan kehilangan sosok penting di lingkaran keamanan nasional Amerika Serikat.

“Tulsi telah melakukan pekerjaan yang luar biasa, dan kami akan merindukannya,” kata Trump.

Trump juga menyebut keputusan Gabbard untuk fokus mendampingi suaminya merupakan langkah yang tepat. Presiden AS itu kemudian menunjuk wakil Gabbard, Aaron Lukas, sebagai Pelaksana Tugas Direktur Intelijen Nasional untuk sementara waktu hingga pengganti definitif ditentukan.

Pengunduran diri Gabbard kembali menarik perhatian publik karena selama menjabat ia dikenal sebagai salah satu tokoh paling berbeda pandangan di pemerintahan Trump, terutama terkait kebijakan luar negeri dan pendekatan militer Amerika Serikat.

Sebelum bergabung dalam kabinet Trump, Gabbard merupakan politikus Partai Demokrat yang cukup vokal mengkritik intervensi militer AS di luar negeri. Ia juga dikenal sebagai mantan anggota Kongres yang beberapa kali mempertanyakan laporan intelijen dan kebijakan perang Washington.

Salah satu sikap politiknya yang paling menonjol adalah penolakannya terhadap perang dengan Iran. Dalam berbagai kesempatan, Gabbard menilai konflik berkepanjangan di Timur Tengah hanya akan memperbesar ketidakstabilan global dan menyeret Amerika Serikat ke perang yang lebih luas.

Posisinya itu membuat hubungan Gabbard dengan sebagian pejabat pemerintahan Trump disebut mulai merenggang, terutama menjelang operasi militer gabungan AS dan Israel terhadap Iran pada Februari 2026.

Laporan media Amerika menyebut Gabbard tidak ikut hadir dalam sejumlah pertemuan penting antara Trump dan penasihat keamanan nasional menjelang dimulainya operasi tersebut. Situasi itu memicu spekulasi bahwa pengaruh politiknya di lingkaran Gedung Putih mulai berkurang.

Setelah konflik berlangsung, Gabbard juga beberapa kali dianggap tidak sepenuhnya mendukung alasan pemerintahan Trump dalam melancarkan serangan terhadap Iran. Ia menolak memberikan pernyataan yang memperkuat klaim bahwa Iran menimbulkan ancaman langsung bagi keamanan Amerika Serikat.

Saat memberikan kesaksian di Kongres AS, Gabbard menegaskan bahwa keputusan perang sepenuhnya berada di tangan presiden sebagai pemegang otoritas tertinggi militer Amerika.

Ia juga menyampaikan bahwa komunitas intelijen AS belum menemukan bukti Iran membangun kembali kapasitas pengayaan nuklir yang sebelumnya dihancurkan dalam operasi militer Amerika Serikat dan Israel tahun lalu. Pernyataan tersebut menjadi perhatian karena berbeda dengan narasi sebagian pejabat pemerintah yang menggunakan isu nuklir Iran sebagai salah satu dasar pembenaran operasi militer.

Selama berkarier di politik nasional Amerika, Gabbard memang kerap menjadi figur kontroversial. Pada 2017, ia sempat menuai kritik setelah melakukan pertemuan dengan Presiden Suriah saat itu, Bashar al-Assad, yang kemudian digulingkan dari kekuasaan.

Pertemuan tersebut memicu kecaman dari berbagai kalangan karena Assad saat itu dituduh melakukan pelanggaran hak asasi manusia selama perang saudara Suriah. Selain itu, Gabbard juga beberapa kali dituduh menyebarkan narasi yang dianggap sejalan dengan propaganda Rusia terkait perang Ukraina.

Di sisi lain, Gabbard memiliki latar belakang militer yang cukup kuat. Ia merupakan veteran Perang Irak dan pernah bertugas bersama Garda Nasional Angkatan Darat AS. Pengalaman di medan perang itulah yang disebut banyak membentuk pandangannya terhadap kebijakan luar negeri Amerika, terutama penolakannya terhadap perang berkepanjangan.

Pandangan serupa juga terlihat pada sejumlah tokoh pemerintahan Trump lainnya seperti Wakil Presiden JD Vance dan Menteri Pertahanan Pete Hegseth yang beberapa kali mengkritik intervensi militer luar negeri AS.

Selain dikenal sebagai politikus dan pejabat intelijen, kehidupan pribadi Gabbard juga sering mendapat sorotan publik Amerika. Ia menikah dengan Abraham Williams dalam upacara Hindu di Hawaii. Pasangan tersebut diketahui bertemu saat proses pembuatan iklan kampanye politik Gabbard beberapa tahun lalu.

Abraham yang bekerja sebagai sinematografer disebut melamar Gabbard saat keduanya sedang berselancar di Hawaii ketika matahari terbenam. Kisah tersebut sempat menjadi perhatian media Amerika karena dianggap menggambarkan kedekatan pasangan tersebut di luar kehidupan politik Washington yang keras.

Gabbard juga dikenal sebagai penganut Hindu yang taat. Ia dibesarkan dalam tradisi Hindu oleh ibunya yang memeluk agama tersebut meski lahir di daratan Amerika Serikat. Nama “Tulsi” sendiri berasal dari nama tanaman suci dalam ajaran Hindu. Selain itu, ia diketahui menjalani pola hidup vegetarian sejak kecil.

Pengunduran diri Gabbard diperkirakan akan memunculkan dinamika baru di lingkaran keamanan nasional pemerintahan Trump, terutama di tengah situasi geopolitik global yang masih memanas dan hubungan Amerika Serikat dengan Iran yang belum sepenuhnya stabil.


Artikel Asli

Lanjut baca:

thumb
Kapan 8 Zulhijah 1447 H? Catat Hari Tarwiyah, Niat Puasa, dan Keutamaannya
• 17 jam lalumetrotvnews.com
thumb
Megawati Ngaku Menangis Nonton Film Pesta Babi: Itu Benar Adanya
• 1 jam laluwartaekonomi.co.id
thumb
Waka BGN Sony Datangi Polri, Koordinasi soal Dugaan Jual Beli Titik SPPG
• 3 jam laludetik.com
thumb
Mendagri Tito Karnavian Pastikan Pemerintahan Desa di Sumatera Kembali Aktif Pascabencana
• 9 menit lalupantau.com
thumb
Bangunan 9 Lantai di Filipina Runtuh, 19 Orang Diduga Terkubur Puing
• 2 jam lalukumparan.com
Berhasil disimpan.