Bisnis.com, JAKARTA -- China menghadapi ujian besar terhadap ambisi ketahanan energinya setelah ledakan mematikan terjadi di tambang batu bara Liushenyu, wilayah Shanxi, Jumat (22/5/2026) malam waktu setempat.
Dikutip melalui Japan Times, insiden tersebut menewaskan sedikitnya 82 orang dan menjadi bencana tambang paling mematikan di negara itu dalam beberapa tahun terakhir.
Tambang milik swasta tersebut dikenal memproduksi batu bara kokas yang umumnya dipasok untuk industri baja, bukan pembangkit listrik. Meski kapasitas produksinya relatif kecil dibanding total produksi batu bara Shanxi, respons pemerintah pusat menunjukkan betapa seriusnya dampak tragedi ini terhadap sektor energi nasional China.
Presiden China Xi Jinping langsung memerintahkan investigasi besar-besaran dan operasi penyelamatan yang melibatkan ratusan petugas darurat. Pemerintah juga menjanjikan penyelidikan “tanpa kompromi” terhadap dugaan pelanggaran keselamatan kerja di tambang tersebut.
Media pemerintah CCTV melaporkan investigasi awal menemukan adanya “pelanggaran serius” dalam operasional tambang Liushenyu. Otoritas Shanxi pun bergerak cepat dengan meluncurkan inspeksi keselamatan secara luas terhadap risiko gas, banjir tambang, hingga kondisi struktur bawah tanah.
Namun langkah pengetatan pengawasan ini datang pada momen sensitif bagi China. Konflik di Teluk Persia dan penutupan Selat Hormuz selama hampir tiga bulan terakhir telah mengganggu pasokan minyak dan gas global. Di saat bersamaan, China memasuki musim panas ketika konsumsi listrik melonjak akibat cuaca panas.
Situasi tersebut membuat batu bara kembali menjadi tulang punggung utama sistem energi China. Selama beberapa tahun terakhir, pemerintahan Xi Jinping memang terus meningkatkan produksi batu bara domestik demi mengurangi ketergantungan terhadap impor energi.
Produksi batu bara China bahkan mencetak rekor tertinggi tahun lalu, naik sekitar 30 persen dibanding satu dekade sebelumnya. Batu bara kini menopang berbagai sektor strategis, mulai dari pembangkit listrik hingga elektrifikasi industri dan kendaraan.
Namun dorongan produksi besar-besaran itu dinilai memunculkan tekanan berat terhadap standar keselamatan kerja di sektor pertambangan.
Laporan Beijing News menyebut tambang Liushenyu diduga menempatkan terlalu banyak pekerja di bawah tanah, bahkan sebagian tanpa perangkat GPS yang seharusnya membantu proses evakuasi saat keadaan darurat.
Pengamat hubungan Asia dari Harvard Kennedy School, Rana Mitter, menilai pemerintah pusat kemungkinan akan menjadikan pejabat lokal sebagai pihak yang bertanggung jawab.
“Pejabat daerah bisa saja dipermalukan secara publik atau diproses hukum. Namun narasi yang dibangun tetap akan menggambarkan bahwa pemerintah pusat sedang memberantas kelalaian di daerah, bukan kegagalan sistem pemerintahan Partai,” ujarnya.
Meskipun China berhasil menurunkan angka kecelakaan tambang dalam satu dekade terakhir, tetapi sejumlah akademisi menilai masalah struktural belum terselesaikan.
Profesor Global Affairs dari University of Notre Dame, Mary Gallagher, mengatakan pemerintah daerah sering berada dalam posisi sulit antara mengejar target produksi dan memenuhi standar keselamatan.
“Ini situasi serba salah. Sangat mungkin pemerintah lokal memilih tutup mata terhadap masalah keselamatan demi menjaga produksi tetap berjalan,” katanya.
Pasca-ledakan, seluruh 25 tambang batu bara di Kabupaten Qinyuan, lokasi kejadian, dilaporkan menghentikan operasi sementara. Beberapa tambang lain di wilayah Changzhi juga mulai menghentikan aktivitas produksi, memicu kekhawatiran terganggunya pasokan batu bara dalam jangka pendek.
Direktur Biro Manajemen Darurat Kota Changzhi, Zhang Wenbo, menegaskan pemerintah akan memperketat pengawasan tambang dan menindak praktik manipulasi rekaman pengawasan.
“Kami akan memperkuat pengawasan operasi tambang, menindak penghapusan rekaman pengawasan, dan meningkatkan inspeksi area kerja tersembunyi,” ujarnya dalam konferensi pers Sabtu (23/5/2026) malam waktu setempat.
Wali Kota Changzhi juga telah menyampaikan permintaan maaf kepada keluarga korban dan berjanji akan menindak pihak-pihak yang bertanggung jawab atas tragedi tersebut.





