Juda Agung Tegaskan Tak Ada Potensi Krisis Ekonomi Indonesia hingga Sekarang

idxchannel.com
2 jam lalu
Cover Berita

Kemenkeu tegaskan hingga detik ini tidak ada satu pun indikator yang mengarah pada potensi krisis ekonomi di Indonesia.

Juda Agung Tegaskan Tak Ada Potensi Krisis Ekonomi Indonesia hingga Sekarang (FOTO:iNews Media Group)

IDXChannel – Kementerian Keuangan menegaskan bahwa hingga detik ini tidak ada satu pun indikator yang mengarah pada potensi krisis ekonomi di Indonesia. 

Penegasan ini dikeluarkan guna meredam berbagai spekulasi dan analisis liar di ruang publik maupun media sosial yang menyamakan gejolak pasar saat ini dengan awal mula kejatuhan ekonomi.

Baca Juga:
Kredit Perbankan Capai Rp8.606 Triliun pada April 2026, Ini Pendorongnya

Wakil Menteri Keuangan, Juda Agung menuturkan, secara ilmiah bahwa secara historis, runtuhnya perekonomian sebuah negara di belahan dunia mana pun selalu dipicu oleh tiga faktor utama yakni krisis fiskal, krisis neraca pembayaran, dan krisis sistem keuangan. Hasil evaluasi mendalam menunjukkan ketiga hantu krisis tersebut sama sekali tidak terdeteksi dalam struktur ekonomi nasional saat ini.

"Kalau melihat angka-angka tadi, jauh dari situasi krisis," kata Juda di agenda Konferensi Nasional Pengembangan Ekonomi Daerah, Senin (25/5/2026).

Baca Juga:
Irfan Hakim Kebanjiran Pelanggan Jelang Iduladha 2026, Ada Prabowo hingga Letkol Teddy

Lebih lanjut, Juda membedah pemicu krisis kedua, yakni kerapuhan pada pos neraca pembayaran akibat penumpukan utang swasta jangka pendek tanpa pelindung nilai (hedging), persis seperti stimulus kehancuran Asia pada periode 1997–1998. Penarikan modal asing secara mendadak (sudden stop) saat itu memicu kebangkrutan massal.

Kondisi tersebut dipastikan tidak terjadi saat ini karena arsitektur neraca pembayaran Indonesia tergolong kokoh dan memiliki bantalan cadangan devisa yang tebal.

Baca Juga:
Bareskrim Bantah Blackout Sumatera Karena Sabotase: Ada Kabel Transmisi Terputus

"Dan saat ini kalau kita lihat angka-angka neraca pembayaran kita relatif sehat dan relatif balanced. Jadi krisis neraca pembayaran tidak ada tanda-tanda itu," tutur dia.

Sementara untuk faktor pemicu ketiga, yakni malapraktik sistem keuangan seperti pecahnya gelembung aset (subprime mortgage bubble) di AS pada tahun 2008, juga dipastikan nihil di sektor keuangan dan properti domestik. Otoritas tidak menemukan adanya pembengkakan valuasi aset yang berlebihan yang berisiko memicu efek domino sistemik.

Baca Juga:
DPK Perbankan Tumbuh 9,5 Persen Jadi Rp9.567 Triliun pada April 2026

Menurut Juda, Kemenkeu menyuguhkan data realisasi APBN hingga April 2026 yang bergerak sangat impresif. Arus pendapatan negara sukses terkumpul hingga Rp918 triliun atau melesat 13,3 persen secara tahunan, disokong oleh pertumbuhan setoran pajak yang meroket hingga 16,1 persen.

Di lini belanja, pemerintah terus memompa belanja negara hingga tumbuh 34,3 persen sebagai motor utama penggerak daya beli pada kuartal II-2026.

Di tengah agresivitas belanja tersebut, defisit APBN justru berhasil ditekan turun ke level sangat rendah yaitu 0,64 persen terhadap PDB dari posisi bulan sebelumnya yang sempat menyentuh 0,92 persen.

"Keseimbangan primer bahkan surplus di bulan April ini," katanya.

(kunthi fahmar sandy)


Artikel Asli

Lanjut baca:

thumb
Sah! Danantara Sumberdaya Indonesia Resmi Berubah Menjadi BUMN Ekspor
• 4 jam lalucnbcindonesia.com
thumb
7 Tips untuk Tetap Bahagia dan Positif Hadapi Hari Senin
• 9 jam lalubeautynesia.id
thumb
Penerbangan Cathay Pacific dari Australia ke Hong Kong Alami Turbulensi, 8 Orang Terluka, Ambulans Disiagakan
• 22 jam laluerabaru.net
thumb
Bawa Misi Perdamaian, Bhikkhu Thudong 2026 Temui Wagub Taj Yasin di Semarang
• 1 jam lalujpnn.com
thumb
Benarkah Indonesia Mengalami Deindustrialisi Dini?
• 7 jam lalukompas.id
Berhasil disimpan.