Meski BI Sudah Kerek Suku Bunga, Rupiah Masih Terjerembap di Atas Rp 17.700

kompas.id
2 jam lalu
Cover Berita

JAKARTA, KOMPAS – Nilai tukar rupiah masih saja tertekan di atas level Rp 17.000 per dolar AS. Padahal, kebijakan moneter telah diarahkan untuk menjaga stabilitas nilai tukar, mulai dari langkah intervensi pasar hingga kenaikan suku bunga acuan atau BI-rate oleh Bank Indonesia.

Mengutip data Jakarta Interbank Spot Dolar Rate (Jisdor), perdagangan kurs rupiah terhadap dolar AS pada Senin (25/5/2026) ditutup di level Rp 17.743. Ini melemah 26 poin dibanding penutupan pasar sebelumnya, sekaligus memecahkan rekor depresiasi terdalam dalam sejarah yang sempat tercatat di level Rp 17.719 per dolar AS pada 19 Mei 2026.

Deputi Gubernur Senior Bank Indonesia (BI), Destry Damayanti, menjelaskan, fundamental ekonomi Indonesia masih tetap terjaga. Namun, perkembangan nilai tukar saat ini masih dipengaruhi oleh sentimen global akibat konflik geopolitik di Timur Tengah.

“Rupiah ini undervalue dan banyak negara yang mengalami undervalue terhadap dolar,” ujarnya saat sesi diskusi dalam Konferensi Nasional Pengembangan Ekonomi Daerah, di Jakarta, Senin (25/5/2026).

Di sisi lain, tekanan juga datang dari faktor musiman seiring meningkatnya permintaan dolar dari domestik. Secara historis, permintaan dolar cenderung meningkat pada triwulan II untuk pembayaran dividen, kebutuhan musim haji, serta pembayaran utang.

Destry menambahkan, BI terus menempuh tujuh langkah stabilisasi nilai tukar, antara lain dengan memperkuat intervensi pasar valuta asing (valas). Selain itu, pembelian dolar AS tanpa underlying juga telah dibatasi guna mengurangi upaya spekulasi.

Kami harus dorong dengan menaikkan suku bunga, karena kami harus membuat instrumen rupiah menjadi menarik lagi, sehingga itu bisa mendorong inflow kembali.

Akan tetapi, berbagai langkah tersebut masih belum cukup untuk meredam dampak akibat gejolak dan kebijakan suku bunga tinggi (higher for longer) global. Maka dari itu, BI akhirnya menaikkan suku bunga acuan sebesar 50 basis poin menjadi 5,25 persen dalam Rapat Dewan Gubernur (RDG) terakhir, pekan lalu.

“Langkah-langkah sudah kami lakukan hingga yang terakhir. Kemarin kami menaikkan suku bunga karena merasa masih kurang. Jadi, kami harus mendorong dengan menaikkan suku bunga untuk membuat instrumen rupiah menjadi menarik lagi, sehingga itu bisa mendorong inflow (arus dana masuk) kembali,” tuturnya.

BI mencatat, aliran modal asing ke pasar keuangan domestik sepanjang triwulan II-2026 hingga 18 Mei 2026 mencapai 5,5 miliar dolar AS. Masuknya aliran modal asing ini ditopang oleh instrumen Sekuritas Rupiah Bank Indonesia (SRBI) dan surat berharga negara (SBN).

Dengan fundamental yang tetap terjaga dan tingkat imbal hasil yang semakin kompetitif, Destry menambahkan, kepercayaan masyarakat dan investor diharapkan meningkat. Apalagi, jika nantinya konflik di Timur Tengah semakin mereda.

Pada kesempatan yang sama, Menteri Koordinator Bidang Perekonomian Airlangga Hartarto menegaskan, tingkat depresiasi nilai tukar rupiah yang terjadi hingga hari ini masih relatif terkendali. Perkembangan ini terutama didukung oleh masih kuatnya perekonomian nasional.

“Perbankan kita hari ini solid, kemudian dari segi korporasi juga seluruhnya solid. Jadi, seperti yang saya selalu sampaikan, ekonomi kita masih kuat,” katanya.

Ia membandingkan, depresiasi rupiah dalam kurun waktu 2004-2014 tercatat mencapai 40 persen, dengan tingkat inflasi pada 2005 mencapai 17 persen. Pada periode 10 tahun berikutnya (2014-2024), depresiasi rupiah tercatat sebesar 30,6 persen dengan inflasi sebesar 3 persen.

Sementara itu, rupiah secara tahun kalender berjalan hanya terdepresiasi sebesar 5 persen dan tingkat inflasi sebesar 2,4 persen. Dengan kata lain, menurut Airlangga, pelemahan rupiah dalam beberapa waktu terakhir masih relatif terjaga.

Baca JugaRupiah Terpuruk Dalam, BI Kerek Naik Suku Bunga ke 5,25 Persen
Masih melemah

Dihubungi secara terpisah, pengamat ekonomi, mata uang, dan komoditas dari PT Traze Andalan Futures, Ibrahim Assuaibi, berpendapat, pergerakan nilai tukar rupiah cenderung masih akan berada dalam tren pelemahan.

“Kemungkinan besar dalam perdagangan besok (Selasa) masih akan melemah di level 17.740 sampai di level 17.800,” ujarnya.

Perkembangan tersebut masih dipengaruhi oleh faktor eksternal dan domestik. Kesepakatan damai yang tidak kunjung tercapai antara AS dengan Iran serta penutupan Selat Hormuz masih memicu sentimen ketidakpastian di pasar keuangan global.

Di sisi lain, suku bunga acuan bank sentral AS, Federal Reserve (The Fed) diperkirakan masih akan tetap tinggi seiring dengan ketidakpastian global. Bahkan, tidak menutup kemungkinan, The Fed akan menaikkan suku bunga acuannya, apabila tingkat inflasi melenceng dari target.

Baca JugaGubernur BI: Rupiah Berpotensi Menguat pada Triwulan III-2026

Ia menambahkan, kebijakan ekspor komoditas sumber daya alam melalui satu pintu, yakni PT Danantara Sumberdaya Indonesia (DSI), turut memicu risiko kecaman dari dunia internasional. Hal ini semakin menambah persepsi negatif terhadap kebijakan yang dianggap kurang berpihak terhadap pasar.

“Ini yang membuat kemungkinan besar rupiah masih akan terus melemah dan pelemahan ini kemungkinan akan berlanjut besok (Selasa),” kata Ibrahim.


Artikel Asli

Lanjut baca:

thumb
3 Kebiasaan Simpel Perempuan yang Selalu Terlihat Menarik
• 2 jam lalubeautynesia.id
thumb
Inilah Cara Melihat Skor UTBK 2026 dan Unduh Hasil SNBT yang Benar
• 5 jam lalukatadata.co.id
thumb
Menentang Kebijakan Pemerintahan Kiri, Aksi Demonstrasi Besar-besaran Meledak! Puluhan Ribu Warga Spanyol Tuntut PM Pedro Sánchez Mundur
• 21 jam laluerabaru.net
thumb
Ketum GRIB Hercules Bantah Sekap Putri Ahmad Bahar dan Todongkan Pistol: Itu Fitnah!
• 22 jam lalukompas.com
thumb
Rekomendasi Warna Kuteks untuk Kuku Pendek
• 46 menit lalubeautynesia.id
Berhasil disimpan.