Malang (beritajatim.com) – Fakultas Kedokteran Hewan Universitas Brawijaya (FKH UB) berkomitmen dalam menjaga kesehatan masyarakat veteriner menjelang Hari Raya Idul Adha 1447 H. Melalui program pengabdian masyarakat, FKH UB resmi melepas Tim Kesehatan Pemeriksa Hewan Kurban tahun 2026.
Pelepasan berlangsung di Aula Ruang 308, Lantai 3 Gedung FKH UB Kampus Dieng, Malang, pada Senin (25/5/2026). Ketua Pelaksana Pengabdian Masyarakat Pemeriksaan Hewan Kurban FKH UB 2026, drh. Yulinar Risky Karaman, M.Biomed., menjelaskan bahwa langkah ini diambil sebagai respons preventif terhadap potensi penyebaran zoonosis serta menjamin pemenuhan syariat kurban yang Asuh (Aman, Sehat, Utuh, dan Halal).
“Sebanyak 961 mahasiswa dari program sarjana maupun profesi (PPDH), didampingi oleh 41 dosen ahli, dikerahkan untuk melakukan pengawasan ketat. Tim ini tersebar di berbagai wilayah strategis di Jawa Timur hingga luar provinsi,” ujar drh. Yulinar Risky.
Untuk memastikan cakupan pengawasan yang optimal, manajemen penugasan mahasiswa dan dosen dibagi ke dalam beberapa wilayah konsentrasi utama secara terperinci. Di wilayah Kota Malang, FKH UB menerjunkan kekuatan penuh sebanyak 400 mahasiswa dengan didampingi oleh 15 orang dosen.
Sementara itu, untuk wilayah Kota Batu, disiagakan sebanyak 300 mahasiswa yang dipandu oleh 4 hingga 5 orang dosen. Untuk area Kabupaten Malang, diterjunkan sebanyak 100 mahasiswa dengan pendampingan dari 5 orang dosen.
Pengawasan juga memperluas jangkauan ke beberapa daerah lain di Jawa Timur. Di Kota Mojokerto, terdapat 35 orang mahasiswa dan 1 orang dosen yang bertugas. Untuk Kabupaten Sidoarjo, diterjunkan 6 mahasiswa dan 1 orang dosen, sedangkan di Kabupaten Lamongan dikerahkan 5 mahasiswa dengan didampingi oleh 1 orang dosen.
“Tidak hanya di dalam provinsi, mahasiswa koas yang saat ini sedang melaksanakan pendidikan profesi di luar Jawa Timur, seperti di Jakarta, Jawa Barat, Jawa Tengah, hingga Bali, juga diwajibkan aktif bertugas dengan berkoordinasi langsung bersama dinas peternakan di tempat mereka berada,” kata Dekan FKH UB, drh. Dyah Ayu Oktavianie AP., M.Biotech., AP.Vet.
drh. Yulinar Risky Karaman, M.Biomed., juga memaparkan bahwa seluruh personel akan bertugas secara komprehensif. Tugas utama tim meliputi dua tahapan krusial, yakni pemeriksaan antemortem (sebelum penyembelihan) dan postmortem (setelah penyembelihan).
”Pemeriksaan antemortem bertujuan memastikan hewan kurban sehat, tidak cacat, dan telah memenuhi syarat minimal usia kelayakan kurban. Sementara pemeriksaan postmortem difokuskan pada inspeksi organ dalam pasca-penyembelihan guna mendeteksi adanya abnormalitas seperti cacing hati (Fasciola hepatica), Lumpy Skin Disease (LSD), serta Penyakit Mulut dan Kuku (PMK),” ujar drh. Yulinar.
Pemasangan secara simbolis alat pemeriksaan hewan kepada mahasiswa oleh Rektor UB (Foto: Dani Alifian)Ia menambahkan, teknis pelaksanaan di lapangan bervariasi bergantung pada wilayah dinas terkait. Di Kota Malang, tim menerapkan metode jemput bola dengan mendatangi 10 hingga 15 masjid per kelompok. Sebaliknya, di Kota Batu dan Sidoarjo, petugas ditempatkan menetap (stay) di satu atau dua titik lokasi agar pemeriksaan dapat berjalan lebih intensif dan mendetail.
Sementara itu, Dekan FKH UB menyampaikan bahwa jumlah personel yang diturunkan tahun ini relatif stabil dan didukung oleh penambahan dosen non-PNS serta CPNS baru sejak 2024. Guna mengatasi keterbatasan jumlah ahli di lapangan, FKH UB mengoptimalkan penggunaan platform digital pelaporan real-time bernama Veterinary Command Center (VCC) atau POC.
”Mahasiswa di lapangan dapat memindai barcode khusus untuk melaporkan temuan klinis secara langsung. Dosen spesialis patologi serta mahasiswa PPDH senior akan siaga memantau sistem untuk memberikan arahan taktis atau second opinion jika ditemukan kasus darurat,” kata drh. Dyah Ayu Oktavianie.
Lebih lanjut, Dekan FKH UB menyampaikan bahwa data kompilasi dari lapangan tidak sekadar menjadi laporan administratif. Data nantinya akan diolah oleh tim Research Group dan Research Fellow S3 Kesmafet untuk publikasi ilmiah.
“Luaran kerja sama ini juga diwujudkan dalam bentuk handbook atau modul praktis yang diharapkan dapat ditinjau oleh kepala dinas mitra untuk dijadikan acuan kebijakan kesehatan hewan di masa mendatang,” jelas drh. Dyah Ayu Oktavianie.
Rektor Universitas Brawijaya, Prof. Widodo, S.Si., M.Si., Ph.D.Med.Sc., mengapresiasi sinergi erat yang terjalin antara FKH UB, Dharma Wanita Persatuan (DWP) UB melalui agenda talkshow ketahanan pangan, serta jajaran Dinas Peternakan tingkat provinsi maupun kabupaten/kota di Jawa Timur. Rektor menegaskan bahwa momentum Idul Adha merupakan waktu krusial bagi sivitas akademika untuk memberikan dampak langsung.
”Hari Raya Idul Kurban adalah momentum pengabdian nyata. Ini merupakan living laboratory atau laboratorium hidup bagi universitas, di mana teori akademik diuji langsung oleh realitas dinamika sosial di tengah masyarakat. Mahasiswa tidak hanya belajar ilmu kedokteran, tetapi juga mengasah empati, komunikasi, dan problem solving,” tegas Prof. Widodo.
Rektor juga mengingatkan mahasiswa untuk bijak dalam memanfaatkan media sosial selama bertugas di lapangan. Rekam jejak digital harus dijaga dengan profesional demi menghindari misinformasi yang berpotensi memicu kepanikan publik terkait kualitas daging kurban.
Sebagai informasi, pelepasan ini dihadiri secara daring dan luring oleh perwakilan Dinas Peternakan dari berbagai wilayah, pengurus PDHI Cabang Jatim 2, serta jajaran pengurus DWP UB. Saat pelepasan dilakukan juga penayangan video rekapitulasi penanganan kurban tahun-tahun sebelumnya dan visualisasi rute penugasan tim kurban 2026. (dan/but)




