JAKARTA, KOMPAS.com – Di atas infrastruktur yang semestinya menjadi jalur mobilitas kendaraan itu, warga justru menjadikan flyover Kalibata, Jakarta Selatan menjadi ruang rekreasi bermain layang-layang.
Namun, di balik riuhnya permainan tradisional tersebut, muncul keresahan dari para pengendara yang setiap hari melintas.
Mereka menyoroti keberadaan benang layangan yang kerap melintang hingga ke badan jalan dan berpotensi membahayakan keselamatan.
Fikri (28), salah satu pengendara motor yang rutin melintas di kawasan itu, mengaku hampir setiap sore melihat aktivitas warga bermain layang-layang di atas flyover.
Baca juga:
“Kalau orangnya sebenarnya enggak terlalu ganggu karena di pinggir. Tapi yang paling bahaya itu benang layangannya. Kalau turun ke jalan bisa kena pengendara, apalagi pas macet atau malam susah kelihatan,” ujar Fikri saat berhenti di atas flyover Kalibata, Jumat (22/5/2026).
Ia bahkan pernah nyaris celaka. Saat kondisi lalu lintas padat, Fikri tiba-tiba harus mengerem mendadak karena benang layangan melintang di jalur yang ia lewati.
“Pernah hampir kena di leher waktu macet. Refleks langsung ngerem, takutnya nyangkut,” kata dia.
Pengendara lain, Surya (24), juga menyoroti hal serupa. Menurutnya, meskipun tidak secara langsung mengganggu arus lalu lintas, aktivitas tersebut tetap menuntut kewaspadaan ekstra.
“Kalau orangnya nggak ganggu, tapi tetap bikin kita harus hati-hati. Takutnya benang melintang di jalan,” ucap dia.
Surya pernah melihat pengendara lain menghindar secara mendadak akibat benang layangan yang turun ke jalan.
Sementara itu, Faiz (41), seorang pengemudi ojek online, menilai risiko terbesar justru berasal dari jenis benang yang digunakan.
“Kalau pakai benang gelasan itu bahaya banget buat motor. Bisa luka kalau kena,” ujarnya.
Ia menilai kawasan flyover tersebut sudah cukup padat pada sore hari, sehingga gangguan kecil sekalipun dapat memicu kepanikan.
Baca juga: Saat Kopi Goceng dan View Jakarta di Flyover Jadi Penyelamat Dompet Pekerja...
Dishub: Flyover bukan ruang rekreasiMenanggapi fenomena tersebut, Kepala Suku Dinas Perhubungan Jakarta Selatan, Bernad Octavianus Pasaribu, menegaskan bahwa flyover merupakan infrastruktur lalu lintas yang tidak diperuntukkan bagi aktivitas bermain.
“Flyover merupakan fasilitas jalan untuk kelancaran dan keselamatan lalu lintas, bukan ruang aktivitas rekreasi atau permainan,” ujarnya saat dihubungi.





