Kuota di Jalur Seleksi Nasional Penerimaan Mahasiswa Baru Masih Bersisa

kompas.id
2 jam lalu
Cover Berita

JAKARTA, KOMPAS – Sebanyak 256.369 peserta Seleksi Nasional Penerimaan Mahasiswa Baru Tahun 2026 dinyatakan lulus masuk perguruan tinggi negeri melalui jalur ujian tulis berbasis komputer. Meski tak ada uang pangkal, daya tampung di jalur ini masih tersisa 10,63 persen atau 30.496 kursi di 145 perguruan tinggi negeri.

Berdasarkan data panitia Seleksi Nasional Penerimaan Mahasiswa Baru (SNPMB) Tahun 2026, kuota jalur seleksi nasional berdasarkan tes (SNBT) tahun ini bertambah 25.346 kursi dari kuota awal sebagai limpahan sisa jalur seleksi nasional berdasarkan prestasi (SNBT) tahun 2026.

Dua jalur jalur masuk seleksi nasional ini memungkinkan calon mahasiswa mengikuti tes dari domisili dengan keleluasaan memilih perguruan tinggi negeri (PTN) di mana saja. Peserta yang lolos hanya dikenai uang kuliah tunggal (UKT) sesuai kemampuan ekonomi keluarga.

Baca JugaJalur Masuk PTN secara Nasional dan Mandiri Tetap Dibutuhkan

Ketua Umum Tim Penanggung Jawab SNPMB 2026 Eduart Wolok mengatakan peserta UTBK yang dinyatakan lulus berjumlah 256.369 orang atau 29,42 persen dari total 871.496 pendaftar. Di jalur UTBK tahun ini, tersisa kuota 30.496 kursi yang bisa dialihkan ke jalur mandiri.

“Ketika jalur SNBP tak terisi penuh, dialihkan ke SNBT. Jika tetap tak terisi penuh, dialihkan ke jalur mandiri. Jadi jalur mandiri bukan ditambahkan, kuota awalnya 186.164 kursi dan belum ditambahkan karena SNBT baru selesai pengumuman serta menanti proses daftar ulang mahasiswa baru yang diterima,” ujar Eduart.

Menurut Eduart yang juga Ketua Majelis Rektor Perguruan Tinggi Indonesia, tak terpenuhinya daya tampung di jalur tes karena di sejumlah program studi (prodi) jumlah peminatnya lebih sedikit dibandingkan daya tampung. Ia menyebut beberapa prodi spesifik dan langka yang kurang peminat sehingga kuota di jalur UTBK untuk prodi itu tak terpenuhi.

Ketika jalur SNBP tak terisi penuh, dialihkan ke SNBT. Jika tetap tak terisi penuh, dialihkan ke jalur mandiri.

Di PTN Badan Hukum, keterisian daya tampung di jalur prestasi maupun tes cukup tinggi. “Untuk yang PTN Badan Hukum, kemungkinan bergeser atau bertambah besar kuota jalur mandirinya relatif kecil,” kata Eduart.

Dalam Peraturan Menteri Pendidikan Tinggi, Sains, dan Teknologi (Peraturan Mendiktisaintek) Nomor 3 Tahun 2026 Tentang Penerimaan Mahasiswa Baru Program Diploma dan Program Sarjana pada PTN, untuk tahun 2027 kuota jalur mandiri tidak ditetapkan seperti tahun ini.

Jadi dalam aturan itu disebutkan, kuota yang diatur hanya Seleksi Nasional Berdasarkan Prestasi atau SNBP (minimal 20 persen) dan Seleksi Nasional Berdasarkan Tes atau SNBT (minimal 30 persen untuk PTN BH serta minimal 40 persen untuk yang non-PTN BH).

Sesuai Peraturan Mendiktisaintek terbaru, daya tampung yang tak dialokasikan untuk SNBP dan SNBT untuk penerimaan mahasiswa baru melalui seleksi mandiri. Selama ini kuota maksimal jalur mandiri di semua PTN ditetapkan.

Eduart mengatakan, dalam praktiknya PTN secara umum mengambil jalur prestasi di kisaran kuota 30 persen. Di jalur SNBT untuk PTN BH berkisar 30-40 persen, sedangkan yang di PTN satuan kerja dan PTN Badan Layanan Umum 40-50 persen.

“Kami yakin untuk jalur mandiri  tidak berubah banyak, sesuai kuota awal.  Kami benar-benar memerhatikan ini. Bahkan untuk jadwal seleksi jalur mandiri sudah ditetapkan harus selesai pada 31 Juli,” papar Eduart yang juga Rektor Universitas Negeri Gorontalo.

Mengacu pada ketentuan

Sementara Rektor Universitas Sumatera Utara (USU) Muryanto Amin mengatakan penetapan jalur mandiri mengacu pada kuota yang ditetapkan pemerintah. Jika ada kuota tersisa di jalur prestasi maupun tes, bisa dialihkan ke jalur mandiri, sehingga daya tampung tahun ini terpenuhi sesuai yang dilaporkan ke Kemendiktisaintek.

Daya tampung tiap PTN, termasuk PTN BH, telah ditetapkan jauh hari sebelum pelaksanaan seleksi nasional. Usulan terkait daya tampung PTN dari prodi dengan mempertimbangan rasio dosen maupun fasilitas, kemudian ditetapkan Kemendiktisaintek.  

” Saya yakin PTN BH tidak melanggar karena ada konsekuensinya.Ada pengawasan dari Kemendiktisaintek. Lalu, bisa juga berpengaruh pada proses akreditasi 3,59 persen,” kata Muryanto.

Baca JugaKualitas Dipertaruhkan: PTN Makin Gemuk, PTS Menyusut

Menteri Pendidikan Tinggi, Sains, dan Teknologi Brian Yuliarto mengutarakan, minat anak muda untuk melanjutkan kuliah ke perguruan tinggi meningkat. Hal ini terlihat saat pelaksanaan UTBK, tingkat kehadiran untuk mengikuti tes lebih tinggi dibandingkan tahun lalu.

Pada tahun 2026, tingkat ketidakhadiran peserta mencapai 2,87 persen. Sementara pada tahun 2025, tingkat ketidakhadiran peserta mencapai 3,59 persen.

“Semakin tinggi animo lulusan pendidikan menengah atas untuk kuliah menjadi peluang bangsa menyiapkan sumber daya manusia (SDM) unggul menuju Indonesia Emas 2045. Kami mengapresiasi seleksi masuk PTN yang dilaksanakan dengan baik, akuntabel, dan berkeadilan,” ujarnya.

Pihaknya mengapresiasi kerja Panitia SNPMB dan Pusat UTBK yang berhasil mencegah kecurangan jalur masuk SNBT berdasarkan evaluasi pada kejadian kecurangan di tahun 2025.

Pada tahun ini, panitia berhasil mendeteksi dan mencegah kecurangan dengan baik melalui penguatan standar operasional prosedur, pengawasan berlapis, pengenalan wajah, hingga pemanfaatan kecerdasan buatan.

“Integritas menjadi fondasi utama seleksi masuk PTN. Melalui seleksi PTN kredibel, akuntabel, dan berintegritas, ada masa depan bangsa. Pelaksanaannya harus dijaga dengan tanggung jawab, profesionalisme, dan integritas dari semua pemangku kepentingan agar sistem seleksi kredibel dan adaptif terhadap tantangan zaman,” ungkapnya. 

Baca JugaKecurangan Peserta UTBK Makin Canggih, dari Kamera di Behel hingga ”Remote Desktop”

Menurut Brian, di mana pun anak muda bangsa berkuliah, baik di PTN maupun perguruan tinggi swasta, pilihlah prodi yang disukai dan punya prospek ke depan untuk mendukung industrialisasi yang disiapkan pemerintah. “Di mana pun kuliah, bangsa ini butuh SDM yang mendukung pembangunan Indonesia ke depannya untuk jadi negara maju,” tuturnya.

 


Artikel Asli

Lanjut baca:

thumb
Malaysia Siap Gugat Israel ke ICJ Terkait Dugaan Kekerasan terhadap Relawan GSF
• 4 jam lalumetrotvnews.com
thumb
Sempat Dihujat, Novita Sari Blak-blakan Jadikan Fuji Panutan untuk Bertahan di Dunia TikTok
• 22 jam laluviva.co.id
thumb
Akun Hunter_Tnok Beri Sinyal Paedofil Jepang Incar Anak-anak Jakarta
• 5 jam lalukompas.id
thumb
YPMAK Siapkan Mahasiswa Papua Kuliah Pertambangan di UPN Veteran Yogyakarta
• 14 jam lalupantau.com
thumb
Inovasi Novo Nordisk Bantu Indonesia Selesaikan Masalah Diabetes
• 8 jam lalumetrotvnews.com
Berhasil disimpan.