MEKKAH, KOMPAS – Para anggota jemaah haji Indonesia diberangkatkan dari hotel-hotel mereka di Mekkah menuju Arafah, Senin (25/5/2026). Mereka diangkut dengan bus-bus dalam tiga gelombang, dari pagi hingga sore. Para jemaah diharapkan paling lambat tiba di Arafah sebelum tengah malam.
Para jemaah bergerak ke Arafah untuk menjalani ibadah puncak haji, wukuf, mulai Selasa siang. Sebagian jemaah melaksanakan tarwiyah, dengan bergerak ke Mina menggunakan bus-bus, Minggu malam. Jemaah Indonesia yang melaksanakan tarwiyah, menurut catatan di PPIH, lebih dari 11.000 orang.
Di Mina, mereka menginap selama dua malam dan bergerak ke Arafah pada Selasa pagi untuk bergabung dengan sekitar 1,5 juta anggota jemaah lainnya guna melaksanakan wukuf.
Dari pantauan di beberapa hotel di Sektor 4 kawasan Syisyah-Raudhah, pada Senin sebagian jemaah sudah menanti di lobi atau bagian depan hotel sebelum jam yang dijadwalkan berangkat pukul 07.00 waktu setempat. Salah satunya adalah Mbah Marsiyah, jemaah haji Indonesia tertua.
Ia sudah duduk di halaman depan Hotel Luluat Al-Sharq Al-Awsat bersama putri keduanya, Muidah, yang mendampinginya berhaji, sebelum jam yang ditetapkan. Mbah Marsiyah—berusia 104 tahun—mengaku sudah sarapan dengan menu sop ayam.
”(Sarapan) tidak habis karena (saya) sudah kenyang,” ujarnya kepada Ketua Kloter 112 Embarkasi Surabaya (SUB 112), Aniswatun Nadiroh, yang memeriksa kelengkapan dokumennya, salah satunya kartu nusuk. Muidah menyebut, sebelum sarapan Mbah Marsiyah minum susu terlebih dahulu.
Dari pantauan anggota tim Media Center Haji (MCH), keberangkatan bus yang akan mengangkut jemaah di Hotel Luluat Al-Sharq Al-Awsat tertunda. Hingga tiga jam setelah jadwal yang ditetapkan, bus belum juga datang. Akibatnya, jemaah tak kunjung terangkut meski sudah tiga jam menunggu.
Jalan-jalan menuju ke Arafah padat dengan bus-bus atau kendaraan pengangkut jemaah. Ditambah dengan keberadaan pos-pos pemeriksaan aparat keamanan, yang memeriksa kelengkapan dokumen jemaah, kemacetan lalu lintas pun tak terhindarkan.
Sebagian jemaah telah tiba di Arafah, sebelum tengah hari. Muhtarom (56), jemaah Kloter 24 Embarkasi Solo (SOC 24), menuturkan dirinya dan jemaah satu kloter tiba di Arafah setelah menempuh perjalanan sekitar satu jam. Arafah berlokasi sekitar 23 kilometer tenggara Masjidil Haram.
”Kami beristirahat dulu dengan duduk-duduk setelah memperoleh bagian kasur masing-masing. Kami satu tenda dengan jemaah kloter lain. Tenda sudah dipasangi penanda kloter dan daftar jemaahnya,” ujar Muhtarom.
”Jemaah beristirahat dengan berbaring di kasur masing-masing sebelum nanti akan berdzikir dan berkontemplasi di tempat yang sakral ini,” lanjut Muhtarom saat dihubungi dari Mekkah.
Jemaah Indonesia diangkut ke Arafah dalam tiga gelombang. Pertama, pukul 07.00 waktu setempat, lalu pukul 11.30, dan terakhir pukul 16.30. Petugas Penyelenggara Ibadah Haji (PPIH) akan menyisir setiap hotel, Selasa pagi, guna memastikan seluruh jemaah—kecuali jemaah sakit—sudah berangkat ke Arafah guna menjalani ibadah wukuf.
Wukuf, atau sering disebut puncak haji, adalah rukun haji bagian dari ibadah Armuzna (Arafah, Muzdalifah, dan Mina). Tidak sah haji jemaah jika tidak hadir atau wukuf di Arafah.
Dalam arahan pada acara Konsolidasi Akbar Pra-Armuzna di Mekkah, Minggu (24/5/2026) malam, Amirul Hajj serta Menteri Haji dan Umrah Mochamad Irfan Yusuf mengingatkan posisi wukuf di Arafah sebagai puncak haji. Ia ingin semua layanan di Arafah disiapkan dengan disiplin.
”Tenda harus jelas. Nomor tenda harus terpasang. Nomor kloter harus terbaca. Kapasitas tenda harus sesuai. Daftar jemaah harus tersedia,” kata Irfan menambahkan.
(Fase ini) berlangsung malam hari, melibatkan pergerakan besar, dan menuntut pengendalian arus jemaah. Petugas harus mengawal pergerakan, titik turun, titik kumpul, jalur murur, dan keberangkatan menuju Mina.
”Petugas harus tahu siapa jemaahnya, di mana posisinya, dan bagaimana mengarahkannya. Jangan biarkan jemaah mencari-cari tenda dalam kondisi lelah, panas, dan padat,” ujarnya.
Gus Irfan—panggilan akrabnya—menyebut Armuzna sebagai ujian utama penyelenggaraan haji. Setelah fase Arafah, ia mengingatkan Muzdalifah sebagai fase yang sensitif.
”(Fase ini) berlangsung malam hari, melibatkan pergerakan besar, dan menuntut pengendalian arus jemaah. Petugas harus mengawal pergerakan, titik turun, titik kumpul, jalur murur, dan keberangkatan menuju Mina,” jelasnya.
Adapun mengenai Mina, Irfan mengingatkan risiko tinggi kesehatan. Hal ini karena jemaah bergerak dalam jarak tempuh yang cukup jauh, cuaca panas, dan kepadatan massa. Karena itu jemaah lansia, disabilitas, perempuan, dan jemaah berisiko tinggi mesti mendapat perhatian khusus.
Irfan mengatakan, 345 jemaah diputuskan tidak bisa diberangkatkan setelah masuk embarkasi karena tidak memenuhi syarat istitha'ah pada menit-menit akhir sebelum keberangkatan. Hal ini bagian dari pengetatan syarat istitha'ah, terutama dari segi kesehatan.
Jemaah haji Indonesia tahun ini berjumlah 204.725 orang. Hingga Senin (25/5/2026) siang, tercatat 86 orang jemaah wafat. Terhadap jemaah Indonesia yang sakit atau wafat sebelum Armuzna, para anggota PPIH akan membadalkan haji mereka. Safari wukuf
Pada musim tahun ini, terkait jemaah yang sakit, haji mereka—terutama ibadah wukuf—akan dibadalkan oleh petugas PPIH. Hal itu berbeda dengan tahun-tahun sebelumnya saat jemaah yang sakit diikutkan dalam safari wukuf. Program ini dilakukan dengan mengangkut jemaah sakit dengan ambulans dan singgah beberapa saat di Arafah.
Tahun ini, program safari wukuf diikuti 275 anggota jemaah lansia. Para jemaah tersebut dijemput dari hotel tempat tinggal di berbagai sektor untuk dikumpulkan di hotel transit, yakni Hotel Durat Al Mashaeir 2.
Di hotel transit tersebut, para jemaah beristirahat selama dua malam sebelum akhirnya diberangkatkan ke Arafah. Pada Selasa, hari wukuf, mereka dibawa menuju Arafah dengan 18 bus.
Deddi Effendi, salah satu pembimbing ibadah yang akan mendampingi para jemaah lansia dalam safari wukuf, mengungkapkan, para jemaah lansia itu tidak turun dari bus-bus tersebut.
Di dalam bus-bus itu, akan ada khutbah wukuf dan doa oleh petugas pembimbing ibadah. Seluruh rangkaian safari wukuf berlangsung sekitar 30 menit, lalu para jemaah kembali dibawa pulang ke hotel transit.
Safari wukuf merupakan salah satu dari tiga skema layanan haji bagi jemaah lansia, disabilitas, dan jamaah sakit. Dua skema lainnya adalah mabit murur—melintas tanpa turun dari kendaraan—di Muzdalifah dan tanazul atau jemaah kembali ke hotel setelah melempar jamrah aqabah pertama.





