MAKKAH, KOMPAS.TV - Di bawah bayang-bayang ketegangan geopolitik Timur Tengah dan kepungan cuaca panas yang menyengat, jutaan umat Muslim dari berbagai belahan dunia resmi memulai rangkaian ibadah haji tahunan di Arab Saudi pada Senin (25/5) waktu setempat.
Komandan Pasukan Paspor Haji Arab Saudi, Saleh bin Saad Al-Murabba, mengonfirmasi lebih dari 1,5 juta jemaah dari luar negeri telah memadati Tanah Suci.
Para jemaah terus mengalir masuk ke Arab Saudi di tengah situasi gencatan senjata yang rapuh terkait perang di Iran, yang memicu ketidakpastian serta kekhawatiran regional.
Baca Juga: Timwas DPR Apresiasi Penyelenggara Haji dari Keberangkatan Hingga Puncak Haji di Armuzna
Meski diliputi kecemasan global, kekhusyukan dan rasa haru tetap menyelimuti para jemaah dalam menjalani rukun Islam kelima ini.
Salah satunya diungkapkan oleh Samya Abdul Moneim, jemaah asal Mesir.
Ia mengaku sangat bersyukur bisa menginjakkan kaki di Makkah untuk menunaikan kewajiban sekali seumur hidup bagi yang mampu ini.
"Saya berada dalam kondisi penuh berkah dan kebahagiaan. Ini adalah perasaan yang benar-benar tidak bisa dilukiskan dengan kata-kata. Maksud saya, alhamdulillah, saya mendapatkan berkah ini," ujar Samya di Makkah dikutip dari Associated Press.
Memasuki hari pertama haji, sebagian besar jemaah mulai bergerak dari Makkah menuju kawasan tenda raksasa di Mina yang terletak di gurun dekat kota suci.
Sebelum menuju Mina, para jemaah terlebih dahulu melakukan tawaf, yakni berjalan memutari Kakbah di Masjidil Haram, di bawah sinar matahari yang sangat terik.
Bagi banyak jemaah, haji adalah momen spiritual mendalam untuk memohon ampunan Tuhan dan menghapus dosa masa lalu. Namun, perjalanan ini menuntut ketahanan fisik yang luar biasa.
"Ibadah haji ini, pada efeknya, adalah sebuah hard reset (memulai kembali dari awal) bagi saya," kata Youssef Chouhoud, seorang ilmuwan politik dari Christopher Newport University, Virginia, AS.
Baca Juga: Jelang Puncak Haji, Tim Patuna Travel Survei Lokasi Jamarat di Mina
"Saya berdoa agar bisa keluar dari perjalanan ini dengan tujuan hidup yang baru dan kedisiplinan untuk menjalaninya. Bagi banyak jemaah, ini adalah hal tersulit yang pernah mereka lakukan seumur hidup. Namun, tidak ada hal yang sangat berarti yang bisa didapatkan dengan mudah."
Untuk menghalau panas, para jemaah terlihat menggunakan payung sebagai pelindung dan membawa kipas angin portabel.
Penulis : Rizky L Pratama Editor : Tito-Dirhantoro
Sumber : Associated Press
- haji 2026
- ibadah haji
- jemaah haji 2026
- konflik timur tengah
- perang iran
- suhu ekstrem mekkah





